Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkuat strategi penanganan dampak El Nino 2026 melalui pendekatan From Early Warning to Early Action.
Pendekatan itu memastikan setiap informasi iklim tidak hanya menjadi peringatan dini, tetapi juga diterjemahkan menjadi langkah mitigasi yang dapat segera dilakukan oleh berbagai sektor.
Baca Juga: BMKG: El Nino Diprediksi hingga Oktober 2026, Berpotensi Berlanjut ke Awal 2027
Komitmen tersebut disampaikan Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, dalam Dialog Nasional bertajuk Memperkuat Respons Lintas Sektor dalam Menghadapi Dampak El Nino Kuat yang diselenggarakan Kementerian PPN/Bappenas di Jakarta, Selasa (4/8/2026).
Menurut Faisal, El Nino merupakan tantangan yang berdampak luas terhadap pembangunan nasional sehingga membutuhkan kesiapsiagaan lintas sektor yang didukung informasi iklim yang akurat, tepat waktu, dan dapat dipertanggungjawabkan.
“El Nino merupakan tantangan yang berdampak pada berbagai sektor pembangunan nasional. Membangun ketahanan menghadapi El Nino memerlukan kesiapsiagaan lintas sektor yang didukung oleh informasi iklim yang akurat, tepat waktu, dan dapat dipertanggungjawabkan,” ujar Faisal.
Informasi Iklim Tak Lagi Sekadar Peringatan
BMKG menjelaskan pendekatan From Early Warning to Early Action bertujuan memastikan setiap informasi iklim menjadi dasar pengambilan keputusan sebelum risiko berkembang menjadi bencana.
Melalui pendekatan tersebut, informasi meteorologi dan klimatologi tidak berhenti sebagai peringatan dini, melainkan diterjemahkan menjadi aksi nyata yang dapat dilakukan pemerintah, dunia usaha, maupun masyarakat.
“Informasi iklim harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata sehingga pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dapat melakukan langkah antisipatif sebelum dampak terjadi,” kata Faisal.
Baca Juga: BMKG Tetapkan Status Awas Kekeringan di 7 Provinsi, Ini Daftar Wilayahnya
Untuk mendukung strategi tersebut, BMKG terus memperkuat berbagai layanan, mulai dari prediksi El Nino-Southern Oscillation (ENSO), prediksi musim, prakiraan hujan, analisis dampak sektoral, sistem peringatan dini kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan, layanan informasi iklim berbasis sektor, hingga dukungan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Faisal mengatakan layanan informasi iklim kini dirancang semakin spesifik agar dapat dimanfaatkan oleh berbagai sektor sesuai kebutuhannya.
Layanan tersebut antara lain mendukung penyusunan kalender tanam adaptif di sektor pertanian, pengelolaan sumber daya air, mitigasi kebakaran hutan dan lahan, serta mendukung sektor kesehatan dan energi.
Menurutnya, informasi iklim tidak lagi hanya berfungsi sebagai referensi ilmiah, tetapi juga menjadi dasar penyusunan kebijakan yang berdampak langsung terhadap perlindungan masyarakat.
El Nino Berpotensi Memperparah Musim Kemarau
BMKG mencatat El Nino saat ini berada pada kategori kuat dan berpotensi meningkat menjadi sangat kuat.
Kondisi tersebut diperkirakan membuat musim kemarau tahun 2026 berlangsung lebih panjang dan lebih kering, terutama pada Agustus hingga September.
Baca Juga: BMKG Ingatkan Ancaman Karhutla di Sumsel, El Nino Kuat Diprediksi Meningkat ke Level Lebih Ekstrem
BMKG menegaskan El Nino bukanlah musim kemarau, melainkan fenomena iklim global yang dapat memperkuat dampak musim kemarau ketika keduanya terjadi secara bersamaan.
Akibatnya, risiko kekeringan, berkurangnya ketersediaan air, gangguan produksi pangan, kebakaran hutan dan lahan, hingga gangguan pada sektor energi, kesehatan, dan aktivitas ekonomi masyarakat berpotensi meningkat.
Sebagai langkah antisipasi, BMKG telah menyampaikan prediksi El Nino sejak Maret 2026 sehingga kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat memiliki waktu yang cukup untuk menyiapkan langkah mitigasi.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menegaskan perubahan iklim harus menjadi bagian dari perencanaan pembangunan nasional.
Menurutnya, respons terhadap dampak perubahan iklim tidak lagi dapat dilakukan secara reaktif, melainkan harus mengedepankan aksi dini yang terpadu, terukur, dan berbasis analisis iklim.
“Kita harus memastikan bahwa respons yang kita bangun tidak lagi bersifat reaktif, melainkan sebuah early action yang terpadu, terukur, dan berakar kuat pada analisis iklim,” ujar Rachmat.
Melalui kolaborasi lintas sektor tersebut, BMKG berharap informasi iklim dapat menjadi fondasi dalam memperkuat ketahanan pangan, sumber daya air, energi, serta mendukung keberlanjutan pembangunan nasional di tengah meningkatnya risiko akibat El Nino.

















