Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Umum

Sulit Dapat Kerja di Indonesia, Anak Muda Serbu Lowongan ke Jepang hingga Korea

×

Sulit Dapat Kerja di Indonesia, Anak Muda Serbu Lowongan ke Jepang hingga Korea

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

JAKARTA, KOMPAS.com – Sejumlah pencari kerja muda mengeluhkan sulitnya mendapat pekerjaan di Indonesia hingga akhirnya mengalihkan tujuannya untuk bekerja ke luar negeri di Jakarta Barat Job Fair, GOR Tanjung Duren, Grogol Petamburan, Rabu (24/6/2026).

Pemandangan ini terlihat dari tingginya antusiasme pencari kerja yang menyambangi stan yang menawarkan peluang kerja di luar negeri, salah satunya stan Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI).

Example 300x600

Setelah berkeliling membagikan map lamaran ke berbagai perusahaan lokal yang hadir, sebagian pelamar tampak serius berkonsultasi mengenai prosedur dan peluang kerja lintas negara.

Baca juga: Lelah dengan Orang Dalam, Pasangan Muda Ini Kompak Banting Setir demi Kerja di Jepang

Salah satunya Dafa (25), seorang pelamar kerja yang mengeluhkan sulitnya mencari pekerjaan yang layak di Indonesia hingga membulatkan tekadnya pergi ke Jepang.

“Kesulitan mencari pekerjaan di Indonesia sih, karena untuk apply internship (mendaftar magang) aja itu harus ada minimal pengalamannya. Entah karena emang udah banyak lulusan sarjana, jadinya kan makin ketat persaingannya,” kata Dafa saat berbincang dengan Kompas.com di lokasi, Rabu.

Cari Kerja Apa Saja Asalkan Halal
Artikel Kompas.id
Cari Kerja Apa Saja Asalkan Halal

Selain syarat yang menyulitkan, Dafa juga menyoroti suburnya praktik nepotisme dan minimnya standar upah yang layak.

“Banyak pekerjaan mungkin bahkan hampir semua pakainya relasi, orang dalam. Terus juga banyak tawaran gaji yang kurang manusiawi ya, bisa dibilang kasarnya kayak gitu,” ungkapnya.

Keresahan serupa dirasakan oleh Reza (28), pemuda yang sebelumnya memiliki pengalaman di sektor logistik dan ritel.

Ia merasa tuntutan perusahaan di Indonesia terus meningkat drastis, sehingga ia memilih untuk mencoba mencari peruntungan di luar negeri.

“Kita mengikuti zaman ya, kita udah beberapa kali nyoba kerja di Indonesia dan memang kita melihat peluang ternyata di luar negeri itu menarik dari segi lingkungan dan ekonomi. Jadi kita ingin challenge diri juga untuk ke depan dan cari peluang baru,” tutur Reza.

Senada, Rey (26) seorang pelamar yang baru saja berhenti dari pekerjaan lamanya di industri elektronik mencoba mencari kesempatan kerja di Jepang.

Menurut dia, kemampuan teknik pekerjaan kasar di luar negeri justru jauh lebih dihargai secara gaji.

“Pengin (ke Jepang) karena gajinya gede, enggak pakai Rupiah kan, lebih enak juga kayaknya di sana kerjanya kalau yang lapangan gini,” ucap Rey.

Ia tertarik melamar kerja ke Jepang karena melihat banyaknya konten yang berseliweran di media sosial dan tawaran dari sang Ibu.

Pasalnya, ada seorang saudaranya yang sudah berhasil berangkat bekerja ke Jepang, sehingga ia bermimpi untuk menyusulnya ke sana.

“Awalnya lihat dari konten-konten gitu kan banyak ya sekarang, seru. Terus Ibu saya nawarin mau enggak kayak abang sepupu saya, ke Jepang. Ya sudah mau, lagi belajar bahasa sekarang,” ucap dia.

Baca juga: Dari Depok, Daddy Tempuh 2 Jam Perjalanan dengan Kursi Roda demi Cari Kerja di Job Fair Jakbar

Jepang dan Korea jadi primadona

Tingginya minat pelamar muda ini dikonfirmasi oleh Pengantar Kerja Ahli Pertama di BP3MI DKI Jakarta, Fida Rani.

Selama job fair berlangsung, Fida menyebut stan BP3MI terus didatangi pencari kerja yang penasaran dengan peluang kerja di luar negeri secara aman.

“Kalau hari ini yang datang itu paling banyak memang yang interest ke Jepang, terus Korea juga. Kesempatannya memang cukup banyak di Jepang itu, terutama karena di Jepang ada fenomena aging population (penuaan penduduk) ya,” jelas Fida.

Fida memaparkan, penuaan populasi di Jepang membuat negara tersebut mengalami krisis tenaga kerja di usia produktif, sehingga membuka peluang bagi pekerja asing.

Terutama, pada bidang-bidang pekerjaan lapangan dan pelayanan.

“Banyak juga kesempatan untuk kerja sebagai perawat lansia atau di bidang sektor lain tuh kayak di Jepang tuh ada banyak sektor yang bisa diisi. Ada bidang perhotelan, care worker, ada building cleaning, ada pertanian (termasuk bertani dan peternakannya juga), ada lagi pengolahan makanan, macam-macam,” jelasnya.

Selain itu, Fida menjelaskan bahwa pemerintah juga memfasilitasi penyaluran tenaga kerja melalui program kerja sama antar-negara atau Government to Government, yang banyak diminati ke Korea Selatan dan Jepang.

“Jadi yang bisa kita istilahnya promosikan begitu ya, selain memang yang ditempatkan sama perusahaan swasta, kita ada program juga G-to-G. Pemerintah Indonesia bekerja sama dengan pemerintah negara penempatan. Itu ada ke Korea, ke Jepang, Jerman, ada USA, ada Kanada juga dengan beberapa sektor yang memang dibuka terbatas,” ujar Fida.

Untuk Korea Selatan, ia menyebutkan sektor unggulan yang sering dibuka adalah manufaktur dan perikanan, sementara Jepang masih didominasi oleh perawat dan tenaga kesehatan.

Baca juga: Jangan Sudah Capek-capek Ngelamar tapi Enggak Jelas Perjuangan Disabilitas Mencari Kerja

Butuh persiapan panjang

Meski terlihat menjanjikan, Fida menegaskan bahwa bekerja di luar negeri membutuhkan persiapan kompetensi yang sangat matang dan tidak bisa dilakukan secara instan.

“Kerja di mana pun sebenarnya basic-nya kompetensi. Jadi cari tahu dulu informasinya pekerjaan seperti apa yang dibutuhkan di luar negeri, kompetensi seperti apa yang dibutuhkan, itu yang coba dipenuhi,” ucap Fida.

Tantangan terbesar yang biasanya mengadang calon pekerja adalah penguasaan bahasa asing dan penyesuaian budaya.

Pelamar diwajibkan memiliki sertifikat bahasa yang memenuhi standar sebelum bisa mendaftar.

Fida juga mengingatkan para pencari kerja agar selalu melamar melalui jalur yang legal demi kepastian perlindungan hukum.

Ia pun mengakui salah satu faktor banyaknya peminat yang melamar ke Jepang adalah karena konten di media sosial.

Namun, ia menyoroti banyak konten yang hanya membagikan kisah manisnya tanpa membuka sisi lain sehingga membuat sejumlah orang kaget saat mengetahui budaya dan cara kerja di luar negeri.

“Pastiin juga niat, bulatkan tekad dan niatnya kerja ke luar negeri itu mau apa karena banyak tantangannya. Yang dilihat di media sosial itu yang bagus-bagusnya doang. Harus dipelajari budayanya dan kita mengikuti budaya yang berjalan di sana,” ujar Fida.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *