Madrid – Pemerintah Spanyol mulai memasang penghalang sepanjang 500 meter di perbatasan laut antara wilayah otonom Ceuta dan Maroko, menyusul gelombang besar migran yang menewaskan sedikitnya 67 orang.
Dikutip dari Al Jazeera, Minggu (2/8/2026), petugas Garda Sipil memulai pemasangan penghalang itu pada Sabtu pagi di kawasan pemecah ombak Tarajal, jalur pantai yang menjadi titik utama penyeberangan migran dalam beberapa hari terakhir. Pemerintah Spanyol menyebut lonjakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan negaranya.
Otoritas Spanyol menyatakan hampir seluruh dari sekitar 60.000 migran yang memasuki Ceuta sejak Kamis telah kembali ke Maroko secara sukarela. Di saat yang sama, sebanyak 22 negara anggota Uni Eropa mendesak digelarnya respons darurat atas krisis tersebut.
Jumlah korban jiwa akibat penyeberangan itu kini mencapai sedikitnya 67 orang. Namun, pejabat Spanyol memperingatkan kemungkinan masih ada korban lain di sisi perbatasan Maroko.
Sebagian korban dilaporkan tenggelam, sementara lainnya tewas terhimpit ketika berusaha memanjat pemecah ombak yang menjadi lokasi pagar perbatasan.
“Hampir semua orang yang memasuki Ceuta kini telah kembali ke Maroko,” tulis Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albares melalui akun X pada Jumat malam.
Uni Eropa Siapkan Respons Darurat
Gelombang masuknya migran ke Ceuta memicu kekhawatiran di berbagai negara Uni Eropa, terutama negara-negara anggota kawasan Schengen yang telah menghapus pemeriksaan perbatasan antarnegara.
Uni Eropa akan menggelar pertemuan virtual pada Selasa mendatang setelah 22 negara anggota mengirim surat terbuka yang meminta para menteri dalam negeri segera mengadakan pertemuan untuk menyepakati respons cepat dan terkoordinasi, sekaligus mencegah terulangnya penyeberangan massal yang tidak terkendali.
Irlandia, yang saat ini memegang presidensi bergilir Uni Eropa, menyatakan akan memimpin pertemuan Dewan Kehakiman dan Urusan Dalam Negeri Uni Eropa pada Selasa. Pertemuan tersebut akan dipimpin Menteri Kehakiman, Urusan Dalam Negeri, dan Migrasi Irlandia Jim O’Callaghan.
Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menegaskan perlindungan perbatasan luar Uni Eropa merupakan tanggung jawab bersama seluruh negara anggota.
“Melindungi perbatasan luar Uni bukan hanya kepentingan satu negara. Itu adalah tanggung jawab bersama Eropa,” tulis Meloni di X.
Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen menyebut gambar-gambar dari Ceuta sebagai sesuatu yang “tidak dapat diterima”. Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez mengatakan Prancis akan memperketat pengawasan di perbatasannya dengan Spanyol.
Spanyol Sebut Pelanggaran Kedaulatan
Kementerian Dalam Negeri Spanyol menyatakan sekitar 50.000 orang melintasi perbatasan dari Maroko menuju Ceuta sejak Kamis pagi. Hingga Jumat pukul 18.00 waktu setempat, sekitar 48.300 orang telah kembali ke Maroko.
Namun, Kepala Pemerintahan Ceuta Juan Jesus Vivas memperkirakan jumlah migran yang memasuki wilayah tersebut mencapai 60.000 orang dalam beberapa hari terakhir.
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez yang mengunjungi Ceuta pada Jumat menyebut gelombang penyeberangan tersebut sebagai “pelanggaran terhadap kedaulatan wilayah Spanyol.”
Vivas meminta pemerintah mempercepat pemulangan seluruh migran yang masih berada di Ceuta sekaligus memperkuat keamanan bagi warga setempat.
Menurut pernyataannya yang dikutip media Spanyol, kondisi di Ceuta belum sepenuhnya kembali normal. Ia mendesak pemerintah memberikan dukungan kepada aparat keamanan dan militer agar proses pemulangan migran dapat segera dituntaskan.
Vivas juga menilai diperlukan tambahan personel dan teknologi agar Pos Perbatasan Tarajal dapat menjalankan fungsinya sebagai gerbang perbatasan eksternal Uni Eropa di Afrika.
Di sisi lain, polisi antihuru-hara Maroko menggunakan gas air mata dan meriam air pada Jumat malam untuk membubarkan kerumunan di dekat pagar perbatasan serta memaksa mereka mundur.
“Saya sendiri sebenarnya tidak tahu kenapa datang ke sini, dan sekarang saya pulang lagi,” kata seorang pemuda asal Tangier kepada Reuters.
“Saya belum makan sejak makan siang kemarin, padahal saya membawa uang. Apa yang kami lakukan ini tidak baik dan juga tidak menyenangkan,” ujarnya.
Ceuta bersama Melilla merupakan dua wilayah otonom Spanyol di Afrika Utara yang menjadi satu-satunya perbatasan darat Uni Eropa dengan benua Afrika. Kedua wilayah tersebut kerap mengalami lonjakan upaya penyeberangan dari para migran yang ingin mencapai Eropa.
Untuk mencapai Ceuta, para migran biasanya berenang dari Kota Fnideq di Maroko sejauh sekitar lima kilometer menuju wilayah Spanyol. Sebagian lainnya mencoba menyeberang dari Kota Belyounech yang memiliki jarak lebih dekat.

















