KOMPAS.com – Sebagian area di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta kini tampak berbeda setelah dipasangi pagar dengan ukuran cukup tinggi. Mal yang dimaksud adalah Mal Kota Kasablanka (Kokas) di Jakarta Selatan.
Pagar berwarna abu-abu dengan tinggi sekitar 2,5 meter itu berdiri di area pintu masuk utama kendaraan dari Jalan Raya Casablanca.
Meski demikian, pemasangan pagar tidak dilakukan di seluruh bagian depan mal. Area lainnya tetap terbuka, sementara beberapa titik hanya menggunakan pagar kaca berdesain estetis dengan tinggi kurang dari 1 meter.
Keberadaan pagar di mal yang dikelola Pakuwon Group tersebut sejatinya tidak terlalu mengejutkan. Sebelumnya, sejumlah pusat perbelanjaan milik grup yang sama di Surabaya juga telah lebih dulu dipasangi pagar serupa.
Beberapa mal yang telah menerapkan pemasangan pagar antara lain Pakuwon Mall Surabaya, Royal Plaza, Tunjungan Plaza, dan Pakuwon City Mall.
Sebagai informasi, baik Mal Kota Kasablanka di Jakarta maupun sejumlah mal Pakuwon di Surabaya tersebut berada di bawah pengelolaan PT Pakuwon Jati Tbk (PWON).

Penjelasan Pakuwon Group
Direktur Marketing Pakuwon Group dan Direktur PT Pakuwon Jati Tbk, Sutandi Purnomosidi, menjelaskan aktivitas pemagaran pusat belanja dilakukan demi keamanan, terutama demi keamanan pengunjung.
Baca juga: Sosok Pengusaha Pemilik Mal-mal yang Dipagari di Surabaya dan Jakarta
“Sebenarnya gini, awalnya kita berpikir itu (mal dipagari) karena apa? Itu kan Pakuwon Mall itu terbukanya kan lebar sekali. Satu setengah kilometer itu buka,” ujar Sutandi dikutip dari video yang diunggah akun Instagram miliknya, Jumat (31/7/2026).
KOMPAS.com telah meminta izin Sutandi melalui manajemen perusahaan untuk mengutip pernyataannya tersebut.
Terlebih, lanjut Sutandi, beberapa pusat perbelanjaan yang dikelola Pakuwon berbatasan langsung dengan jalan raya. Hal ini dinilai rawan kecelakaan lalu lintas.
“Nah, sekarang kalau semua orang nyebrang, masuk sembarangan, ini kan bahaya buat mereka sendiri, penyebrang. Awalnya (ide mal dipagari) di sana,” ungkap dia.
Sutandi membantah narasi yang beredar bahwa pemagaran dilakukan guna mengantisipasi adanya hal-hal yang tidak diinginkan di masa mendatang.
“Terus sebetulnya ada beberapa hal yang saya mau highlight. Satu, yang jelas Pakuwon itu bukan peramal. Kita nggak tau mau terjadi apa. Ekonomi baik-baik saja. Baik-baik saja. Kita mau takut apa? Kita memang hidup di Indonesia,” ujar Sutandi.
Pemagaran Mal Sudah Sejak Lama
Sutandi juga menuturkan, bahwa pemagaran mal-mal milik perseroan sebenarnya sudah lama dilakukan. Sebagian pemagaran dilakukan untuk mengganti struktur pagar lama yang sudah mulai rusak.
Baca juga: Siapa Pemilik Taman Buah Mekarsari Bogor?
“Yang kedua ya, Mal Pakuwon yang dipagar itu sudah banyak. Contohnya Royal Plaza pagarnya itu dari 2006, sudah 20 tahun Royal Plaza berdiri,” ucap Sutandi.
“Nah pagarnya itu cuma pakai besi holo (besi hollow) hitam. Itu kalau 20 tahun karena hujan karena panas, karat dan kropos, (sudah) 20 tahun bisa nih (kita ganti pagarnya),” tambahnya.
Sutandi juga menyebut mal yang dikelola Grup Pakuwon yang ada di Jakarta juga sebenarnya sudah dipasang pagar sejak lama. Pemagaran mal di Jakarta bahkan sudah lebih dulu dibandingkan pusat perbelanjaan yang ada di Surabaya.
“Nah terus sebelumnya kita juga blok M Plaza di Jakarta, itu sudah pageran keliling. Justru prototipnya pager Pakuwon Mall itu nyontoh Blok M Plaza. Nah ini yang menjadi identitas kita semua sekarang,” ungkap dia.
Disampaikannya, pagar yang digunakan di mal-mal Pakuwon tak melulu menggunakan besi. Beberapa bagian dipagari kaca guna menyesuaikan dengan esetika.
“Contoh lagi TP (Tunjangan Plaza), TP4, TP5 itu sudah ada pagar. Pagar kaca. Lah bahaya loh, rawan pecah itu. Ada keragaman kaca sekarang. PCM ini (jenis material kaca Phase Change Material),” ungkap Sutandi.

















