JAKARTA — Sutrimo, laki-laki yang ditemukan sekarat di depan Klinik Mordent di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan (Jaksel), Kamis (23/7/2026) malam pekan lalu, benar merupakan pembantu rumah tangga (ART) dari eks Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah.
Sumber Republika mengatakan, Sutrimo mengalami sakit dan sempat dibawa ke klinik dan selanjutnya tak tertolong saat tiba di Rumah Sakit (RS) Muhammadiyah, Taman Puring. “Iya. Penjaga rumah, atau CS (cleaning service),” begitu kata sumber tersebut, Senin (27/7/2026). Kabar tentang kematian Sutrimo beredar di kalangan media sejak Jumat (24/7/2026) kemarin.
Kabar tersebut berawal dari kiriman lapga yang diterima kalangan wartawan. Dalam lapga tersebut dikatakan pada Kamis (23/7/2026) telah meninggal dunia atas nama Sutrimo yang disebut sebagai kepala rumah tangga (karumga) eks Jampidsus Febrie Adriansyah di RS Muhammadiyah, Taman Puring, Jalan Gandaria-1 Nomor 20 RT.1/RW.2, Kramat Pela, Kebayoran Baru, Kota Jakarta Selatan (Jaksel).
Dalam lapga tersebut juga diceritakan kronologi Sutrimo yang sudah tak bernyawa berdasarkan pemeriksaan Dokter Indri Kartika di RS Muhammadiyah Taman Puring. Dalam kronologi itu dikatakan pada Kamis (23/7/206) sekitar Pukul 06.37 WIB, Sutrimo sempat menelefon kerabatnya dan mengeluhkan rasa sakit. Kerabat tersebut menyusul Sutrimo dan ditemukan Sutrimo sudah tak sadarkan diri. “Kondsisi korban (Sutrimo) mengeluarkan busa dari mulut dan hidung,” begitu dalam laporan tersebut.
Lapga tersebut juga menyampaikan tentang rekam medis yang dikatakan Sutrimo sudah dalam keadaan meninggal dunia saat tiba di RS Muhammadiyah Taman Puring. “Korban ada riwayat amputasi di jempol kaki sebelah kiri,” begitu dalam lapga tersebut.
Dikatakan pada saat jenazah Sutrimo tiba di RS Muhammadiyah Taman Puring, sudah menggunakan brankar atau tempat tidur dorong dengan keadaan seluruh badannya yang tertutup kain. “Penanggung jawab korban di RS Muhammadiyah Taman Puring, atas nama Febrio,” begitu lapga tersebut.
Juga disebutkan, ambulans dengan nomor polisi B 1418 KIX yang mengantarkan jenazah Sutrimo dari Klinik Mordent ke RS Muhammadiyah Taman Puring. “Ambulan dipesan seara online,” begitu dikatakan dalam lapga tersebut. Namun dikatakan orang yang memesan ambulan tersebut tak diketahui. “Ambulan lalu menjemput korban (Sutrimo) di depan halaman Klinik Mordent dengan kondisi tergeletak mulut dan hidung sudah mengeluarkan busa dengan kondisi sudah tidak bergerak,” kata lapga.
Menurut keterangan dari penjaga keamanan di RS Muhammadiyah Taman Puring yang dicatatkan dalam lapga tersebut dikatakan jenazah Sutrimo saat tiba di rumah sakit itu diantar oleh empat orang. Namun empat orang tersebut tak dikenali.
Akan tetapi, dikatakan sebagai penanggung jawab jasad Sutrimo atas nama Febrio. Masih mengacu lapga tersebut, juga dikatakan pengakuan dari seorang bernama Pak Agus yang sudah lima tahun bekerja di Klinik Mordent. Namun Pak Agus, juga dikatakan sudah berhenti bekerja pada klinik tersebut sejak 2024.
“Dari keterangan Pak Agus bahwa benar Sutrimo pernah bekerja di Klinik Mordent selama dua tahun,” tulis lapga itu. Tak ada penjelasan pada tahun kapan Sutrimo bekerja di klinik itu. Akan tetapi lapga yang memuat pengakuan Pak Agus itu mengatakan, Sutrimo saban harinya juga tinggal di Klinik Mordent. Namun begitu, Klinik Mordent sendiri dalam pengakuan Pak Agus sudah tak lagi operasional sejak lima tahun lalu. “Menurut Pak Agus, Klinik Mordent adalah milik Febrie Adriansyah eks Jampidsus,” begitu berdasarkan lapga itu.
Halaman 2 / 2
Dalam lapga itu juga menyebutkan informasi dari pihak keluarga yang mengatakan, Sutrimo masih berkomunikasi pada Kamis (23/7/2026) subuh. “Almarhum Sutrimo masih telefonan dengan adik iparnya. Kemudian pukul 09.00 WIB dikabarkan meninggal dunia,” begitu dalam lapga tersebut.
Pada Kamis malam sekitar Pukul 23.00 WIB, ambulan dari Jakarta tiba di rumah orang tua Sutrimo yang tak dijelaskan berada di daerah mana. “Di dalam ambulan ada tiga orang, satu sopir, dua lagi dengan perawakan seperti tentara,” begitu menurut lapga tersebut.
“Dari hasil profiling salah satu pengantar jenazah atas nama Achmad M,” begitu di dalam lapga itu. Kemudian jenazah Sutrimo diserahkan kepada pihak keluarga dan disaksikan oleh kepala desa. Dalam lapga itu juga terdapat pengakuan dari adik ipar almarhum tentang keluh kesahnya selama ini di Jakarta.
“Curhatan almarhum terakhir kepada sdr Soim yaitu pernah dijanjikan mobil. tapi sampai sekarang mobil tidak pernah sampai. Dan almarhum Sutrimo pernah ribut dengan kakak ipar Bapak Febrie Adriansyah (eks Jampidsus) karena masalah proyek batubara di Jambi, dan almarhum selalu ketakutan. Sampai dengan almarhum meninggal, tidak pernah aku dengan kakak ipar Bapak Febrie Adriansyah,” begitu dalam lapga itu.
Pada saat jasad Sutrimo tiba di rumah orang tuanya, keadaan jenazah sudah dalam kondisi dimandikan dan dikafani oleh pihak RS. “Dan dari pihak keluarga tidak ada yang membuka. Pihak keluarga langsung menyalatkan dan dimakamkan hanya kelihatan muka saja,” begitu tulis lapga tersebut. Dan untuk barang-barang pribadi milik Sutrimo, seperti HP, ATM, dompet, serta pakaian almarhum belum ada penyerahan kepada pihak keluarga.
Pada Senin (27/7/2026) siang, tim kepolisian gabungan dari Polda Metro Jaya dan Polres Metro Jakarta Selatan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di Klinik Mordent. Kepolisian memberikan tanda garis kuning pada lokasi. Dari pantauan di lapangan, usai melakukan olah TKP, kepolisian membawa sedikitnya tiga bungkus kertas berwarna cokelat yang diyakini sebagai barang bukti. Kasubnit Resmob Polres Metro Jakarta Selatan Ipda Robby Pasha mengatakan, barang bukti hasil olah TKP itu akan diperiksa di Puslabfor Polri.
Kemarin Kabid Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar (Kombes) Budi Hermanto mengatakan, tewasnya Sutrimo tetap dalam penyelidikan intensif di kepolisian. “Penyelidikan akan dilakukan secara profesional, hati-hati, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam memperoleh fakta secara utuh,” kata Budi.
Namun Budi menolak semua spekulasi yang sudah beredar luas di publik tentang Sutrimo tewas karena diracun. “Karena prosesnya masih berjalan, kami belum dapat menyimpulkan apa penyebab kematian almarhum,” kata Budi.
Budi pun meminta agar media menyampaikan informasi yang terverifikasi tentang latar belakang, pun penyebab kematian Sutrimo. “Perkembangan hasil penyelidikan akan kami sampaikan resmi lebih lanjut secara proporsional setelah tim memperoleh fakta-fakta yang dapat dipertanggung jawabkan,” ujar Budi.

















