Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Umum

PULAU SAMPAH DI UTARA JAKARTA: Ketika Laut Menyimpan Jejak Kelalaian Peradaban

×

PULAU SAMPAH DI UTARA JAKARTA: Ketika Laut Menyimpan Jejak Kelalaian Peradaban

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh : Arif Sumantri*)

 

Example 300x600

Di pesisir utara Jakarta, laut sedang menulis sebuah catatan peradaban yang tak terbantahkan. Catatan itu tidak ditulis dengan tinta biru atau dawat emas, melainkan dengan jutaan potongan plastik yang telah terpecah menjadi partikel-partikel tak kasat mata, kayu lapuk berlumur hitam, sisa kemasan makanan yang pudar tulisannya, popok sekali pakai yang tak pernah kembali ke bentuk asalnya, dan beragam limbah perkotaan yang perlahan dalam hitungan bulan yang berganti tahun  berkumpul membentuk hamparan yang oleh masyarakat pesisir disebut dengan getir sebagai pulau sampah.

Pemandangan itu bukan sekadar masalah estetika lingkungan. Ia adalah cermin retak dari hubungan yang sedang renggang antara manusia dan alam, sebuah kontrak ekologis yang dilanggar secara sistematis, generasi demi generasi. Di tempat yang dahulu menjadi ruang perjumpaan nelayan Betawi dengan angin laut yang berbau garam dan harapan, tempat burung-burung pesisir bangau bluwok (Mycteria cinerea), blekok sawah (Ardeola speciosa), dan pecuk padi (Phalacrocorax sulcirostris) mencari makan di antara akar mangrove yang menjulur seperti jari-jari bumi, kini terbentang gugusan sampah yang mengambang seperti monumen sunyi dari kegagalan kolektif tata kelola lingkungan dan kesehatan publik.

Fenomena pulau sampah di Teluk Jakarta merupakan irisan destruktif dari empat komponen ekosistem yang seharusnya bekerja sinergis: air, udara, tanah dan sedimen serta vektor biologis. Ketika satu komponen hancur, yang lain ikut runtuh dalam kaskade kerusakan sebagai cascade ecosystem failure. Tiga belas sungai yang melintasi Jabodetabek ; Ciliwung, Pesanggrahan, Angke, Sunter, Buaran, Cakung, menjadi jalur transportasi limbah cair dan padat menuju Teluk Jakarta. Data KLHK (2023) mencatat bahwa BOD₅ Sungai Ciliwung di Manggarai mencapai 89–127 mg/L – 30 hingga 42 kali melampaui baku mutu kelas II sebesar 3 mg/L. Teluk Jakarta telah memiliki setidaknya tiga dead zone wilayah laut yang secara biologis mati karena oksigen terlarut habis dikonsumsi oleh bakteri pengurai sampah organik.

Proses dekomposisi anaerob menghasilkan gas hidrogen sulfida (H₂S) dan metana (CH₄) yang tidak hanya berbahaya bagi biota air, tetapi juga terlepas ke atmosfer sebagai gas rumah kaca. Konsentrasi mikroplastik air mencapai 4,8 partikel per liter (BRIN, 2023), angka yang belum memiliki regulasi di Indonesia, namun telah diklasifikasikan sebagai darurat saintifik oleh WHO. Nanopartikel plastik berdiameter di bawah 1 mikrometer terbukti mampu menembus blood-brain barrier, membuka pertanyaan serius tentang dampak neurologis jangka panjang bagi konsumen ikan laut dari Teluk Jakarta.

Data Dinas Kesehatan DKI Jakarta (2024) mencatat prevalensi ISPA di kawasan pesisir utara Jakarta ; Penjaringan, Muara Baru, Muara Angke  mencapai 34% pada populasi dalam radius 500 meter dari titik akumulasi sampah terbesar. Angka ini 54,5% lebih tinggi dibanding rata-rata kota. Anak-anak di kawasan ini mengalami stunting paru: kapasitas vital paru yang secara permanen lebih rendah karena paparan PM2.5 pada periode 1.000 hari pertama kehidupan  masa paling kritis pembentukan sistem pernapasan.

 

 

Sedimen muara adalah memori pencemaran yang jauh lebih panjang dari air. Sementara polutan dalam air dapat terdilusi oleh pasang surut, polutan dalam sedimen terakumulasi selama puluhan tahun dalam lapisan-lapisan sebagai stratigraf pencemaran, rekaman kronologis kejahatan ekologis yang dapat dibaca seperti buku teks. Data LIPI/BRIN (2023) mencatat konsentrasi timbal (Pb) di sedimen Muara Angke mencapai 187 mg/kg  lebih dari dua kali ambang batas IADC/CEDA sebesar 85 mg/kg. Logam berat ini tidak pernah benar-benar hilang; ia hanya berpindah antara sedimen, biota, dan rantai makanan. Ketika kepiting bakau (Scylla serrata) menggali substrat dasar untuk berlindung, ia menelan sedimen yang mengandung campuran timbal, kadmium, dan senyawa organoklor yang telah tersimpan selama bertahun-tahun.

Sampah yang terakumulasi di kawasan pesisir adalah habitat ideal bagi vektor penyakit. Lalat rumah (Musca domestica) berkembang biak pada sampah organik yang membusuk dengan siklus 8–12 hari per generasi; tikus (Rattus norvegicus dan R. tanezumi) bersarang di tumpukan sampah dan menjadi reservoir Leptospira interrogans; dan nyamuk Aedes aegypti menemukan tempat perindukan sempurna di wadah-wadah bekas dan genangan air di atas tumpukan sampah. Angka kejadian leptospirosis meningkat 187,5% dalam satu dekade: dari 8 kasus per 100.000 jiwa pada 2014 menjadi 23 kasus pada 2024. Setiap banjir rob frekuensinya meningkat akibat perubahan iklim menjadi event transmisi massal air banjir membawa serta urin tikus yang mengandung bakteri Leptospira ke permukiman pesisir, memasuki tubuh manusia melalui luka kecil di kulit atau selaput lendir yang terendam.

Indonesia telah mendeklarasikan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) melalui Permenkes No. 3 Tahun 2014 dengan lima pilar: (1) Stop Buang Air Besar Sembarangan (Stop BABS/ODF), (2) Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), (3) Pengelolaan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga (PAMM-RT), (4) Pengamanan Sampah Rumah Tangga, dan (5) Pengamanan Limbah Cair Rumah Tangga. Namun di kawasan pesisir utara Jakarta, implementasi STBM masih menghadapi kesenjangan struktural yang menyedihkan. STBM sesungguhnya bukan hanya tentang jamban dan sabun. Dalam kerangka ekologi kesehatan yang lebih luas, STBM adalah upaya memutus rantai kontaminasi fecal-oral yang dalam kondisi kawasan pesisir tercemar memiliki multiple exposure pathways: dari air minum yang terkontaminasi, dari ikan yang mengandung patogen, dari lalat yang membawa E.coli dari tumpukan sampah ke makanan, dan dari banjir rob yang membawa limbah ke dalam rumah.

Di kawasan pesisir utara Jakarta, masyarakat menghadapi krisis air minum ganda. Pertama, intrusi air laut akibat penurunan tanah (land subsidence) yang di Jakarta Utara mencapai 7,5–12 cm per tahun menyebabkan sumur-sumur dangkal yang masih digunakan oleh 31% rumah tangga pesisir terasa asin dan terkontaminasi bakteri coliform. Kedua, kontaminasi dari aktivitas sampah di permukaan tanah yang merembes ke air tanah dangkal melalui proses perkolasi. Data BPLHD DKI (2024) mencatat coliform total air sumur dangkal di kawasan Muara Angke mencapai 2.400–8.700 MPN/100 mL, 2,4 hingga 8,7 kali batas aman untuk air minum. Ironisnya, masyarakat yang tidak mampu membeli air PAM atau air kemasan terpaksa menggunakan air sumur ini untuk memasak dan minum, sebuah ketidakadilan struktural yang secara langsung menerjemahkan kemiskinan menjadi penyakit.

Fenomena pulau sampah tidak dapat dipisahkan dari dinamika perubahan iklim yang sedang berlangsung. Ini bukan hubungan searah ini adalah destructive feedback loop: sampah memperparah perubahan iklim, dan perubahan iklim memperburuk dampak sampah dalam siklus yang semakin mengencang. Pada Juni 2024, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat suhu permukaan laut Teluk Jakarta mencapai 32,8°C — 2,3°C di atas rata-rata historis 1990–2020. Peningkatan suhu ini bukan angka abstrak; ia memiliki konsekuensi kesehatan lingkungan yang sangat konkret dan segera: Ironinya memiliki presisi yang menyakitkan: sampah yang kita buang ke laut membunuh mangrove yang melindungi kita dari banjir rob akibat perubahan iklim yang juga dipicu oleh gaya hidup konsumtif yang menghasilkan sampah tersebut. Ini bukan lingkaran setan biasa, ini adalah umpan balik destruktif (destructive feedback loop) sebagai vicious cycle: setiap elemen memperburuk elemen lainnya dalam spiral yang semakin dalam.

Di atas semua pendekatan teknis dan kebijakan, diperlukan sesuatu yang sering terlupakan dalam diskusi para perencana kota dan ahli lingkungan: kesalehan lingkungan. Bukan dalam pengertian klise yang berhenti pada ajakan normatif di mimbar-mimbar khutbah, melainkan dalam pengertian transformatif yang mengubah cara pandang mendasar tentang hubungan antara manusia dan alam.

Laut tidak pernah meminta banyak dari manusia. Ia hanya meminta agar tidak dijadikan tempat terakhir bagi segala yang tidak ingin dilihat. Sungai tidak pernah menolak pembangunan,  ia hanya berharap tetap diberi ruang untuk bernapas, tetap dihormati sebagai sumber kehidupan yang mendahului semua dinding beton dan jembatan layang yang manusia banggakan. Mangrove tidak pernah menuntut penghargaan atas jasa-jasanya yang tidak pernah ditagihkan. Ia hanya ingin tetap hidup agar akar-akarnya tetap dapat menahan lumpur dari erosi, agar daunnya tetap dapat menyerap karbon dari udara yang semakin panas, agar ranting-rantingnya tetap dapat menjadi tempat bersarang bagi burung-burung yang mewarisi langit pesisir ini jauh sebelum manusia membangun gedung-gedung pencakar langit di tepinya.

Dan jika suatu hari Teluk Jakarta kembali bersih bukan karena satu proyek mercusuar, melainkan karena satu perubahan kesadaran kolektif yang mengalir dari setiap rumah tangga, dari setiap kebijakan, dari setiap kurikulum sekolah, dari setiap khotbah ditempat ibadah, dari setiap keputusan konsumsi yang diambil dengan mempertimbangkan dampaknya bagi mereka yang belum lahir, maka yang pulih bukan hanya mangrove dan kerang serta udang dan nelayan. Tetapi juga yang  pulih adalah harkat manusia sebagai makhluk yang diberi akal untuk menjaga, bukan untuk merusak.

Karena warisan terbaik yang dapat kita tinggalkan kepada anak cucu bukanlah kota dengan pencakar langit yang paling tinggi atau jalan tol yang paling panjang. Melainkan satu hal yang tidak ternilai harganya namun telah begitu mudah kita abaikan: bumi yang masih layak dicintai, dan laut yang masih layak untuk hidup di dalamnya.

 

*) Ketua Umum PP HAKLI (Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia)/Guru Besar Kesehatan Lingkungan//Ketua Komite Ahli PMKL (penanganan masalah Kesehatan lingkungan) Kementerian Kesehatan.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *