Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai solusi utama perbaikan gizi bangsa, kini justru menjadi sorotan tajam: anggaran ratusan triliun rupiah digelontorkan, namun data lapangan menunjukkan ribuan anak justru jatuh sakit, keracunan, dan dirawat di rumah sakit akibat makanan dari program ini .
Berdasarkan data resmi pemantauan independen Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), dalam periode Januari 2025 hingga Mei 2026, tercatat 37.270 anak dan penerima manfaat mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan MBG. Angka ini tersebar di 33 provinsi, 127 kabupaten/kota, dengan 177 kejadian luar biasa keracunan massal yang dilaporkan dinas kesehatan setempat .
Ratusan Triliun Dihamburkan
Sejak diluncurkan Januari 2025, MBG menjadi program termahal dalam sejarah APBN Indonesia:
* 2025: alokasi Rp 71 triliun, realisasi penyerapan mencapai Rp 51,5 triliun
* 2026: anggaran melonjak drastis menjadi Rp 335 triliun — setara Rp 1,2 triliun per hari atau Rp 25 triliun setiap bulan
* Total dana yang sudah dikeluarkan dan disiapkan: lebih dari Rp 400 triliun dalam kurun 1,5 tahun berjalan Dana raksasa itu dialokasikan untuk menyuplai makanan bagi 82,9 juta orang, namun fakta di lapangan sangat kontras.
Biaya per porsi dipangkas dari rencana awal Rp15.000 menjadi hanya Rp10.000, membuat standar gizi dan keamanan pangan dikorbankan demi kuantitas .
Ribuan Anak Sakit, Dapur Tak Bersertifikat
Data kasus keracunan terus melonjak:
* 2025: 28.103 korban tercatat, kasus terbesar di Jawa Tengah, Banten, Kalimantan Barat, dan Sumatera Selatan *
Januari–Mei 2026 saja: 9.167 korban baru, lonjakan 30% dibanding periode sama tahun lalu
* Kasus terparah: Ketapang (Kalbar) 370 orang keracunan sekaligus, Nunukan 145 anak, Palangka Raya 127 siswa, dan ratusan kasus lain yang membanjiri puskesmas dan RSUD
Penyebab utama terbongkar: dari total 26.097 dapur pelayanan (SPPG) yang beroperasi, hanya 20% yang memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi. Sisanya memasak tanpa izin, tanpa standar kebersihan, tanpa pengawasan, makanan disimpan berjam-jam di suhu ruang melebihi batas aman, dan sering kali bahan tidak segar atau tidak matang sempurna .
Banyak orang tua kini menolak anaknya makan dari MBG. “Duit ratusan triliun habis, tapi anak kami jadi korban, masuk rumah sakit, biaya pengobatan malah kami yang tanggung. Apa gunanya program ini kalau bawa penyakit?” ujar salah satu orang tua korban di Jawa Tengah.
Audit: Anggaran Bocor, Tak Ada Jaminan Gizi
Hasil audit sementara Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan pemantau independen menunjukkan:
* Dana besar terpakai untuk biaya operasional, gaji, dan logistik, bukan untuk kualitas bahan makanan
* Tidak ada jaminan standar gizi: banyak menu hanya berisi karbohidrat, minim protein dan vitamin, jauh dari janji awal
* Rantai pasok tidak transparan, indikasi penyimpangan dan pemanfaatan anggaran marak dilaporkan
* Belum ada evaluasi nyata penurunan angka stunting, justru kasus gizi buruk masih ada dan keracunan meluas
Kritikus: Investasi Gagal, Pemborosan Negara
Pengamat kebijakan publik menilai MBG kini menjadi contoh buruk program besar tapi gagal kelola. “Ratusan triliun uang rakyat habis, bukan untuk kesehatan, tapi untuk kasus sakit. Ini bukan investasi manusia, tapi pemborosan besar-besaran tanpa tanggung jawab,” kata analis kebijakan.
Pemerintah berdalih kasus keracunan hanya sebagian kecil, namun data membuktikan angka korban terus bertambah, sementara anggaran terus dikucurkan tanpa perbaikan mendasar. Hingga kini, belum ada pertanggungjawaban hukum atau sanksi tegas bagi pihak yang lalai menyebabkan ribuan anak sakit.
Sampai saat ini, MBG tetap berjalan penuh dengan anggaran raksasa, sementara ribuan anak masih berisiko menyantap makanan yang belum terjamin aman dan bergizi.

















