Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Umum

Warning! Sungai Sa’dan di Rantepao Kabupaten Toraja Utara, Dibanjiri Ikan Sapu-sapu

×

Warning! Sungai Sa’dan di Rantepao Kabupaten Toraja Utara, Dibanjiri Ikan Sapu-sapu

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Sebuah video yang memperlihatkan tangkapan ikan sapu-sapu di Sungai Sa’dan viral di media sosial. Video tersebut diunggah oleh tokoh lingkungan hidup peraih penghargaan Kalpataru 2022, Pdt. Rasely Sinampe, Senin (4/5/2026) malam.

Dalam video itu, Rasely menyebut telah menangkap sejumlah ikan sapu-sapu dari Sungai Sa’dan. Ia juga mengingatkan agar perkembangan ikan predator tersebut segera diantisipasi karena berpotensi mengancam keberadaan ikan lokal. Ia pun meminta Pemerintah Kabupaten Toraja Utara untuk mengambil langkah sebelum populasinya semakin meningkat.

Example 300x600

Menanggapi hal itu, Bupati Toraja Utara, Frederik Victor Palimbong, mengatakan hingga saat ini belum ada temuan resmi terkait keberadaan ikan sapu-sapu di Sungai Sa’dan.

 

 

 

“Mengenai predator ikan sapu-sapu di Sungai Sa’dan, sampai saat ini belum ditemukan,” ujar Frederik, yang akrab disapa Dedy, saat dikonfirmasi, Selasa (5/5/2026).

Meski demikian, pemerintah daerah mulai membahas langkah antisipatif, termasuk kemungkinan pengendalian melalui penangkapan massal guna mengantisipasi jika terjadi lonjakan populasi.

“Kami sementara membahas kemungkinan langkah pengendalian melalui penangkapan massal, karena belum ada informasi pasti terkait keberadaan ikan sapu-sapu di Sungai Sa’dan,” jelasnya.

Terpisah, praktisi kebencanaan sekaligus Ketua Satuan Gugus Khusus Kebencanaan, Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (PP HAKLI), Johny Sumbung, menilai keberadaan ikan sapu-sapu di sungai perlu penanganan serius. Menurutnya, ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) bukanlah penyebab kerusakan, melainkan cermin dari perubahan daya dukung ekosistem. Ia memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap perairan dengan kadar oksigen rendah dan kandungan bahan organik yang tinggi, kondisi yang justru menjadi penanda menurunnya kualitas lingkungan. Spesies ini tergolong invasif, memiliki kemampuan adaptasi yang sangat tinggi terhadap kondisi lingkungan yang terdegradasi. Berbagai kajian menunjukkan bahwa ikan ini mampu bertahan dalam kadar oksigen rendah (<3 mg/L), Sedimentasi tinggi dan Fluktuasi kualitas air ekstrem.

Ketika limbah mengalir tanpa pengolahan, ketika erosi mempercepat sedimentasi, dan ketika ruang hijau beralih menjadi beton tanpa kendali, maka ekosistem sungai mengalami seleksi yang sunyi. Spesies asli yang sensitif menghilang, sementara organisme yang toleran mengambil alih ruang ekologis. Dalam bahasa ekologi, ini adalah proses adaptasi; dalam bahasa nurani, ini adalah peringatan.

Berbagai kajian menunjukkan bahwa kualitas air sungai di banyak wilayah perkotaan Indonesia berada dalam kondisi tercemar, ditandai dengan nilai BOD dan COD yang melampaui baku mutu lingkungan. Kondisi ini tidak hanya mengancam keberlanjutan biodiversitas, tetapi juga berimplikasi langsung pada kesehatan masyarakat. Air yang tercemar berpotensi menjadi media transmisi penyakit berbasis lingkungan seperti diare, infeksi kulit, hingga gangguan kesehatan lainnya. Sedimen yang menumpuk dapat menjadi habitat bagi vektor penyakit. Dengan demikian, kelimpahan ikan sapu-sapu tidak berdiri sendiri, tetapi terkait erat dengan persoalan sanitasi, perilaku masyarakat, dan tata kelola lingkungan yang belum optimal.

Di sinilah pentingnya menghadirkan pendekatan One Health secara nyata. Bahwa solusi tidak dapat berdiri pada satu sektor saja. Pengendalian populasi ikan sapu-sapu melalui pemusnahan massal tanpa memperbaiki kualitas lingkungan hanya akan menjadi tindakan reaktif yang sementara. Bahkan, pendekatan tersebut dapat menimbulkan dampak sosial dan ekologis jika tidak dirancang dengan bijak. Yang lebih mendasar adalah memperbaiki akar masalahnya: meningkatkan akses sanitasi layak, mengendalikan pencemaran, mengedukasi masyarakat tentang perilaku hidup bersih dan sehat, serta menguatkan kebijakan lintas sektor yang berpihak pada keberlanjutan.

Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, komitmen terhadap tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-6 tentang air bersih dan sanitasi layak, menuntut keseriusan lintas sektor. Pemerintah daerah memiliki posisi strategis dalam memastikan akses sanitasi yang memadai, pengelolaan limbah yang efektif, serta pengawasan kualitas lingkungan yang berkelanjutan. Namun kebijakan tidak akan bermakna tanpa partisipasi masyarakat. Di sinilah peran edukasi, pemberdayaan, dan perubahan perilaku menjadi sangat penting. Masyarakat bukan sekadar objek kebijakan, tetapi subjek utama dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

Pendekatan One Health memberikan kerangka yang utuh: bahwa menjaga sungai berarti menjaga kesehatan manusia; bahwa memperbaiki sanitasi berarti melindungi kehidupan hewan; dan bahwa membangun kesadaran lingkungan berarti menegakkan nilai kemanusiaan itu sendiri. Perilaku sederhana tidak membuang sampah ke sungai, mengelola limbah rumah tangga dengan baik, serta menjaga kebersihan lingkungan merupakan tindakan kecil yang memiliki dampak besar jika dilakukan secara kolektif.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *