Air keruh yang mengalir pelan di sepanjang aliran Sungai Ciliwung menuju Pintu Air Manggarai, Jakarta menyembunyikan ancaman yang nyata. Berdasarkan hasil uji laboratorium terhadap ikan sapu-sapu di aliran Sungai Ciliwung hingga kawasan Pintu Air Manggarai menunjukkan adanya indikasi pencemaran, baik dari sisi biologis maupun kimia.
Berdasarkan dokumen hasil PT Mutuagung Lestari Tbk (Mutu International) yang merupakan lembaga pengujian, inspeksi, dan sertifikasi ikan sapu-sapu dari aliran Sungai Ciliwung hingga Pintu Air Manggarai menyimpan persoalan yang tak terlihat, yakni cemaran bakteri yang tinggi.
1. Kandungan bakteri Escherichia coli melampaui ambang batas aman

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung hadiri kegiatan Operasi Penangkapan Ikan Sapu-Sapu di Kelurahan Kelapa Gading Barat, Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada Jumat (17/4/2026). (Dok. Pemprov DKI)
Dari hasil uji laboratorium, dua sampel ikan dengan nomor 0242/FOOD/IV/26 (Ciliwung) dan 0243/FOOD/IV/26 (Pintu Air Manggarai) menunjukkan kandungan bakteri Escherichia coli (E. coli) yang melampaui ambang batas aman.
Pada sampel dari Sungai Ciliwung, kandungan E. coli tercatat 24 MPN/gram, sementara di kawasan Pintu Air Manggarai melonjak hingga 350 MPN/gram, atau lebih dari 100 kali lipat dari standar aman (<3 MPN/gram).
Meski demikian, kandungan logam berat pada kedua sampel tersebut masih berada di bawah ambang batas. Kadar merkuri (Hg) dan timbal (Pb) tercatat tidak melebihi standar yang ditetapkan dalam SNI 2729:2013.
2. Terdeteksi logam berat

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memimpin pemberantasan ikan sapu-sapu di Jakarta Utara, Jumat (17/4/2026). (IDN Times Dini Suciatiningrum)
Sementara Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian Provinsi DKI Jakarta menyebutkan, ikan sapu-sapu di perairan Jakarta terdeteksi mengandung logam berat timbal (Pb) dalam rentang 0,325 hingga 1,83 mg/kg, atau melampaui baku mutu 0,3 mg/kg berdasarkan standar BPOM (2022).
Selain itu, DKPKP juga mengungkap adanya potensi cemaran bakteri seperti Salmonella dan E. coli pada ikan tersebut.
“Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyatakan bahwa ikan sapu-sapu tidak disarankan untuk dikonsumsi,” tulisnya
3. Daya tahan hidup tinggi

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memimpin pemberantasan ikan sapu-sapu di Jakarta Utara, Jumat (17/4/2026). (IDN Times Dini Suciatiningrum)
Kepala Dinas KPKP Pemprov DKI Jakarta Hasudungan A Sidabalok mengatakan, permasalahan ikan sapu-sapu ini bukan hal yang baru karena sebelumnya juga sudah pernah terselesaikan di kali Ciliwung.
“Waktu pembersihan ikan sapu-sapu di kali Ciliwung kita sudah mengambil sampel ikan dan airnya juga, ternyata ambang batas pencemarannya melebihi ikan mengandung Salmoella serta E.Coli juga residu logam berat,” kata Hasudungan, Minggu (12/4).
Hasudungan menambahkan, setelah pembersihan dan penangkapan, nantinya ikan sapu-sapu tersebut dibawa ke Pusat Produksi Inspeksi dan Sertifikasi Hasil Perikanan (PPISHP) Ciganjur.
“Bangkai ikan sapu-sapu yang telah mati akan dikubur karena daya tahan ikan sapu-sapu ini memang jika tidak dipastikan mati maka bisa hidup tanpa berada di air,” ucapnya.

















