Oleh : Arif Sumantri*)
Sungai tidak pernah benar-benar diam. Ia menyimpan jejak dari apa yang kita lepaskan ke dalamnya, air limbah yang tak selesai diolah, sisa konsumsi yang terbawa hujan, dan kebiasaan yang tak kunjung berubah. Di dasar yang kian menggelap, ikan sapu-sapu bergerak pelan, seolah merapikan halaman yang terlalu lama dibiarkan berantakan. Kelimpahannya bukan sekadar fenomena, ia adalah isyarat bahwa sungai telah kehilangan keseimbangannya. Dalam perspektif kesehatan lingkungan dan One Health, fenomena ini mencerminkan kegagalan sistem dalam menjaga harmoni antara manusia, lingkungan, dan makhluk hidup lain. Sungai tidak lagi mampu menjalankan fungsi alaminya sebagai sistem pemurnian diri (self purification), karena beban pencemar telah melampaui daya dukungnya.
Kajian ekologi perairan menunjukkan ikan sapu-sapu (famili Loricariidae) berperan sebagai detritivor: pemakan detritus, biofilm, dan alga. Dalam banyak studi di perairan tropis Indonesia, komposisi pakannya didominasi 70–90% detritus dan bahan organic dan 10–20% alga/biofilm
dengan konsumsi harian dapat mencapai ±5–10% dari bobot tubuh. Di perairan yang masih seimbang, peran ini membantu menjaga kebersihan substrat. Namun ketika populasi melonjak, ia menjadi cermin beban organik yang berlebih sebagai tanda bahwa sungai sedang bekerja melampaui kapasitasnya.
Pada saat yang sama, parameter kualitas air sering menunjukkan kondisi DO < 2 mg/L (hipoksia) demikian juga BOD meningkat, disisi lain amonia dan sulfida terakumulasi yang menyebabkan sedimen organik menebal. Kondisi ini menyisakan sedikit ruang bagi ikan lokal yang sensitif. Biodiversitas menurun, sementara spesies toleran bertahan. Maka yang kita lihat di permukaan bukanlah sebab, melainkan akibat yang mengeras. Di sinilah paradoks muncul, fungsi yang semula menyeimbangkan, berubah menjadi tanda ketidakseimbangan.
Kelimpahan ikan sapu-sapu sering terjadi pada perairan dengan karakteristik DO (oksigen terlarut) rendah < 2 mg/L, BOD (Biochemical Oxygen Demand) tinggi, Konsentrasi amonia dan bahan organik meningkat, sedimentasi lumpur organik yang massif. Kondisi ini menyebabkan ikan lokal (nila, mujair, ikan mas) tidak mampu bertahan, predator alami berkurang drastis, rantai makanan menjadi timpang. Penelitian ekologi menunjukkan bahwa dalam kondisi ini, biodiversitas ikan dapat turun hingga 50–80%, komunitas perairan didominasi oleh spesies toleran pencemar. Maka ikan sapu-sapu bukan penyebab utama kerusakan, tetapi “penyintas dominan” dari sistem yang telah runtuh. Ikan sapu-sapu adalah saksi yang bertahan di tengah kerusakan ekosistem sungai.
Membaca kelimpahan ikan sapu-sapu sebagai disfungsi sistemik, pendekatan One Health menempatkan fenomena ini dalam kerangka yang lebih luas, ada tiga dimensi yang menjadi pertimbangan: 1. Dimensi Lingkungan: ada pencemaran air yang meningkat, fungsi self purification menurun dan kualitas habitat juga mengalami penurunan. Ketika beban pencemar melampaui kapasitas, fungsi self purification melemah. Sungai kehilangan napas alaminya. 2. Dimensi Hewan (Ekosistem): hilangnya keanekaragaman hayati, terjadi seleksi alam yang menimbulkan dominasi spesies invasive sehingga terjadi gangguan keseimbangan trofik. 3. Dimensi Manusia: meningkatnya risiko penyakit berbasis air, karena penurunan kualitas sumber daya air yang menimbulkan kontaminasi, serta potensi kontaminasi pangan. Pengelolaan Limbah domestik yang belum optimal, kebiasaan buang sampah di sungai dan sanitasi lingkungan sungai yang belum tuntas terutama pada praktik Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) yang masih belum merata menjadi sumber tekanan utama. Ketiganya saling terhubung dalam satu simpul yaitu adanya ketidakmampuan sistem lingkungan menanggung beban aktivitas manusia. Mengabaikan salah satu berarti menunda pemulihan yang utuh.
Menghapus ikan sapu-sapu tanpa memahami fungsinya sama saja mematikan lampu indikator di dashboard kendaraan menjadi sunyi, tetapi berbahaya. Sisi positif (berbasis riset); Mengurangi detritus dan biofilm, berpotensi menekan akumulasi bahan organik ±20–30% dalam kondisi tertentu, Mempercepat dekomposisi alami, membantu sirkulasi nutrien. Dalam sistem terkendali (kolam/akuaponik sederhana), berperan sebagai “cleaning fish”.
Sisi risiko (jika populasi tak terkendali): Dominasi ekologis menyebabkan penurunan keanekaragaman hayati hingga 50–80% pada perairan tercemar berat, perubahan struktur komunitas bentik dan kompetisi ruang, potensi bioakumulasi logam berat, yang berimplikasi pada keamanan pangan jika dimanfaatkan tanpa kontrol. Di sini kita belajar satu hal yaitu fungsi ekologis yang baik, jika berdiri sendiri dapat berubah menjadi masalah ketika sistem kehilangan penyeimbangnya.
Dalam konteks wilayah seperti DKI Jakarta, beban limbah domestik mencapai ribuan ton per hari. Sebagian besar belum terolah optimal sehingga sistem sanitasi masih menghadapi tantangan sistemik. Akibatnya sungai kehilangan kapasitas self purification dan terjadi eutrofikasi menyebabkan kualitas air berada pada kategori tercemar berat di banyak titik. Dalam kondisi ini kelimpahan ikan sapu-sapu adalah “cermin biologis” dari tekanan sistemik yang berlangsung lama.
Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) belum sepenuhnya mengakar sebagai budaya. Di banyak kawasan padat, limbah cair dan sampah padat masih bertemu di badan air, menciptakan sup organik yang memberi “panggung” bagi ledakan detritivor. Tanpa pembenahan ini, pengendalian populasi apa pun hanya bersifat sementara.
Di wilayah metropolitan DKI Jakarta, sungai memikul beban berlapis dari aliran limbah domestik harian dalam skala besar, konektivitas drainase yang membawa sampah dari hulu ke hilir dan keterbatasan pengolahan limbah yang belum menjangkau seluruh kawasan. Namun Jakarta juga menyimpan energi sosial yang kuat dari atensi komunitas peduli sungai, gerakan bank sampah, inisiatif warga dalam pengolahan limbah sederhana serta eksperimen mikro seperti akuaponik dan pemanenan air hujan. Di titik ini, optimisme bukan retorika, ia memiliki akar.
Agar solusi tidak berhenti pada seremoni, diperlukan langkah berlapis yang saling menguatkan: Perlu dukungan kemitraan lintas sektor dan kebijakan pada: 1. Penguatan Hulu (Sanitasi & Limbah) yaitu Percepatan IPAL komunal dan perluasan layanan pengolahan limbah domestik, Insentif perilaku STBM (edukasi + dukungan sarana), Penegakan regulasi pembuangan limbah dan pengurangan sampah ke badan air. 2. Pemulihan Fungsi Sungai melalui Restorasi vegetasi riparian untuk filtrasi alami, Peningkatan aerasi (aliran, weir, atau teknologi sederhana), Pengendalian sedimentasi dan pengerukan selektif berbasis data. 3. Manajemen Populasi yang Terintegerasi dalam One Health, Bukan pembasmian total, melainkan pengendalian adaptif, Pemanfaatan selektif (pakan/pupuk) dengan standar keamanan, Monitoring populasi berbasis indikator kualitas air.
Upaya pengendalian massal ikan sapu-sapu sering dilakukan sebagai respons cepat terhadap kelimpahan populasi. Namun pendekatan ini menyimpan risiko ekologis yang jarang diperhitungkan. Ketika jutaan ikan sapu-sapu diangkat dari sungai, yang hilang bukan hanya satu spesies, tetapi juga fungsi pembersihan dasar perairan, kontrol alami terhadap biofilm dan alga serta proses dekomposisi bahan organik. Dampak yang mungkin muncul akan terjadi Akumulasi sedimen organik lebih cepat, kemudian juga akan terjadi Ledakan alga (algal bloom) akibat hilangnya grazer serta Penurunan kualitas air karena bahan organik tidak terurai.
Pada akhirnya, persoalan ini bukan hanya tentang ikan melainkan cara manusia memperlakukan air, cara kota membangun tanpa mendengar alam, cara kebijakan berjalan tanpa cukup membaca tanda Kesalehan lingkungan. Bukan sekadar konsep, tetapi disiplin dalam membuang limbah, kejujuran dalam tata Kelola, kesadaran bahwa setiap tindakan meninggalkan jejak.
Ikan sapu-sapu tidak meminta untuk dimuliakan, tidak pula pantas untuk disalahkan sepenuhnya. Ia hanya bertahan di tempat yang tidak lagi mampu ditinggali oleh spesies yang lain. Dan mungkin, dari sana kita belajar, bahwa ketika hanya satu jenis kehidupan yang tersisa, itu bukan tanda kekuatan, melainkan peringatan bahwa keseimbangan telah pergi terlalu jauh. Jika kita ingin sungai kembali hidup, maka yang harus dipulihkan bukan hanya airnya tetapi juga cara kita berpikir, bertindak, dan memaknai hubungan dengan alam. Karena pada akhirnya alam selalu mencari keseimbangan. Dan manusia jika ingin tetap menjadi bagian darinya, harus belajar untuk tidak sekadar mengendalikan tetapi memahami, merawat, dan menjaga dengan hati.
*) Ketua Umum PP HAKLI (himpunan ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia)/Guru Besar Kesehatan Lingkungan//Ketua Komite Ahli PMKL (penanganan masalah Kesehatan lingkungan) Kementerian Kesehatan.

















