Pekerjaan penataan Lapangan Bakti Rantepao, kecamatan Rantepao, kabupaten Toraja Utara (Torut) yang menelan anggaran sebesar 1,7 Milyar dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Torut tahun 2025 melalui dinas Pemuda dan Olaraga kabupaten Toraja Utara. menuai sorotan karena baru empat (4) bulan selesai dikerjakan tetapi ambruk tiba-tiba pada 11 April 2026 malam.
Pekerjaan penataan lapangan bakti Rantepao tersebut dikerjakan oleh CV. Karya Maseroh Abadi, dengan konsultan pengawas CV Resopa Dewata Konsultan. Kontrak kerja terhitung sejak 3 September hingga 31 Desember 2025 atau 120 hari kerja.
Menurut Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) pekerjaan penataan lapangan Bakti Rantepao, Hawidia saat ditemuai RAKYAT SULSEL di ruang kerjanya kantor dinas Pemuda Olaraga, Selasa (21/4/26) mengatalan bahwa pekerjaan tersebut saat ini masih masa pemeliharaan sehingga rekanan wajib memperbaiki.
” pekerjaan masa dalam masa pemeliharaan, pekerjaan masih tanggungkawab rekanan, dan bupati telah memberikan batas waktu untuk perbaiki secepatnya ” terangnya.
Dikatakannya bahwa sesuai kesanggupan rekanan bahwa perbaikan akan selesai minggu ini, dan siap digunakan saat upacara yang akan dijawadwalkan pada Sabtu, 25 April nanti.
Dirinya menegaskan bahwa kejadian ambruknya pekerjaan itu terjadi murni karena bencana alam bukan karena tidak sesuai spek. Apa yang dikerjakan rekanan sudah sesuai spesifikasi yang ada atau sesuai dengan Petunjuk Teknis (Juknis). Dan selama pekerjaan pihaknya melakukan pengawasan sesuai aturan yang ada.
“Musibah terjadi asli bencana alam, karena kita lihat atap lama bagunan lama itu ikut terangkat, tergolong karena kekuatan angin kencang yang tiba-tiba datang padahal besinya kokoh” terang
Dirinya berharap kepada pelaksana proyek secepatnya menyelesaikan perbaikan. Dan kejadian ambruknya pekerjaan ini bisa menjadi pembelajaran agar lebih baik lagi dan kejadian tidak terulang.
Terpisah bupati Toraja Utara, Frederik Victor Palimbong saat dimintai tanggapan via pesan Whatshaapnya mengatakan bahwa pekerjaan tersebut saat ini rekanan sedang melakukan perbaikan.
Terkait akar permasalahannya masih dikaji atau di audit dan pihaknya terbuka untuk menerima saran ataupun berdiskusi untuk itu. Pekerjaan tersebut secara design struktur sudah dicroas check. Sementara untuk penyebabnya masih dikaji apakah akar permasalahan pada pekerjaan konstruksi bangunan atau memang karena faktor lingkungan atau bencana ataukah karena gabungan keduanya.
” Kita terbuka untum saran dan diskusi bahkan untuk audit investigasi. Secara design struktur sudah dicross check. Bisa saja akar masalah pada pengerjaan konstruksi atau faktor lingkungan (cuaca ekstrem) atau gabungan ” terang Frederik.
Salah satu warga, Enikepada RAKYAT SULSEL mengatakan bahwa progress pekerjaan perbaikan proyeknya kesannya lambat. Dirinya juga menyoroti pekerjaan tersebut yang kesannya asal, karena kalau memang sesuai spek kan harusnya kejadian kemarin tidak terjadi mengingat bagunannya masih sangat baru, na kondisi bangunan warga yang sudah lama yang ada disekitar lapangan aman-aman saja.
” kalau memang sesuai speknya kan harusnya tidak terjadi ini. Kemarin itu ada genangan air yang tertampung diatas atap karena pembuatan dari atap sangat kecil, sehingga airnya tertinggal dan karena tidak kuat menahan genangan air akhirnya ambruk. Jadi masa ia bahannya rubuh bangunan baru, dan bahannya kokoh atau sesuai spek?? ” beber Eni, Rabu (22/4/26).
Sementara itu pihak perusahaan sampai saat ini belum bisa dikonfirmasi. (Cher).

















