Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Umum

“Bahasa Sunyi Sungai : Ikan Sapu-Sapu dan Retaknya Keseimbangan One Health”

×

“Bahasa Sunyi Sungai : Ikan Sapu-Sapu dan Retaknya Keseimbangan One Health”

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh : Arif Sumantri*)

Di banyak bentang sungai yang dahulu jernih dan setia memantulkan langit, kini kita berhadapan dengan kenyataan yang lebih keruh bukan semata pada warna airnya, tetapi pada makna yang terkandung di dalamnya. Sungai tidak lagi sekadar mengalir; ia seakan membawa jejak-jejak perilaku manusia yang kian menjauh dari harmoni. Limbah domestik, sedimentasi akibat alih fungsi lahan, serta tekanan aktivitas urban perlahan mengubah wajah sungai menjadi ruang yang asing bagi keseimbangan alamnya sendiri.

Example 300x600

Di tengah perubahan itu, hadir seekor makhluk yang sering disalahpahami, ikan sapu-sapu yang justru bertahan, bahkan berkembang, ketika spesies lain memilih menyerah. Fenomena ini tidak layak dibaca sebagai gangguan semata, melainkan sebagai “bahasa diam” dari alam yang mengabarkan bahwa relasi antara manusia, lingkungan, dan kesehatan tengah mengalami kontraksi. Dalam perspektif Kesehatan Lingkungan, inilah simpul dari pendekatan One Health, bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Ikan sapu-sapu (Hypostomus plecostomus) bukanlah penyebab kerusakan, melainkan cermin dari perubahan daya dukung ekosistem. Ia memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap perairan dengan kadar oksigen rendah dan kandungan bahan organik yang tinggi, kondisi yang justru menjadi penanda menurunnya kualitas lingkungan. Spesies ini tergolong invasif, memiliki kemampuan adaptasi yang sangat tinggi terhadap kondisi lingkungan yang terdegradasi. Berbagai kajian menunjukkan bahwa ikan ini mampu bertahan dalam kadar oksigen rendah (<3 mg/L), Sedimentasi tinggi dan Fluktuasi kualitas air ekstrem.

Ketika limbah mengalir tanpa pengolahan, ketika erosi mempercepat sedimentasi, dan ketika ruang hijau beralih menjadi beton tanpa kendali, maka ekosistem sungai mengalami seleksi yang sunyi. Spesies asli yang sensitif menghilang, sementara organisme yang toleran mengambil alih ruang ekologis. Dalam bahasa ekologi, ini adalah proses adaptasi; dalam bahasa nurani, ini adalah peringatan.

Berbagai kajian menunjukkan bahwa kualitas air sungai di banyak wilayah perkotaan Indonesia berada dalam kondisi tercemar, ditandai dengan nilai BOD dan COD yang melampaui baku mutu lingkungan. Kondisi ini tidak hanya mengancam keberlanjutan biodiversitas, tetapi juga berimplikasi langsung pada kesehatan masyarakat. Air yang tercemar berpotensi menjadi media transmisi penyakit berbasis lingkungan seperti diare, infeksi kulit, hingga gangguan kesehatan lainnya. Sedimen yang menumpuk dapat menjadi habitat bagi vektor penyakit. Dengan demikian, kelimpahan ikan sapu-sapu tidak berdiri sendiri, tetapi terkait erat dengan persoalan sanitasi, perilaku masyarakat, dan tata kelola lingkungan yang belum optimal.

Di sinilah pentingnya menghadirkan pendekatan One Health secara nyata. Bahwa solusi tidak dapat berdiri pada satu sektor saja. Pengendalian populasi ikan sapu-sapu melalui pemusnahan massal tanpa memperbaiki kualitas lingkungan hanya akan menjadi tindakan reaktif yang sementara. Bahkan, pendekatan tersebut dapat menimbulkan dampak sosial dan ekologis jika tidak dirancang dengan bijak. Yang lebih mendasar adalah memperbaiki akar masalahnya: meningkatkan akses sanitasi layak, mengendalikan pencemaran, mengedukasi masyarakat tentang perilaku hidup bersih dan sehat, serta menguatkan kebijakan lintas sektor yang berpihak pada keberlanjutan.

Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, komitmen terhadap tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-6 tentang air bersih dan sanitasi layak, menuntut keseriusan lintas sektor. Pemerintah daerah memiliki posisi strategis dalam memastikan akses sanitasi yang memadai, pengelolaan limbah yang efektif, serta pengawasan kualitas lingkungan yang berkelanjutan. Namun kebijakan tidak akan bermakna tanpa partisipasi masyarakat. Di sinilah peran edukasi, pemberdayaan, dan perubahan perilaku menjadi sangat penting. Masyarakat bukan sekadar objek kebijakan, tetapi subjek utama dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

Pendekatan One Health memberikan kerangka yang utuh: bahwa menjaga sungai berarti menjaga kesehatan manusia; bahwa memperbaiki sanitasi berarti melindungi kehidupan hewan; dan bahwa membangun kesadaran lingkungan berarti menegakkan nilai kemanusiaan itu sendiri. Perilaku sederhana tidak membuang sampah ke sungai, mengelola limbah rumah tangga dengan baik, serta menjaga kebersihan lingkungan merupakan tindakan kecil yang memiliki dampak besar jika dilakukan secara kolektif.

Dalam dimensi yang lebih dalam, persoalan ini juga menyentuh ranah etika dan spiritualitas. Sungai bukan sekadar sumber daya, melainkan amanah kehidupan. Ia mengalir tidak hanya membawa air, tetapi juga pesan tentang keseimbangan. Ketika manusia menjaga, ia akan memberi; ketika manusia lalai, ia akan mengingatkan. Maka kesalehan lingkungan menjadi jalan yang tidak hanya rasional, tetapi juga moral bahkan spiritual. Ia menempatkan manusia bukan sebagai penguasa alam, melainkan sebagai penjaga yang bertanggung jawab.

Pada akhirnya, ikan sapu-sapu mengajarkan kita sebuah pelajaran yang sederhana namun mendalam: bahwa alam selalu merespons setiap tindakan manusia. Ia tidak pernah diam, hanya saja kita yang sering terlambat memahami bahasanya. Maka yang perlu diperbaiki bukanlah keberadaan makhluk itu, melainkan cara pandang dan sikap kita terhadap lingkungan.

Jika suatu saat sungai kembali jernih, bukan karena kita mengusir satu spesies, tetapi karena kita berhasil memulihkan keseimbangan. Dan ketika air kembali bening, sesungguhnya yang jernih bukan hanya sungai, melainkan juga kesadaran manusia yang akhirnya terpulang pada fitrahnya menjaga, merawat, dan mensyukuri setiap titipan kehidupan.

 

 

*) Ketua Umum PP HAKLI (himpunan ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia)/Guru Besar Kesehatan Lingkungan//Ketua Komite Ahli PMKL (penanganan masalah Kesehatan lingkungan) Kementerian Kesehatan.

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *