Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyatakan telah mengantongi hasil sementara dari Tes Kemampuan Akademik (TKA) jenjang SMP.
Menurut dia, hasil TKA SMP tahun ini tak jauh beda dengan hasil TKA jenjang SMA di November 2025 lalu.
Hal tersebut disinggung oleh Mu’ti saat memberikan sambutan di acara Pencanangan Kolaborasi Multipihak untuk Peningkatan Literasi dan Numerasi Nasional bersama UNICEF, Tanoto Foundation, dan Gates Foundation, di Jakarta, Kamis (9/4).
Awalnya, Mu’ti mengatakan, bahwa pekan ini telah dimulai penyelenggaraan TKA untuk jenjang SMP. Yang kemudian, akan dilanjutkan untuk jenjang SD di pekan depan.
Mu’ti kemudian menyebut, bahwa hasil TKA dalam beberapa hari terakhir ini sudah dapat diketahui. Secara garis besar, hasilnya tidak jauh berbeda dengan hasil TKA SMA dan PISA.
“Dan ternyata hasil TKA kita, tadi Pak Tony menunjukkan sudah diketahui hasilnya yang 2 hari ini, yang tes kemarin sudah diketahui. Hasilnya juga tidak jauh-jauh beda dengan yang tes SMA. Matematikanya akan segitu,” tuturnya.
Sebagai informasi, nilai TKA jenjang SMA 2025/2026 untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia rata-rata berada di angka 55,38. Sedangkan, Matematika di angka 36,10, dengan nilai maksimal 100.
Hasil tersebut memperkuat Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022, yang menunjukkan skor literasi membaca dan matematika dari sebagian besar siswa Indonesia masih di bawah rata-rata negara OECD.
Di mana hanya 25 persen siswa yang berada di atas rata-rata skor literasi membaca, dan 18 persen yang di atas rata-rata skor matematika.
Meski begitu, Mu’ti menegaskan bahwa itu belum hasil akhir. Hasil akan diumumkan setelah pelaksanaannya rampung.
Namun, dari hasil tersebut, dia pun mengamini bahwa masalah literasi dan numerasi ini masih menjadi pekerjaan rumah besar.
Learning Loss Jadi Tantangan
Learning loss dan learning poverty masih jadi tantangan besar bagi pihaknya. Terlebih usai pandemi Covid-19.
“Tapi saya merujuk kepada pidato Bapak Presiden Prabowo kemarin, bahwa berbagai macam tantangan dan permasalahan yang ada itu bukanlah akhir dan pemacu kita semua untuk berbuat lebih baik lagi,” ungkapnya.
Karenanya, pihaknya telah menyusun sejumlah kebijakan penting untuk merespon hasil TKA ini.
Mulai dari pembenahan kompetensi guru hingga menumbuhkan kembali kebiasaan membaca pada anak.
“Tentu bahan bacaan tidak harus selalu berupa buku. Bisa berupa koran, bisa berupa majalah, atau apapun bahan bacaan yang mendorong dan menstimulasi anak kita untuk senantiasa lekat-dekat dan membiasakan diri membaca,” paparnya.
Dia menekankan, bahwa literasi dan numerasi ini merupakan persoalan yang sangat fundamental dan harus segera dibenahi.
Mengingat, ini merupakan kemampuan dasar yang mutlak diperlukan untuk penguasaan ilmu-ilmu yang lainnya.
Dia mengakui, kerap dilupakan bahwa dalam pembelajaran bukan sekadar hafalan, melainkan pemahaman mendalam dan logika. Termasuk, dalam pelajaran matematika ataupun membaca.
Dalam kesempatan yang sama, Head of Learning Environment Tanoto Foundation, Margaretha Ari Widowati menuturkan, bahwa guru memegang peran kunci dalam memastikan anak-anak menguasai keterampilan dasar. Baik itu literasi maupun numerasi.
Karenanya, melalui kerja sama yang dilakukan oleh pihaknya bersama Kemendikdasmen, Gates Foundation, dan UNICEF akan melakukan penguatan praktik pembelajaran guru di kelas.
Penguatan ini juga nantinya akan memanfaatkan data asesmen siswa sehingga bisa lebih terarah.
“Kolaborasi ini akan didukung oleh 6 pemerintah kabupaten/kota, ada Kabupaten Tegal, Kota Medan, Kota Pematang Siantar, Kabupaten Batanghari, Kabupaten Sika, dan Kabupaten Ende,” jelasnya.
Program ini, lanjut dia, akan menjangkau sekitar 500 sekolah dasar di 6 kabupaten-kota tersebut. Sasarannya, kurang lebih 1.500 guru di kelas awal.

















