Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberikan pesan kepada para Prajurit TNI yang masih bertugas di Lebanon sebagai pasukan perdamaian United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).
Diketahui belakangan publik tengah menyoroti gugurnya tiga prajurit TNI saat bertugas menjalankan misi perdamaian bersama UNIFIL di Lebanon Selatan pada Minggu (29/3/2026) dan Senin (30/3/2026).
Ketiga Prajurit TNI yang gugur itu adalah Praka Farizal Romadhon, Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar, dan Sertu Muhammad Nur Ichwan.
Meskipun ada tiga Prajurit TNI yang gugur, pemerintah dan TNI hingga kini belum memutuskan untuk menarik pasukan dari UNIFIL.
Untuk itu SBY pun memberikan pesannya kepada para prajurit Kontingen Garuda XXIII/S yang masih berada di Lebanon.
Pesan tersebut diungkapkan SBY melalui akun X pribadinya @SBYudhoyono, pada Minggu (5/4/2026).
Pensiunan Jenderal TNI berbintang empat itu berpesan, agar para prajurit TNI yang masih bertugas di Lebanon untuk tetap bersemangat dalam mengemban tugas mulia.
Terutama dalam menjalankan misi perdamaian dunia di Lebanon.
SBY berharap agar Prajurit TNI tetap memberikan yang terbaik dalam menjalankan setiap tugas mereka.
Serta tetap menjaga diri selama menjadi pasukan perdamaian di Lebanon.
Terakhir, SBY mengingatkan para prajurit TNI, bahwa di Indonesia masih ada keluarga yang menunggu mereka kembali ke Tanah Air.
“Sebagai seorang sesepuh dan senior TNI, saya sampaikan kepada para prajurit Kontingen Garuda XXIII/S yang masih berada di Libanon untuk tetap bersemangat dalam mengemban tugas mulia.”
“Do your best dan jaga diri baik-baik. Keluarga yang mencintai kalian menunggu kehadiran kembali di Tanah Air,” tulis SBY di akun X pribadinya @SBYudhoyono, Minggu (5/4/2026).
Minta PBB Hentikan Misi UNIFIL di Lebanon
Selain memberikan pesan untuk para Prajurit TNI yang masih bertugas di Lebanon, SBY juga turut mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk segera menghentikan misi perdamaian UNIFIL atau memindahkan lokasi pasukan penjaga perdamaian keluar dari medan pertempuran di Lebanon.
“Seharusnya PBB, New York segera mengambil keputusan dan langkah yang tegas untuk menghentikan penugasan UNIFIL dan atau memindahkan lokasi mereka ke luar medan pertempuran yang masih membara saat ini,” kata SBY melalui akun X-nya pada Minggu (5/4/2026).
SBY menjelaskan secara teknis bahwa Kontingen Garuda XXIII/S di Lebanon mengemban tugas peacekeeping (penjaga perdamaian) sesuai Chapter 6 Piagam PBB, bukan peacemaking di bawah Chapter 7 yang memiliki mandat untuk memaksakan perdamaian (to enforce the peace).
Sebagai pasukan penjaga perdamaian, prajurit TNI tidak dipersenjatai secara kuat untuk melakukan tugas pertempuran.
Mereka, kata dia, seharusnya bertugas di wilayah blue zone yang memisahkan teritori Israel dan Lebanon, bukan di zona perang.
“Sekarang ini, kenyataannya yang semula mereka berada di sekitar blue line kini sudah berada di war zone, yang sehari-hari sudah berkecamuk pertempuran antara pihak Israel dan Hizbullah. Bahkan dikabarkan pasukan Israel sudah maju 7 km dari blue line,” ujar SBY.
SBY juga mendesak Dewan Keamanan PBB untuk segera bersidang dan mengeluarkan resolusi yang tegas.
Ia memperingatkan PBB agar tidak menerapkan standar ganda dalam menyikapi keselamatan petugas internasional.
SBY mengenang pengalamannya saat menjabat Menkopolkam RI pada tahun 2000, di mana ia harus menghadiri Sidang Dewan Keamanan PBB akibat insiden di Atambua, NTT, yang menewaskan tiga petugas kemanusiaan PBB.
“PBB tidak boleh pilih kasih dan menggunakan standar ganda. Sebagaimana yang dilakukan Presiden Prabowo, secara pribadi, saya juga merasa punya kewajiban moral untuk ikut memperjuangkan keadilan bagi prajurit-prajurit TNI yang menjadi korban di Lebanon ini,” tegasnya.
Tiga Prajurit TNI Gugur di Lebanon

Tiga prajurit TNI telah gugur saat menjalankan misi pemeliharaan perdamaian PBB di Lebanon atau UNIFIL.
Tiga prajurit TNI yakni Praka Farizal Romadhon, Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar, dan Sertu Muhammad Nur Ichwan gugur dalam insiden yang terjadi di dua lokasi dan dua waktu berbeda saat menjalankan misi pemeliharaan perdamaian di bawah mandat PBB atau UNIFIL di Lebanon.
Praka Farizal gugur akibat ledakan proyektil artileri di posisi UNIFIL dekat Adchit Al Qusayr pada Minggu (29/3/2026).
Seorang prajurit TNI penjaga perdamaian juga terluka parah dalam insiden tersebut.
Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan gugur saat sebuah ledakan di pinggir jalan menghancurkan kendaraan mereka di dekat Bani Hayyan pada Senin (30/3/2026).
(Tribunnews.com/Faryyanida Putwiliani/Fersianus Waku)

















