JAKARTA — Gangguan fungsi ginjal yang sebelumnya identik dengan kelompok lanjut usia kini semakin banyak ditemukan pada usia produktif. Dalam beberapa tahun terakhir, pasien berusia 20-40 tahun dilaporkan mengalami penurunan fungsi ginjal hingga memerlukan terapi cuci darah.
Dokter spesialis penyakit dalam di RSUI dr Anindia Larasati mengungkapkan kondisi ini berkaitan erat dengan perubahan gaya hidup serta meningkatnya kasus penyakit tidak menular pada usia muda. la menjelaskan bahwa penyakit ginjal kronis merupakan kondisi penurunan fungsi ginjal secara bertahap selama lebih dari tiga bulan, yang sering kali tidak disadari karena minimnya gejala pada tahap awal.
“Ketika fungsi ginjal menurun, racun dalam tubuh dapat menumpuk dan memicu berbagai komplikasi kesehatan. Kondisi ini sering kali tidak disadari pada tahap awal karena gejalanya sangat minimal. Pemeriksaan kesehatan secara berkala menjadi langkah penting untuk mendeteksi gangguan ginjal sejak dini,” kata dr Anindia dalam keterangan tertulis, dikutip pada Selasa (31/3/2026).
la menyebutkan beberapa gejala yang perlu diaspadai, antara lain mudah lelah, pembengkakan pada kaki atau wajah, perubahan warna atau jumlah urin, peningkatan tekanan darah, serta mual yang disertai penurunan nafsu makan. Adapun penyebab utama penyakit ginjal kronis adalah diabetes dan hipertensi yang kini banyak dialami sejak usia muda.
“Berdasarkan laporan International Diabetes Federation (IDF) kasus diabetes pada usia produktif terus meningkat dan berdampak signifikan terhadap lonjakan kasus penyakit ginjal. Sementara itu, hipertensi yang tidak terkontrol dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah kecil di ginjal,” kata dr Anindia.
Selain faktor penyakit, gaya hidup juga turut berperan besar. Kebiasaan mengonsumsi obat antiinflamasi atau suplemen tanpa pengawasan medis dalam jangka panjang disebut dapat meningkatkan risiko gangguan ginjal. Untuk mencegah kondisi ini, penting melakukan pemeriksaan rutin tekanan darah dan gula darah, menjaga berat badan ideal, serta membatasi konsumsi garam dan gula.
“Selain itu, penting juga untuk mencukupi kebutuhan cairan, tidak merokok, serta menghindari penggunaan obat tanpa pengawasan tenaga medis,” kata dia.
Dokter spesialis ginjal di Rush Medical Center, Vasil Peev, mengatakan deteksi dini sangat penting untuk mencegah kondisi tersebut semakin parah. Menurutnya, banyak kasus penyakit ginjal dapat diobati, meskipun hanya sebagian kecil yang benar-benar dapat disembuhkan.
“Itulah mengapa penting untuk melakukan intervensi dini dan terlibat dalam upaya pencegahan penyakit ini,” kata dia seperti dilansir laman Rush Medical Center, Kamis (12/3/2026).
Berikut enam tips yang dapat diikuti untuk membantu menjaga kesehatan ginjal:
1. Kenali tanda dan gejala
Gejala penyakit ginjal sering kali tidak disadari. Bahkan sekitar 40 persen orang dengan penurunan fungsi ginjal yang parah tidak menyadari bahwa mereka mengidap CKD. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui faktor risiko penyakit ginjal seperti diabetes, obesitas, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, usia 60 tahun ke atas, serta riwayat keluarga dengan penyakit ginjal. Peev merekomendasikan untuk tetap melakukan pemeriksaan tahunan, yang dapat mendeteksi penyakit ginjal pada tahap awal dan membantu memperlambat perkembangannya.
2. Pola makan sehat dan berat badan ideal
Pola makan sehat dapat membantu melindungi ginjal dari berbagai faktor risiko yang menyebabkan kerusakan ginjal. Diet yang baik untuk ginjal umumnya rendah natrium dan karbohidrat serta kaya buah dan sayuran.
Selain itu, olahraga sekitar 30 menit setiap hari seperti berjalan kaki, jogging, atau bersepeda juga dapat membantu menjaga kesehatan tubuh. Minum cukup air juga penting untuk menjaga aliran darah ke ginjal. Dehidrasi dapat mengurangi aliran darah ke ginjal dan berpotensi merusaknya, sehingga dianjurkan untuk minum sekitar delapan gelas air setiap hari.
“Bila diperlukan, Anda juga dapat berkonsultasi dengan ahli gizi untuk mendapatkan pola makan yang sesuai dengan kebutuhan tubuh,” ujar Peev.
3. Pantau kadar diabetes, tekanan darah, dan kolesterol
Diabetes dan tekanan darah tinggi adalah penyebab utama gagal ginjal. Peev menjelaskan bahwa diabetes sebagian besar disebabkan oleh obesitas, yang dapat menyebabkan tekanan darah tinggi dan kolesterol tinggi
“Dan penyakit ginjal diabetik adalah penyebab utama berkembangnya CKD stadium akhir, jadi penting bagi Anda untuk mengendalikannya,” kata Peev.
Menurut penelitian dari National Kidney Foundation, orang dengan kolesterol tinggi memiliki risiko dua kali lebih besar mengalami penyakit ginjal kronis. Karena itu, menjaga berat badan ideal melalui pola makan sehat dan aktivitas fisik dapat membantu menurunkan risiko CKD secara signifikan.
4. Jangan sering minum obat-obatan bebas
Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) adalah kelompok obat pereda nyeri yang dijual bebas, termasuk ibuprofen dan aspirin, yang dapat meningkatkan risiko gagal ginjal mendadak dan kerusakan ginjal progresif.
“Banyak obat bebas yang umum mengandung racun tertentu yang memengaruhi kemampuan ginjal kita untuk menyaringnya, dan jumlah yang berlebihan dapat berbahaya. Risiko kerusakan bisa semakin besar jika seseorang sebenarnya sudah memiliki gangguan ginjal tetapi tidak menyadarinya,” kata Peev.
National Kidney Foundation menyarankan penggunaan obat tersebut tidak lebih dari 10 hari untuk meredakan nyeri atau lebih dari tiga hari untuk menurunkan demam. Jika keluhan berlangsung lebih lama, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter.
5. Setop alkohol
Kebiasaan mengonsumsi alkohol dapat membahayakan banyak bagian tubuh, termasuk ginjal. National Kidney Foundation memperingatkan bahwa minum alkohol berlebihan secara teratur memengaruhi ginjal dan fungsinya serta menggandakan risiko penyakit ginjal.
6. Berhenti merokok
Merokok memperlambat aliran darah ke organ-organ penting, seperti ginjal, dan dapat meningkatkan risiko penyakit ginjal. Merokok juga dapat membuat obat-obatan yang digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi menjadi kurang efektif, dan jika tidak dikontrol dengan baik, dapat menyebabkan penyakit ginjal. Sebuah studi menemukan bahwa peserta yang mengikuti program berhenti merokok mengalami penurunan fungsi ginjal yang lebih kecil dibandingkan dengan mereka yang masih merokok.

















