China telah mengurangi rencana untuk menaikkan harga bahan bakar, termasuk bensin dan solar, sebagai langkah untuk meringankan beban pengemudi di tengah lonjakan biaya energi yang disebabkan oleh perang di Iran.
Mengutip laporan dari BBC, harga bensin lokal melonjak sekitar 20 persen sejak awal konflik, yang mengakibatkan Iran secara efektif menutup salah satu jalur pengiriman minyak tersibuk di dunia, yaitu Selat Hormuz.
Awalnya, harga bensin dan solar direncanakan naik masing-masing sebesar 2.205 yuan (sekitar Rp5,4 juta) atau USD 320 dan 2.120 yuan per ton. Namun, setelah penyesuaian dari pemerintah, kenaikan tersebut hampir setengahnya, menjadi 1.160 yuan untuk bensin dan 1.115 yuan untuk solar, yang akan berlaku mulai Selasa, 24 Maret 2026.
Lebih dari 300 juta orang di China mengendarai mobil yang menggunakan bensin dan solar, dengan negara-negara Teluk sebagai sumber utama minyak bagi negara tersebut.Selama akhir pekan, antrean panjang mobil terlihat di luar Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di beberapa kota di China, dengan beberapa SPBU terpaksa memasang pemberitahuan bahwa mereka kehabisan bahan bakar.
Kenaikan harga terbaru ini menjadi yang kelima dan terbesar di negara itu tahun ini, meskipun sebelumnya sudah ada penurunan harga. Pada hari Selasa, harga minyak mentah Brent melonjak di atas USD 100 per barel, sehari setelah mengalami penurunan, seiring dengan munculnya laporan yang saling bertentangan mengenai kemungkinan pembicaraan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Ole Hansen, Kepala Strategi Komoditas di Saxo Bank, menyatakan bahwa China telah memanfaatkan harga minyak mentah yang lebih rendah dan melimpahnya pasokan dari negara-negara Teluk selama bertahun-tahun untuk membangun salah satu cadangan minyak terbesar di dunia. Dengan langkah ini, diharapkan dapat membantu mengurangi dampak dari lonjakan harga energi yang sedang terjadi.
Iran Tawarkan Pasokan Minyak

Pada bulan Januari dan Februari 2026, China mencatatkan peningkatan pembelian minyak mentah sebesar 16 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, berdasarkan informasi dari administrasi bea cukainya. Iran, yang menghadapi sanksi dari AS, telah menjadi sumber utama minyak mentah murah bagi China, dengan laporan yang menunjukkan bahwa lebih dari 80 persen ekspor minyak Iran dibeli oleh China.
Hansen menyatakan bahwa perkiraan menunjukkan China telah mengumpulkan cadangan minyak sekitar 900 juta barel, yang hampir setara dengan total impor selama tiga bulan. Data dari Universitas Columbia, yang dirilis oleh media pemerintah China, mengungkapkan bahwa cadangan minyak bumi China diperkirakan mencapai sekitar 1,4 miliar barel.
China Hati-Hati Kelola Pasokan
Walaupun memiliki cadangan minyak yang cukup besar, China tetap menunjukkan sikap hati-hati dalam mengelola pasokannya untuk jangka pendek. Pihak berwenang di China dilaporkan telah memerintahkan kilang minyak untuk menghentikan sementara ekspor bahan bakar, dengan tujuan untuk menjaga agar harga domestik tetap terkendali.
Hingga saat ini, pemerintah China belum memberikan tanggapan terkait pertanyaan yang diajukan oleh BBC mengenai kebijakan ini.
Kurangi Dampak Kenaikan Harga

Menurut Badan Informasi Energi AS (EIA), lebih dari 10 persen dari total impor minyak AS berasal dari Arab Saudi dan Iran.
“Untuk mengurangi dampak kenaikan harga minyak internasional yang tidak normal, meringankan beban pengguna hilir, dan memastikan operasi ekonomi yang stabil serta kesejahteraan masyarakat, langkah-langkah pengaturan sementara telah diadopsi,” demikian pernyataan yang dikeluarkan oleh regulator China pada hari Senin.
Kenaikan harga ini diatur oleh Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC), yang melakukan peninjauan terhadap harga bensin dan solar setiap 10 hari. Penyesuaian harga tersebut dilakukan berdasarkan fluktuasi harga minyak mentah global.
Kondisi Negara Asia Lainnya?

Negara-negara di Asia telah mengambil berbagai langkah untuk menghemat biaya demi mengurangi dampak dari kenaikan harga energi global. Di Filipina, pegawai pemerintah diwajibkan untuk bekerja selama empat hari dalam seminggu.
Sementara itu, Sri Lanka telah menetapkan setiap hari Rabu sebagai hari libur untuk lembaga publik. Selain itu, Thailand dan Vietnam mendorong masyarakat untuk bekerja dari rumah sebagai upaya untuk menghemat penggunaan bahan bakar.
Pemerintah Thailand juga telah mengeluarkan instruksi kepada pegawai negeri sipil untuk menangguhkan perjalanan ke luar negeri, mengenakan kemeja lengan pendek saat bekerja, dan lebih memilih menggunakan tangga ketimbang lift. Di Sri Lanka, layanan bus swasta hampir terhenti total pada hari Senin akibat pemogokan operator yang menuntut revisi tarif untuk mengimbangi kenaikan biaya bahan bakar.
Di Filipina, lebih dari 20 kelompok transportasi juga menyatakan akan melakukan pemogokan pada tanggal 26-27 Maret 2026 untuk mendesak pemerintah mengambil tindakan terkait lonjakan harga bahan bakar.
Kondisi Jepang dan Korea

Jepang dan Korea Selatan sangat dipengaruhi oleh konflik di Iran karena ketergantungan mereka pada minyak dan gas yang umumnya melewati Selat Hormuz.
“Harga bensin di Jepang mencapai rekor tertinggi pekan lalu, dengan harga eceran rata-rata bensin naik menjadi 191 yen (0,90; USD 1,20) per liter pada Senin, menurut data dari kementerian ekonomi negara tersebut, naik 18 persen dari minggu sebelumnya.”
Dalam menghadapi situasi ini, Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, menyatakan pada hari Selasa bahwa lembaga-lembaga publik akan mengurangi penggunaan mobil penumpang. “Pada Senin, Pemerintahan Korea Selatan mengumumkan telah membatalkan rencana untuk menghadiri forum internasional di China agar dapat tetap berada di Korea Selatan untuk ‘memimpin respons ekonomi darurat secara langsung dan mengambil keputusan cepat pada saat ini’.”

















