Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Umum

MELAWAN LUPA: TSUNAMI PULAU SIMUK 9 MARET 1861

×

MELAWAN LUPA: TSUNAMI PULAU SIMUK 9 MARET 1861

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

SEJARAH mencatat bahwa pada 9 Maret 1861 wilayah barat Sumatra diguncang gempa sangat kuat yang kemudian memicu tsunami di sejumlah pulau di sekitarnya.

Salah satu lokasi yang terdampak adalah Pulau Simuk, sebuah pulau kecil kecamatan (Kecamatan Simuk) di Kepulauan Batu, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara. Pulau Simuk merupakan bagian dari gugusan Kepulauan Batu, Nias Selatan, menghadap perairan laut bebas di pantai barat Sumatera. Pulau ini terletak paling barat dan sering menghadapi dinamika laut yang ekstrem. Pulau ini sering mengalami krisis pangan ketika cuaca buruk (gelombang tinggi) menghalangi kapal logistik bersandar, menyebabkan kelangkaan bahan pokok.

Example 300x600

Catatan sejarah kolonial menyebutkan bahwa setelah guncangan kuat terjadi, gelombang laut naik dan menggenangi wilayah pesisir pulau tersebut.

Gempa Megathrust

Peristiwa ini berkaitan dengan gempa besar yang dikenal sebagai 1861 Sumatra Megathrust Earthquake, yang terjadi pada zona subduksi Sunda Megathrust di lepas pantai barat Sumatra. Gempa ini diperkirakan memiliki magnitudo sekitar M8,5 menjadikannya salah satu gempa besar dalam sejarah kegempaan Indonesia pada abad ke-19. Selain menyebabkan guncangan kuat di daratan Sumatra, gempa ini juga memicu tsunami yang dirasakan di sejumlah pulau di sekitarnya.

Menurut Soloviev, S. L., dan Go, Ch. N. (1974), yang merupakan salah satu referensi utama dalam sejarah tsunami di Indonesia, aebelum terjadi tsunami, di Pulau Simuk terdapat sebanyak 120 rumah dan sekitar 1.000 orang yang tinggal di pulau tersebut. Tsunami menyebabkan sebanyak 96 rumah hancur dan sekitar 3/4 dari penduduknya meninggal.

Catatan kejadian ini penting untuk diingat karena menunjukkan bahwa kawasan kepulauan di barat Sumatra telah lama berada dalam rantai bahaya gempa megathrust dan tsunami. Peristiwa 1861 menjadi pengingat bahwa ancaman tersebut bukan sekadar potensi masa depan, melainkan bagian dari sejarah geologi wilayah ini.

Edukasi Mitigasi

Belajar dari sejarah tersebut, masyarakat pesisir perlu memahami tanda-tanda alam ketika gempa kuat terjadi. Jika guncangan kuat dirasakan di wilayah pantai atau pulau kecil, maka langkah paling aman adalah segera menjauhi pantai dan menuju tempat yang lebih tinggi, tanpa menunggu peringatan resmi.

Kesadaran akan sejarah bencana seperti tsunami Pulau Simuk 1861 merupakan bagian penting dari upaya membangun budaya kesiapsiagaan di wilayah rawan gempa dan tsunami di sepanjang pantai barat Sumatra.

Edukasi publik terkait bahaya gempa dan tsunami menjadi sangat penting untuk membangun masyarakat pulau kecil yang memahami risiko, mampu menyelamatkan diri, dan siap menghadapi gempa besar serta tsunami. (DAR)

*Dr. Daryono, wakil Ketua Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI).

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *