Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Umum

Melawan Lupa : Catatan Gempa Pasaman Sumatera Barat

×

Melawan Lupa : Catatan Gempa Pasaman Sumatera Barat

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Gempa yang mengguncang Pasaman pada 8 Maret 1977 merupakan salah satu peristiwa penting dalam sejarah kegempaan di Sumatera Barat yang tidak boleh dilupakan, khususnya di wilayah Sinurut dan Talu.

‎Gempa berkekuatan sekitar M6,0 ini menyebabkan kerusakan cukup luas di beberapa wilayah. Di Sinurut tercatat 737 rumah rusak, 7 sekolah, 8 masjid, 3 gedung kantor, serta bangunan pasar mengalami kerusakan.

Example 300x600

‎”Kejadian gempa bumi tahun 1977 di Sumatera Barat itu adalah peristiwa sejarah yang tak terlupakan dan merupakan bagian penting dalam catatan gempa,” kata Daryono, S.Si., M.Si., pegiat mitigasi gempa saat menjawab pertanyaan koranpelita.co terkait catatan penting dari peristiwa gempa bumi di Sumatera Barat, melalui sambungan teleponnya, Jakarta, Minggu (8/3/2026).

‎Sementara di wilayah Talu kerusakan meliputi 245 rumah, 3 sekolah, dan 8 masjid. Banyak rumah kayu bergeser dari pondasinya, dan dibeberapa lokasi muncul rekahan tanah serta retakan jalan dengan lebar sekitar 5–75 cm.

‎”Patut disyukuri, meskipun kerusakan cukup besar, tidak terdapat korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Secara geologi dan tektonik, gempa ini berkaitan dengan aktivitas Sesar Besar Sumatra (Sesar Semangko) yang melintasi wilayah Sumatera Barat,” ungkap pria asal Kota Semarang ini.

Ia melanjutkan, sistem patahan aktif ini terdiri dari beberapa segmen seperti Angkola, Sumpur, Sianok, Sumani, Suliti, dan Siulak yang membentang melalui wilayah Pasaman, Bukittinggi, Tanah Datar hingga Solok Selatan.

‎”Aktivitas patahan geser ini menyebabkan wilayah Sumatera Barat memiliki potensi gempa darat dangkal (shallow crustal earthquake) yang dapat menimbulkan kerusakan signifikan meskipun magnitudonya tidak terlalu besar. Sejarah menunjukkan bahwa gempa darat berkekuatan menengah di wilayah ini dapat menimbulkan dampak serius karena sumbernya dekat dengan permukiman warga,” paparnya.

‎Sebelum peristiwa 1977, telah terjadi juga gempa pada 4 Februari 1971 dengan magnitudo sekitar M6,3 yang menyebabkan kerusakan bangunan di Pasaman. Dalam periode yang lebih baru, wilayah ini kembali diguncang gempa M6,2 pada 25 Februari 2022 yang menimbulkan korban jiwa dan kerusakan cukup besar.

‎”Tampaknya semua gempa tersebut di atas berasosiasi dengan Segmen Angkola (dan splay-nya). Rangkaian kejadian tersebut menjadi pengingat bahwa ancaman gempa di sepanjang Sesar Semangko bersifat nyata dan berulang,” terangnya.

‎”Upaya mitigasi bencana harus terus diperkuat. Mitigasi struktural perlu dilakukan melalui pembangunan rumah atau gedung tahan gempa, sementara mitigasi nonstruktural dilakukan melalui edukasi, peningkatan literasi kebencanaan, dan latihan kesiapsiagaan masyarakat,” ujarnya.

‎”Pengalaman gempa di masa lalu tidak sekadar menjadi catatan sejarah, tetapi juga menjadi pelajaran penting untuk membangun masyarakat yang lebih tangguh menghadapi gempa bumi,” tandasnya. (red)

Example 300250
Example 120x600

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *