SORONG – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SD Negeri 2 Kota Sorong menuai sorotan setelah sejumlah siswa dilaporkan menerima makanan dalam kondisi tidak layak konsumsi.
Menu yang dibagikan berupa susu, salak, telur, dan donat.
Namun, sebagian telur dan buah salak yang diterima siswa diduga sudah busuk.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, pembagian makanan dilakukan seperti biasa di lingkungan sekolah.
Akan tetapi, saat hendak dikonsumsi, beberapa siswa mencium bau tidak sedap dari telur yang dibagikan.
Ada pula telur yang setelah dikupas tampak berubah warna dan mengeluarkan aroma menyengat.
Sementara itu, buah salak yang diterima sebagian siswa ditemukan dalam kondisi lembek, berair, dan diduga telah membusuk.
Sejumlah siswa memilih tidak mengonsumsi telur dan salak tersebut karena khawatir berdampak pada kesehatan.
Beruntung, hingga saat ini belum ada laporan resmi mengenai siswa yang mengalami keracunan atau gangguan kesehatan serius akibat kejadian tersebut.
Meski demikian, peristiwa ini menimbulkan keresahan di kalangan orang tua.
Para orang tua siswa melampiaskan kekecewaannya dengan memosting kejadian tersebut disejumlah group Media Sosial.
Mereka mengaku kecewa atas insiden tersebut.
Menurutnya, program MBG sejatinya bertujuan baik untuk meningkatkan asupan gizi anak-anak sekolah, terutama dalam mendukung tumbuh kembang dan konsentrasi belajar.
Namun, jika kualitas makanan tidak dijaga dengan baik, tujuan program bisa melenceng.
“Kami sangat mendukung program makan bergizi gratis ini karena membantu anak-anak. Tapi kalau makanan yang diberikan tidak layak, tentu kami sebagai orang tua khawatir. Jangan sampai anak-anak sakit,” ujarnya, Senin (02/03/2026)
Selain persoalan telur dan salak yang busuk, menu yang dibagikan juga menjadi perhatian.
Menu susu, salak, telur, dan donat dinilai belum sepenuhnya mencerminkan standar gizi seimbang apabila tidak disertai pengawasan kualitas yang ketat.
Orang tua berharap ada evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme pengadaan bahan makanan, proses penyimpanan, hingga distribusi ke sekolah.
Beberapa pihak menilai kemungkinan penyebab kejadian ini bisa berasal dari proses penyimpanan yang kurang optimal atau distribusi yang memakan waktu lama sehingga memengaruhi kesegaran bahan makanan.
Telur dan buah merupakan bahan pangan yang rentan rusak apabila tidak disimpan dalam suhu dan kondisi yang sesuai.
Pihak sekolah disebut telah menerima laporan dari siswa dan orang tua terkait kondisi makanan tersebut.
Sekolah berjanji akan segera berkoordinasi dengan penyedia MBG untuk meminta klarifikasi sekaligus memastikan kejadian serupa tidak terulang.
Evaluasi internal juga akan dilakukan guna memperketat pengawasan saat makanan tiba di sekolah sebelum dibagikan kepada siswa.
Program MBG sendiri merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi anak usia sekolah.
Program ini diharapkan mampu menekan angka kekurangan gizi dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia sejak dini.
Oleh karena itu, aspek kualitas, kebersihan, dan keamanan pangan menjadi hal yang sangat krusial dalam pelaksanaannya.
Masyarakat berharap dinas terkait, termasuk Dinas Pendidikan dan instansi yang membidangi kesehatan serta pengawasan pangan, turun tangan melakukan pengecekan.
Pengawasan berkala dan uji kelayakan makanan dinilai penting agar standar mutu tetap terjaga.
Hingga berita ini diturunkan, pihak penyedia MBG maupun dinas terkait masih dimintai keterangan resmi mengenai penyebab adanya telur dan salak busuk tersebut, serta langkah konkret yang akan diambil untuk menjamin keamanan makanan bagi para siswa ke depan.

















