Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Uncategorized

DARURAT SAMPAH KOTA TANGERANG SELATAN ;  (SAAT KRISIS MENGUJI NURANI KOTA DAN MENYAPA KESADARAN BERSAMA)

×

DARURAT SAMPAH KOTA TANGERANG SELATAN ;  (SAAT KRISIS MENGUJI NURANI KOTA DAN MENYAPA KESADARAN BERSAMA)

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

Oleh : Arif Sumantri*)

Sampah tidak pernah datang tiba-tiba. Laksana tumbuh perlahan, seiring denyut kota yang kian cepat, rumah yang kian rapat, dan pola hidup yang kian praktis. Di Kota Tangerang Selatan, sampah kini tidak lagi berbisik, ia telah bersuara lantang, mengetuk kesadaran kolektif, menuntut jawaban yang jujur dan keberanian untuk berubah dan mengubah. Setiap hari, sekitar 900 -1.100 ton sampah dihasilkan oleh Kota Tangsel. Namun di ujung alur pengelolaan, TPA Cipeucang hanya dirancang menampung ±400 ton per hari. Ketimpangan ini bukan sekadar angka tetapi telah menjadi akar dari darurat sampah yang kita hadapi saat ini.

Example 300x600

Selama bertahun-tahun, TPA Cipeucang menjadi tulang punggung. Namun ketika  volume sampah terus meningkat, lahan tidak bertambah, teknologi pengolahan tertinggal, dan pemilahan dari sumber belum membudaya, maka kejenuhan menjadi sebuah keniscayaan. Penataan ulang dan pembatasan operasional TPA yang sejatinya bertujuan baik untuk perlindungan lingkungan, justru memperlihatkan rapuhnya sistem ketika tidak ditopang oleh pengelolaan hulu yang kuat.

 

 

Sampah pun tertahan di TPS, di pasar, pemukiman, dan ruang publik. Warga merasakan dampaknya secara langsung: bau, vektor penyakit, keresahan sosial. Inilah fase ketika darurat sampah bukan lagi urusan teknis, melainkan persoalan martabat kota dan kesehatan dari suatu Kota yang pernah mendapatkan anugerah penghargaan Swastisaba (kota sehat). Permasalahan pengelolaan sampah di Kota Tangsel tidak berdiri tunggal. Keadaan ini terurai berlapis dan saling terkait, diantaranya karena :

  1. Ketergantungan Tinggi pada TPA (End-of-Pipe Syndrome)
    Sampah dianggap selesai ketika dibuang, bukan ketika dikurangi.
  2. Pengelolaan Hulu yang Lemah
    Pemilahan di rumah tangga, kawasan usaha, dan institusi belum menjadi norma sosial.
  3. Infrastruktur Antara yang Terbatas
    TPS3R, bank sampah, dan komposting belum sebanding dengan laju timbulan sampah.
  4. Koordinasi Lintas Sektor yang Belum Solid
    Upaya masih sektoral, belum orkestratif.
  5. Perubahan Perilaku yang Memerlukan Waktu dan Keteladanan

Namun Kota Tangsel juga memiliki modal penting: masyarakat urban yang adaptif, jejaring akademisi dan komunitas lingkungan, dukungan kebijakan nasional (Waste to Energy, EPR, ekonomi sirkular), serta momentum program strategis nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menuntut sanitasi dan lingkungan sehat. Darurat ini adalah titik balik, bukan titik akhir.

Peta jalan penanganan darurat sampah di Kota Tangsel dapat dilakukan sebagai bahan pertimbangan diantaranya melalui ;  tahap I (tanggap darurat 0-6 bulan), Menjaga Kota untuk dapat  Mengendalikan penumpukan sampah dan dampak Kesehatan melalui ;  Optimalisasi TPA Cipeucang secara terbatas dan berlapis pengawasan, Penetapan depo sementara higienis dan terkontrol,  Pembentukan Satgas Darurat Sampah Lintas Sektor, Penambahan armada dan jam operasional pengangkutan,  Edukasi cepat berbasis komunitas (RT/RW, pasar, sekolah, kawasan tempat dan fasilitas umum) Prinsip utama tahap ini: cepat, manusiawi, dan kolaboratif

Tahap selanjutnya menerapkan Stabilisasi Sistem (6-24 bulan), prinsip utama menggeser beban dari Hilir ke Hulu, Tujuannya untuk Mengurangi tekanan TPA secara signifikan, Wajib pilah  pilih sampah dari sumber dengan insentif dan sanksi proporsional, Revitalisasi dan perluasan TPS3R dan bank sampah, Komposting skala kawasan (perumahan, pasar, sekolah),  Kemitraan dunia usaha melalui Extended Producer Responsibility (EPR), Pelibatan akademisi untuk pendampingan teknis dan evaluasi. Di tahap ini, sampah mulai dipandang sebagai sumber daya, bukan beban.

Sampai pada tahap penataan dan pembentukan sebagai Kota Berdaya dan Berbudaya (5 tahun ke atas). Tahap ini dirintis Ketika partisipasi dan kesadaran semua stake holder telah menjadi sebuah budaya yang melekat dalam perilaku hidup bersih dan sehat terhadap pengelolaan minimisasi (pengurangan) dari sumber.  Diharapkan proses tahapan yang berlangsung dilakukan dengan penguatan kemitraan lintas sektor dan program, sehingga Tangsel sebagai kota pembelajar dan berkelanjutan.

Rekomendasi strategis yang bijak dan apresiatif  yaitu semua elemen  masyarakat dan pemangku kepenting di Kota Tangsel, bersama untuk bisa dengan cara ; Berhenti Mencari Kambing Hitam, Mulai Membangun Meja Bersama, Krisis ini milik Bersama solusinya pun harus kolektif. Narasi Publik yang Mengajak, Bukan Menghakimi,  Perubahan perilaku lahir dari empati dan keteladanan. Inovasi Teknologi Harus Sejalan dengan Inovasi Sosial. Tempatkan Kesehatan Lingkungan sebagai Investasi, Bukan Biaya

Darurat sampah Tangsel adalah cermin kejujuran kota. Keadaan ini menguji bukan hanya kebijakan, tetapi kepemimpinan, solidaritas, dan kedewasaan kolektif. Jika krisis ini dihadapi bersama, Kota Tangsel tidak hanya akan bersih tetapi tumbuh menjadi kota yang bijak, tangguh, sehat, aman, berkelanjutan dan bersahaya.

 

 

______________________________________________________________

*) Ketua Umum PP HAKLI (himpunan ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia)/Guru Besar Kesehatan Lingkungan UIN Jakarta//Ketua Komite Ahli PMKL (penanganan masalah Kesehatan lingkungan) Kementerian Kesehatan.

Example 300250
Example 120x600