Demokrasi Indonesia : Memilih Pemimpin Pembualan

Navigasinews.com – Menjelang 27 Juni 2018, kita harus mengevaluasi perjalan demokrasi bangsa. Sebelum dimulai, ujung dari tulisan ini adalah “Mungkin kita akan memilih pembual lagi”, semua itu adalah kewajaran-kewajaran yang pantas, karena Bangsa masih tertinggal. Pemimpin-pemimpin bersama perwakilan-perwakilan kita terus bekerja untuk dirinya sendiri. Demokrasi dan Visinya sekedar cita-cita dan kita masih lebih banyak memilih diam.

Demokrasi Memang Bermasalah

Proses demokratisasi harus dilaksanakan seadil-adilnya, itulah perintah sekaligus titah/amanah dari hati untuk proses politik bangsa ini. Indonesia telah menjalani proses konsolidasi Demokrasi yang panjang dengan ujian yang silih berganti, dan kita masih berdiri Kokoh atas nama bangsa yang menghormati sang Merah Putih dan cinta pada kesatuan Bhinneka Tunggal Ika. Burung garuda terbang, petanda Indonesia harus sudah benar-benar merdeka. Soekarno pernah berucap “Perjuanganku lebih mudah karena melawan Penjajah, tapi perjuangan kalian akan lebih berat karena melawan saudara sendiri”.

Apa yang diramalkan oleh presiden RI yang pertama sampai sudah, demokrasi di Uji karena pertarungan untuk kekuasaan, masing-masing Individu melakukan apa saja demi kekuasaan. Kekuasaan demi hajat anak, Istri, Keluarga dan seluruh kolega-kolega yang lain. berarti kita berhadapan dengan saudara sendiriz saudara yang lahir dari rahim Ibu Pertiwi. Mungkin demokrasi bermasalah?

Bangsa yang besar adalah bangsa yang di isi oleh orang-orang yang memiliki prinsip tentang tatanilai demi menjamin stabilitas berbangsa dan bernegara. Kita telah melampauhi apa yang diwajarkan, bahkan dalam aktifitas kita lupa bahwa kita adalah “Indonesia”.

Prinsip demokrasi pancasila menjamin Hak Azasi manusia, tapi sebagian diantara kita masih menjadi mesin penindas diantara yang lemah. Prisnsip yang lain adalah bahwa kekuasaan ditangan rakyat, tapi rakyat tidak pernah benar-benar merdeka untuk memutuskan suatu sikap demi kemajuan bersama.

Demokrasi kita juga menjamin UU 45 , bahwa pemimpin tidak boleh mengatur negaranya karena keinginan pribadi tapi harus sesuai UU 45. Tapi UU dibuat sesuai kebutuhan pribadi. Mari kembali ketujuan demokrasi bangsa Indonesia bahwa “Demokrasi untuk menyeimbangkan bagaimana bangsa Indonesia mengatur kehidupannya dan bagaimana untuk bersikap demokratis. Juga mengatur norma kesopanan agar tidak terjadi pelanggaran Norma”, kehidupan saat ini masih jauh dari tujuan mendasar kita, Demokrasi Indonesia masih bermasalah!

Asal Muasal Kemiskinan

Seseorang tidak perlu bertanya mengapa ketimpangan terjadi, mengapa kemiskinan terjadi, mengapa ketidak adilan terjadi. Sejak dulu kita mencurigai bahwa sebab awalnya adalah persoalan struktural, bukan persoalan individu. Individu adalah akibat keserakahan Individu yang lain, saat struktur sosial terbentuk, si Miskin tetaplah miskin karena dalam strata iya tidak penting untuk diperhatikan, ruangnya terbatas, Ikhtiarnya Lemah, Imannya di Uji, terbentuklah tatanan masyarakat lemah dan tak berdaya.

Demikianlah proses penindasan terjadi, ketimpangan melebar, si Miskin menjadi brandalan. Demokrasi menginginkan Suatu kehidupan yang Ideal setiap bangsa, maka itu hanya terjadi jika semua Individu sadar akan ruang dan taat pada konsep-konsep demokrasi.

Anak Muda Harus Mengambil Alih Kekuasaan

Anak muda harus mengambil peran, tapi yang tua masih kita tonton. rasanya ingin teriak, wahai pak Tua, bangsa ini sudah puluhan tahun ditangan kalian, tapi Rakyat masih saja sengsara. Beras tak pernah swasembada, daging tidak pernah swasembada, Minyak Bumi masih diolah di Luar Negeri, Kebijakan strategis masih jarang yang berpihak, kalian harus sadar mungkin kalian akan lebih berguna jika mengurus keluarga, bukannya harta kalian sudah lebih dari cukup harta yang mungkin diantaranya hasil hadiah dari suatu project atau yang lain. saatnya kami yang disana, mengambil alih peran, merevolusi mental, merevolusi pikiran, menciptakan tekhnologi untuk kemajuan bangsa. Anak muda mesti menjadi patron untuk dirinya sendiri dan merdeka dalam bertindak untuk Visi kemajuan bersama.

Memilih pemimpin adalah konsekuensi logis dari sistem demokrasi. Sesungguhnya bangsa ini di isi oleh begitu banyak konseptor-konseptor hebat. Jika melihat visi misi calon-calon pemimpin kita, mestinya 70 Tahun Indonesia sudah benar-benat gemilang. Apatah kata, Petani kita masih menjadi buruh diatas tanahnya sendiri, sedang peternak membersihkan kotoran unggas milik perusahaan Kartel. Mestinya Indonesia mandiri karena Sumber Daya Alamnnya, tapi penguasa lebih senang menjualnya dari pada mengolah hasil alamnya. Kita belum percaya diri, itu kelemahan orang tua-orang tua ini. mestinya pemimpin harus tegas dengan Visinya, melaksanakan amanah rakyat, bahkan siap mati demi rakyat.

27 Juni 2018 Adalah Hari Pemilih Pembual

Besok 27 Juni, mungkin sekali lagi kita akan memilih orang yang pandai membual, mereka jugamemerkosa kata-kata demi harta yang akan makin melimpah. Karena urusan Infrastruktur dan penunjang-penunjang pembangunan ekonomi lain adalah bisnis mega project yang luar biasa. Ada disorientasi disana, ada kekacauan berpikir disana, akibatnya si Miskin akhirnya berkata “siapapun yang terpilih, nasibku akan begini-begini saja”.

Esok jangan harap partisipasi pemilu meningkat, evalusasi diri kalian juga, kalian dipilih untuk mengubah ketertinggalan menjadi kemajuan bukan untuk memajukan diri sendiri beserta sanak keluarga. Kita akan memilih di Pilkada, mungkin kita akan memilih pembual lagi.

Masa depan bangsa akan segera diambil alih oleh wajah-wajah baru. Kita semua berdoa demokrasi tidak lagi dilaksanakan oleh para pembual, tapi sudah saatnya demokrasi dilaksanakan sebaik-baik tatalaksana urusan. Indonesia harus maju, karena anak cucu mesti hidup bahagia. Sampai bertemu lagi, mungkin kita akan memilih pembual lagi.

Oleh Penulis :

Abdul Muis Amiruddin, SP.t

(Tokoh Pemuda Nasionalis Religius)

 

Be the first to comment on "Demokrasi Indonesia : Memilih Pemimpin Pembualan"

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*