203 Tahun Silam, Dunia Hampir Kiamat

Rismunandar Iskandar Alumni Pasca Sarjana IPB

Navigasinews.com – Gelap gulita melanda dalam setahun terakhir, sinar matahari tidak sampai ke bumi. Banyak tumbuhan yang mati, hewan dan manusia juga mati. Gandum, padi dan semua pasokan makanan penduduk Bumi menipis. Kelaparan dan kekacauan dimana-mana, konflik sosial terjadi di Eropa dan Amerika. Penjarahan pada rumah-rumah penduduk dan toko-toko terjadi dan meluas hampir diseluruh benua.

Demi bertahan hidup karena hasil panen merosot hingga 75%, memaksa penduduk di beberapa negara di Eropa Barat rela memakan tikus. Penyakit menjangkit hampir seluruh penduduk bumi, wabah kolera menjangkit masyarakat di India dan menyebar cepat ke seluruh antero dunia. Selain kolera, wabah tifus dan disentri membunuh ratusan ribu masyarakat Eropa dan Amerika dengan cepatnya. Ratusan ribu manusia meregang nyawa.

Sementara di Asia Timur, kondisi gagal panen diakibatkan oleh kondisi cuaca yang aneh menyebabkan kelaparan dan kematian bagi ratusan ribu jiwa di Yunnan, China. Para orangtua terpaksa menjual anak-anak mereka demi sekantong gandum, para suami pun rela menyaksikan istri dan anaknya perlahan meregang nyawa akibat kelaparan.

Bahkan cuaca ekstrim yang menggelayuti langit di bagian timur Benua Amerika membuat masyarakatnya takut dan tidak berani keluar rumah dalam waktu hampir setahun. Fenomena sakitnya alam semesta mulai menampakkan beberapa gejala seperti abu panas dan sulfur dioksida menyembur melubangi atmosfer yang suhu dunia turun hingga dua derajat celcius.

Tidak ada satupun negara di dunia ini  yang tidak terdampak oleh cuaca ekstrim. Pun Indonesia, sebagai sumber dari bencana yang hampir meluluhlantahkan peradaban manusia saat itu membuat generasi selanjutnya harus survive menghadapi perubahan alam beserta dampak-dampaknya.

Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Thomas Stamfford Raffles kala itu berada di Batavia mendengar bunyi dentuman yang sangat keras dan membuat dirinya memberikan instruksi pada semua pasukan agar bersiaga akan serangan musuh. Sementara di Yogyakarta, komandan pasukan Inggris langsung memerintahkan pasukannya untuk siaga. Ia mengira pihak lawan (Belanda dan Prancis) sedang melancarkan serangan kepada mereka.

Di Jawa Timur tepatnya di Gresik, penduduk lokal bersepakat bahwa suara dentuman keras terdengar di telinga mereka berkali-kali adalah bunyi meriam dari ‘penguasa laut selatan’ yakni Nyi Roro Kidul sedang menghelat ritual pernikahan salah satu anaknya. Di Makassar, Benares yang mengkomandani kapal British East India Company (BEIC) pun melaporkan tentang tembakan meriam semakin mendekat. Ia menduga, bunyi dentuman tersebut tembakan meriam yang berasal dari para perompak.

Suara dentuman maha dahsyat ini juga terdengar hingga Pulau Sumatera. Para pemimpin lokal ketika itu segera menuju Fort Marlborough sebuah pemukiman Inggris di Bengkulu. Mereka menduga terjadi konflik yang parah dan harus ditangani segera. Beberapa dari mereka sudah siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Namun, sesampainya mereka berada di benteng yang didirikan oleh East India Company (EIC) ini ternyata keadaan tenang tidak terjadi konflik seperti dugaan mereka. Setelah mereka mengetahui informasi bahwa tidak terjadi sesuatu, mereka pun mengkaitkanya dengan peristiwa supranatural.

Kota Surabaya dan Kepulauan Maluku mendapatkan tamu berupa bencana Gempa Bumi dan Tsunami yang menyapu dua daerah tersebut. Tak terhitung dengan pasti jumlah korban tewas akibat murka alam pada bumi Indonesia terkait gempa bumi dan tsunami kala itu. Beberapa saat setelah dentuman keras terdengar, awan gelap diiringi hujan abu menyelimuti bumi. Semua orang yang mendengar serta merasakan langsung kejadian itu penasaran dan mulai mencari tahu penyebabnya. Tepat pada Rabu 5 April 1815 suara dentuman memekakkan telinga mencapai puncaknya. Peristiwa ini berlangsung hingga Senin 10 April 1815 dan klimaks pada keesokan harinya 11 April.

Karena libido penasaran dan rasa ingin tahunya tinggi, Raffles mengutus Letnan Owen Philips ke Tenggara untuk menyelidiki kejadian ini. Usut punya usut kabar bencana besar ini bersumber dari sebuah Pulau bernama Sumbawa. Ya, semua bencana yang menimpa dunia saat itu berasal dari sebuah gunung bernama Tambora. Gunung Tambora terletak di Bima dan Dompu itu berhasil melenyapkan tiga kerajaan yang berada di kaki Gunung Tambora. Kerajaan Sanggar, Kerajaan Pekat dan Kerajaan Tambora tertimbun material vulkanis dan lahar panas sehingga nyaris tidak meninggalkan sisa-sisa peradaban agung tiga kerajaan tersebut.

Thomas Stamfford Raffles dalam History of Java miliknya menuliskan bahwa letusan Tambora yang ia dengar pada 5-12 April sukses membuat semua orang dibeberapa belahan bumi panik dan mengira dunia akan kiamat. Penulis lain seperti William K. Klingaman dalam karyanya The Year Without Summer: 1816 and the Volcano That Darkened the World and Changed History Paperback menceritakan mengenai cuaca ekstrim, hujan abu dan tidak adanya sinar matahari menewaskan banyak orang pada dua abad silam. Tidak ketinggalan Vulkanolog dari Cambridge University, Clive Oppenheimer dalam bukunya berjudul Eruptions that Shook the World menceritakan kisah tragis dari bencana ini.

Catatan tentang letusan Gunung Tambora juga tercantum pada naskah kuno Kerajaan Bima, Bo Sangaji Kai. “Maka gelap berbalik lagi lebih dari pada malam itu, maka berbunyilah seperti bunyi meriam orang perang, kemudian maka turunlah krisik batu dan habu seperti dituang lamanya tiga hari dua malam,” sebut naskah kuno itu. Tertulis pula situasi setelah letusan digambarkan dalam naskah kuno Kerajaan Bima pada 1815, “Maka heran sekalian hambanya, melihat karunia Rabbal’alamin yang melakukan al-Fa’alu-I-Lima Yurid (Apa yang dikehendakiNya), maka teranglah hari maka melihat rumah dan tanaman maka rusak semuanya demikianlah adanya, yaitu pecah gunung Tambora menjadi habis mati orang Tambora dan Pekat pada masa Raja Tambora bernama Abdul Gafur dan Raja Pekat bernama Muhammad.”

Salah satu novelis berasal dari London, Mary Shelley menjadi naik daun karena novelnya berjudul Frankenstein. Pembuatan novel itu terinsipirasi dari cuaca buruk serta kondisi yang terjadi disekitarnya akibat dari letusan Gunung Tambora. Novelnya berhasil menjadi best seller. Hampir senada dengan Mary, Gillen D’Arcy Wood pun dalam bukunya Tambora: Eruption That Changed the World menceritakan bagaimana kondisi dunia saat dilanda dampak dari letusan Gunung Tambora, hingga kini buku karya Gillen masih terkenal dan dibaca para penikmat buku.

Kisah meletusnya Gunung Tambora tak hanya tertuang pada buah pena Mary dan Gillen saja, ratusan jurnal-jurnal ilmiah baik skala nasional maupun internasional mengabadikan persitiwa maha dahsyat tersebut. Hal ini merupakan bukti bahwa Tambora menjadi perhatian dunia saat itu.

Peran Gunung Tambora pun merubah peta sejarah dunia. Kaisar Prancis nan hebat dan amat tersohor pada abad itu Napoleon Bonaparte, dengan kekuatan serta kecerdikan strategi perangnya juga harus tumbang di perang Waterloo. Sial baginya, hujan abu mengguyur Belgia pada 18 Juni 1815 menyebabkan tanah menjadi becek sehingga meriam-meriam pasukannya tidak bisa bergerak. Ia pun kembali ke Prancis untuk menandatangani pakta pengasingan dirinya kembali di St. Helena. “Hujan turun begitu lebat, tentara tertua dari pasukan itu bahkan tidak pernah melihat kejadian seperti ini,” tulis John Lewis dalam “The Weather of the Waterloo Campaign 16 to 18 June 1815: Did it Change the Course of History?”

Letusan dahsyat Gunung Tambora yang terjadi dua abad silam memang merupakan yang terbesar dalam sejarah ingatan manusia. Letusan itu tanpa ampun memuntahkan material vulkanik sebanyak 160 km kubik (38 cu mi) letusan yang empat kali lebih besar dari Krakatau tahun 1883. Tinggi asap letusan Gunung Tambora mencapai 43 kilometer di stratosfir dan merubah warna langit menjadi orange dan sulfur oksidanya menghalangi cahaya matahari (sunlight blocked).

Yang tersisa dari letusan maha dahsyat Gunung Tambora bila dilihat dari segi Indeks Letupan Gunung Api (Volcanic Explosivity Index) dalam rentang angka 0-8, kekuatan letusan Tambora masuk ke skala VEI-7. Gunung dengan ketinggian 2.850 mdpl dan memiliki kaldera berdiameter 7 kilometer serta kedalaman 1.250 meter menjadikannya sebagai kaldera terdalam di dunia yang hingga hari ini bisa kita nikmati panorama keindahannya.

Tepat 3 tahun lalu, Presiden Joko Widodo menetapkan Gunung Tambora sebagai Taman Nasional. Selamat ulang tahun Tambora, semoga tidur nyenyakmu tidak terganggu oleh bisingnya suara mesin dari pelaku illegal logging di punggungmu. Save our Tambora, Save our earth.

Rismunandar Iskandar Alumni Pasca Sarjana IPB

Penulis : Rismunandar Iskandar

Penulis adalah lulusan Program Pascasarjana Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan IPB dan Peneliti di Taman Nasional Gunung Tambora.

1 Comment on "203 Tahun Silam, Dunia Hampir Kiamat"

  1. Keren mas Aris. Saya jd tahu sejarah letusan gunung Tambora. Jadi pengin berkunjung ke Tambora. Terus lah semangat utk menjaga Tambora tetap lestari…

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*