Ketersediaan Ruang Demokrasi Dalam Mewujudkan Kepemimpinan Profetik

Abdul Muis Amiruddin, Ketua Umum HMI Cabang Makassar Timur

Oleh : Abdul Muis Amiruddin

(Peserta Advance Training LK III HMI Badko Kaltim-Kaltara & Ketua Umum HMI Cabang Makassar Timur)

Navigasinews.com – “Kezaliman akan terus ada bukan karena banyaknya orang jahat namun karena Diamnya Orang-orang Baik” (Ali Bin Abutalib)

Dalam konteks kepemimpinan, Kepemimpinan profetik adalah suatu pandangan yang selalu didambakan oleh setiap manusia dimuka bumi. Yaitu hadirnya seorang pemimpin yang pada dirinya terkandung nilai-nilai kenabian. Seluruh aliran mengharapkan konsep ini, mulai dari kelompok Agamais yang kanan hingga paling kiri, semuanya memimpikan seorang sosok pemimpin yang profetik meskipun dengan sistem yang berbeda-beda.

Cerminan Demokrasi Indonesia

Dalam Konsep demokrasi sebagaimana secara Etimologinya Demokrasi dibagi menjadi “Demos dan Kratos” yang berarti Rakyat dan Pemerintahan, yang juga bisa dimaknai bahwa Demokrasi adalah konsep tentang kedaulatan Rakyat.

Membuncangkan demokrasi Ala Indonesia, tentunya kita masih banyak pekerjaan yang belum tuntas dalam hal penyelesaian terkait bagaimana mendemokratisasi demokrasi.

Demokrasi ala Indonesia jika mendefinisikan sesuai dengan zamannya maka demokrasi saat ini yaitu hubungan antara Calon perwakilan dengan pemilih (Rakyat) yang dilaksanakan dengan metode mobilisasi/Intervensi. Jadi dalam proses berdemokrasi bangsa dilakukan dengan memposisikan Rakyat sebagai sekedar Voters, sedangkan jika meninjau sebagaimana defenisinya maka akan terbayangkan suatu kondisi berbangsa dan bernegara yang partisipatif, suatu kepemimpinan oleh seorang perwakilan yang melahirkan ruang-ruang diskursus untuk menciptakan suatu kebijakan dalam keputusan.

Ada banyak hal yang terjadi dibangsa kita hari ini, suatu Konsep Demokrasi yang tidak mendatangkan Kesejahteraan Rakyat adalah bukti gagalnya pengurus bangsa ini melakukan suatu rekonstruksi.

(Sesungguhnya kemiskinan dekat dengan kekufuran) dari potongan ayat itu telah membuktikan bahwa pemiskinan yang struktural ini telah mengakibatkan tidak berkualitasnya proses berdemokrasi. Marx dalam salah satu buku berwarnah merah yang berjudul Ideologi tertulis bahwa Ideologi dipengaruhi oleh Sandang, Pangan dan Papan.

Ideologi sebagai sebuah konsep menyeluruh yang menggerakkan manusia adalah faktor yang paling penting untuk disentuh. Suatu bangunan akan rubuh jika pondasinya lemah demikian dalam berideologi. Termasuk dalam mewujudkan pemimpin profetik, ada proses mendasar yang harus selesai, lahirnya pemimpin buruk karena mayoritas rakyat yang baik lebih banyak diam dalam proses pemilu dan tidak ikut dalam proses demokratisasi demokrasi.

Membangun Kepemimpinan Profetik

Secara Teori, kepemimpinan yang pernah dipercontohkan terutama dalam Islam dalam melahirkan Islam Profetik ada dua, yang Pertama adalah Konsep Khalifah sedang yang kedua adalah Konsep Wilayah Al Faqih. Keduanya konsep tersebut telah di kampanyekan terutama Khilafah namun terbukti tidak berhasil. Demikian Wilayah Al Faqih, sebagaimana Negara Syiah di Iran telah melaksanakan sistem tersebut. Namun tentunya secara Kultur sangat menjadi Uthopis ketika akan diterapkan di Indonesia tentunya tidak akan di ulas hingga tuntas. Namun yang menarik ada suatu Konsep di Indonesia yang sebenarnya mampu melahirkan Kepemimpinan profetk yaitu pancasila, kelimanya ketika di jiwai akan melahirkan profetik. namun tidak tuntas hingga disitu saja, yang lebih menarik adalah mengapa kemidian proses demokrasi yang lebih baik hingga kearah profetik tidak bisa diciptakan, karena sekali lagi masalah Ekonomi belum tuntas.

Laporan INFID dan OXFAM bahwa Indonesia adalah Negara yang ketumpangannya berada di peringkat 6 terburuk di Dunia. Di Indonesia dilanjutkan oleh OXFAM dan INFID menunjukkan bahwa 4 Orang terkaya di Indonesia sama dengan gabungan kekayaan 100 Juta penduduk. Bahkan yang lebih mengerikan adalah 1% orang terkaya di Indonesia menguasai 49% kekayaan Nasional. Dengan kondisi seperti demikian, bagaimana Indonesia harus berbuat untuk mewujudkan demokrasi yang profetik. tentunya penyelenggaraan setiap momentum politik hanya sekedar proses pemilihan berdasarkan manajemen keuangan Tim dalam melakukan proses pemenangan.

Demikian selanjutnya, dalam persaingan tidak terjadi proses ideologisasi yang kuat melainkan hanya sekedar pembusukan-pembusukan. inilah Fakta dari seriap momentum demokrasi kita.

Wirausaha Sebagai Salah Satu Solusi

Kenyataannya, secara teoritis dalam sebuah Negara normalnya di isi oleh sekurang-kurangnya 2% Pengusaha dengan asumsi akan ada dua orang yang akan mempekerjakan sekitar 50% dari total penduduk, sedangkan 50% yang lainnya adalah tanggungan dari 50%. disisi lain dengan hadirnya wirausaha akan tercipta kemandirian Ekonomi. Kenyataannya Indonesia masih ada pada angka 1,6%. Maka tugas kita selanjutnya adalah memastikan hadirnya usaha-usaha baru yang di dukung oleh pemerintah serta kesadaran untuk mencintai Produk Lokal.

Mencontohkan Cina dalam mengendalikan pasar, seseorang hanya akan mengkonsumsi produk dalam Negeri maka pemerintahpun harus mendorong proses rekayasa melalui program sehingga pasar berpihak pada produk lokal demi kesejahteraan Rakyat.

Agama Sebagai Basis Nilai

Kepemimpinan profetik hanya terwujud dengan penanaman nilai-nilai agama dalam kehidupan. Sebuah nilai harus diterjemahkan dalam bentuk tindakan. Terjadinya praktek Korupsi dan kejahatan-kejahatan lainnya dalam proses melaksanakan suatu amanah karena pada diri mereka belum mampu mengaktualisasikan nilai-nilai fundamental pada agamanya.

Sebagaimana Islam, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu, dan lainnya menolak suatu perbuatan jahat. Jika kemudia konsep itu sudah menyatu dalam konsep dan praktik maka sistem demokrasi dalam rangka mewujudkan kepemimpinan profetik akan terwujud.

Tarakan, 6 Desember 2017

Be the first to comment on "Ketersediaan Ruang Demokrasi Dalam Mewujudkan Kepemimpinan Profetik"

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*