bnpt 1 photo bnpt 2_zpsit6thrqt.png

Merdeka Ala Anak Muda INDONESIA

Oleh : Abdul Muis Amiruddin
(Ketua Umum HMI Cabang Makassar Timur)

Navigasinews.com – Membayangkan diri hidup saat Tan Malaka menulis Naar de ‘Republiek Indonesia’ (Menuju Republik Indonesia) 92 tahun yang lalu, menemaninya menyusun naskah rencana program nasional sebuah negara yang sedang dalam keadaan dijajah.

Sambil sesekali menginterupsi apa yang dituliskan Tan Malaka karena ketidaksepakatan dengan gagasannya. Ataukah bagaimana jika kita hidup 72 tahun yang lalu dan mendapat kesempatan berada diantara Sukarni dan kawan-kawan menyaksikan Soekarno, Muhammad Hatta dan Ahmad Subarjo menyusun naskah proklamasi. Menggantikan Sayoeti Melik mengetik naskah proklamasi saat dia sedang lelah.

Dengan begitu, tentunya kita dapat merasakan semangat kemerdekaan yang sangat jauh berbeda dengan yang kita rasakan saat ini. Kesadaran menghapuskan penjajahan di atas dunia mungkin akan terasa begitu nyata.

Keinginan kuat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa akibat pembodohan sejak zaman Portugis masuk ke Maluku, Jepang memberikan tipu daya pembentukan BPUPKI, hingga terbentuknya Tim Sembilan PPKI.

Momen yang begitu mengerikan tentu akan tertanam dalam di pikiran kita. Berbeda dengan kondisi sekarang, setelah 72 tahun Indonesia merdeka, tentunya kesadaran dan euforia kemerdekaan Indonesia telah mengalami pergeseran. Perubahan tersebut dipengaruhi oleh perkembangan pengetahuan, teknologi dan ekonomi masyarakat Indonesia.

Perbedaan cara merayakan kemerdekaan oleh orang tua kita tentu akan berbeda dengan kita Ataukah antara kita dan anak-anak kita (nantinya). Semuanya punya pandangan dan cara tersendiri dalam merayakan 17 agustus-an.

Apakah itu suatu kemunduran ataukah sebuah kemajuan, hanya waktu yang dapat menjawabnya!!!

Abdul Muis Amiruddin (Ketua Umum HMI Cabang Makassar Timur)

Merayakan Kemerdekaan Ala Anak Muda Indonesia

Tidak ada pakem yang jelas mengenai bagaimana harusnya kita dalam memaknai kemerdekaan hingga kegiatan apa yang harus dilakukan dalam merayakan hari kemerdekaan.

Banyak yang merayakan dengan sangat serius melalui kegiatan formal dan tak sedikitpun yang merayakan dengan kegiatan yang sedikit santai. Bagi para aktivis kemahasiswaan dan kepemudaan, acara diskusi dengan mendatangkan pembicara dari berbagai bidang dapat menjadi pilihan (sebenarnya paling banyak dilakukan organisasi pemuda).

Lain lagi bagi para komunitas pecinta lingkungan serta komunitas pecinta lainnya, yang banyak mengabadikan momen 17 agustus dengan berbagai kegiatan outdoor hingga konser musik.

Tak mau ketinggalan juga, para netizen (yang sebenarnya paling banyak populasinya) merayakan dengan cara mengupload foto (selemah-lemahnya iman) yang berbau ke indonesiaan, biasanya hanya berbekal kostum timnas sepakbola Indonesia atau coretan bendera merah putih dengan hastag
“I love Indonesia”, Intinya tak ketinggalan momentum.

Persamaannya adalah mereka sama-sama merayakannya dengan penuh khidmat. Menyampaikan bahwa tak selamanya nasionalisme harus digambarkan lewat aksi bela negara yang lagi marak terjadi.

Dengan ide sederhana, para anak muda merayakan hari kemerdekaan. Tak ada gagasan yang berat, seperti rumusan program nasional yang disusun Tan Malaka Atau tak perlu setegang Sukarni saat menyaksikan penyusunan naskah proklamasi kemerdekaan.

Dari Revolusioner Hingga Bergenit Ria di Medsos

Sudah santer terdengar bagaimana revolusionernya pemuda saat masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Mereka berani mengangkat senjata mempertaruhkan nyawa demi meraih kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan itu.

Mereka tak takut diculik hingga dibunuh oleh Meneer Belanda. Selalu melakukan agitasi dan provokasi politik dengan berbagai cara. Begitu juga dengan pemuda masa reformasi, Keberaniannya menumbangkan rezim diktator orde baru banyak tercatat dalam berbagai referensi sejarah pergerakan.

Darinya muncul reformasi, yang dianggap sebagai sebuah proses dimana demokrasi menemukan dirinya kembali. Dari masa reformasi hingga sekarang, hampir tak ada lagi peristiwa besar yang dimotori oleh anak muda. Mereka cenderung hanya menjaga api kecil tetap terjaga dengan gerakan sektorian.dan terpisah secara gerakan.

Alih-alih melakukan gerakan revolusioner, para pemuda kini terjebak dalam rutinitas dunia maya. Kemunculan media sosial sebagai sarana baru dalam komunikasi hingga sekedar share foto dan cerita sehari-hari mempengaruhi perilaku keseharian pemuda di Indonesia.
Berdasarkan data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), tahun 2016, pengguna internet di Indonesia mencapai angka 132,7 juta. Melebihi dari setengah populasi penduduk Indonesia.

Dari 132,7 juta pengguna, 129,2 juta pengguna atau 97,4 persen pengguna aktif media sosial. Media sosial menjadi konten yang paling sering diakses pengguna internet yang 82,8 persennya berusia antara 18 hingga 35 tahun.

Secara demografi, Pemuda Indonesia jika mengikuti defenisi Undang-undang Nomor 40 Tahun 2009 berjumlah 61,8 juta orang, atau 24,5 persen dari total penduduk Indonesia (BPS, 2014). Angka tersebut akan meningkat menjadi 64 persen pada tahun 2020 hingga 2035 berdasarkan hitungan proyeksi penduduk Indonesia.

Jika ini terjadi, Indonesia akan mengalami kondisi yang benar-benar baru yang sering disebut sebagai Bonus Demografi.
Apakah peluang ini akan dipakai untuk membangun “pasukan” yang siap tempur di dalam arena global ataukah hanya sekedar menjadi penonton pada setiap laga yang dimainkan oleh anak muda di belahan dunia lainnya.

Mudah-mudahan kita tidak hanya mempersiapkan pemuda yang menginvestasikan usia produktifnya hanya untuk sekedar bergenit ria di media sosial. Dan mudah-mudahan juga media sosial oleh anak muda dapat bertransformasi dari sekedar jejaring pertemanan menuju jejaring perlawanan dan kegiatan produktif yang berperan dalam memajukan negara.

Pemuda Sebagai Pendobrak Masa Depan Peradaban

Sudah saatnya generasi emas bangsa ini tampil di barisan terdepan, di seluruh lini kehidupan begitu banyak persoalan. Melalui kemerdekaan, mestinya ini menjadi renungan untuk kita semua.

 

Desain Spanduk 72 Tahun RI Berlatar Presiden Soekarno

Sejak dini tulisan I Love Indonesia mestinya tidak akan lagi menjadi sekedar tulisan pada baju yang digunakan tapi ada perilaku cinta yang lahir karena kepekaan melihat realitas sosial yang mengerikan.

Anak muda harus bangkit dengan tidak sekedar cinta, tapi pada lakunya ada tindakan menantang penindasan melalui karyanya. Seluruh persoalan tak akan usai jika anak muda hanya diam begitu saja.

Wassalam…

Selamat Merayakan 72 Tahun Hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia

17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2017

Eh, Sudah Baca Ini Belum?

Penutupan Intermediate Training Nasional HMI Cabang Makassar Timur dan Peluncura... Navigasinews.com - Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Makassar Timur sedang melangsungkan acara penutup...
Peneliti Kajian Lingkungan : Ada Yang Teralienasi Dari Reklamasi Pantai Utara Navigasinews.com - Dilantiknya Anies-Sandi sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, memicu p...
Penulis Eko Prasetyo Hadir Di Forum Intermediate Training HMI Di Makassar Navigasinews.com - Penulis Buku Bergeraklah Mahasiwa, Eko Prasetyo, mengisi forum Intermediate Train...
Eka Sastra Hadir Mengisi Materi Di Intermediate Training HMI Cabang Makassar Tim... Navigasinews.com - Anggota DPR RI dari Partai Golkar Eka Sastra menyempatkan mengisi materi di Inter...
Ade Komaruddin Stadium General Di Pembukaan Intermediate Training HMI Cabang Mak... Navigasinews.com - Telah dilaksanakan kegiatan pembukaan Intermediate Training HMI Cabang Makassar T...