bnpt 1 photo bnpt 2_zpsit6thrqt.png

Merajut Asa di Sulawesi Tenggara

Bakal Calon Gubernur Sulawesi Tenggara 2018

“Anak muda memang miskin pengalaman, karena itu mereka tidak menjanjikan masa lalu. Mereka menawarkan masa depan. Di tangan mereka, harapan itu nyata”

Sepotong adagium di atas kerap diuji ketika menjumpai momentum dan kontestasi politik. Sejak reformasi tiba, dan demokrasi diimani secara utuh sebagai pranata serta aturan yang mengatur relasi sosial, orang-orang beranjak meunuju era baru: Pemimpin tidak lagi diukur karena usia atau anak siapa, tetapi oleh kapasitas dan integritas.

Dua prasyarat pokok pemimpin abad ini.
Tapi karakter masyarakat selalu dinamis, dan mentalitas lama rupanya tidak mudah dirubah. Tidak semua sepakat dengan kriteria pemimpin seperti itu. Pada jalan yang ditempuh Abdul Rahman Farisi (ARF), hal tersebut terbukti benar, dan adagium di atas menjadi tidak semudah yang dibayangkan.

Pada perjalananya, bak gayung bersambut, ikhtiar ARF itu menuai simpati dan mendapat dukungan, tapi tidak jarang pula dia menjumpai ada yang meragukan bahkan disertai hujatan. Tapi ARF tidak sedikitpun bergeming, selalu ada konsekuensi dari setiap pilihan. Dia sadar bahwa memilih politik sebagai jalan pengabdian selalu menyimpan resiko. Sebab arena politik seperti halnya tragedi; penuh dengan intrik yang menyangsi tanpa dasar. Demikian tantangan besar yang dihadapi ARF tatkala ia memutuskan untuk masuk berkompetisi dalam pemilihan Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) 2018 mendatang.

ARF sadar benar, setiap perjalanan selalu dimulai dari satu langkah kaki kecil. Demikian yang dia mulai sejak menapaki ikhtiar politik dan menyapa masyarakat dari satu desa ke desa lainnya di hampir seluruh jazirah Sulawesi Tenggara. Setiap kali ia bertatap dan berbincang dengan kelompok petani, nelayan, kelompok usaha kecil menegah, tokoh masyarakat dan pemuda, hatinya selalu berbinar-binar. ARF melihat ada asa di wajah mereka ketika dirinya memaparkan visi misi, sekaligus menangkap adanya pengharapan atas kesejahteraan dan penghidupan yang lebih baik bagi segenap masyarakat Sulawesi Tenggara.

“Banyak orang mempertanyakan kapasitas dan kemampuan saya, bahkan banyak yang meragukan kualifikasi saya untuk memimpin Sulawesi Tenggara. Tapi bagi Saya, keraguan dan pertanyaan itu adalah sesuatu yang lumrah dan biasa saja. Hal itu malah menjadi tantangan bagi saya. Orang-orang boleh ragu dan bertanya-tanya, tapi saya percaya, latar belakang saya sebagai ekonom, sebagai akademisi, sebagai profesional dalam mengevaluasi alokasi dan penggunaan keuangan negara, membuat saya mengetahui dengan utuh dan komprehensif apa persoalan daerah ini dan bagaimana solusi untuk menyelesaikannya. Hanya ada satu-satunya cara untuk menjawab keraguan dan pertanyaan masyarakat itu, beri saya kepercayaan dan kesempatan untuk memajukan daerah ini. Pilih saya sebagai gubernur!” terang ARF.

Pemimpin Itu Lahir Karena Gen Atau Dibentuk Oleh Proses

Sejarah keberhasilan seorang pemimpin dapat ditelisik dari dua hal, pertama pada gen yang mengalir dalam dirinya, atau yang kedua pada proses panjang yang menempa dan membentuk karakter kepemimpinannya. Dua hal itu ada pada sosok ARF.
Kepemimpinan dan pemerintahan bukan hal baru bagi ARF. Ia terlahir dan tumbuh besar dalam keluarga yang akrab dengan urusan pemerintahan dan pelayanan pada masyarakat. Ayahnya , Bapak Drs Laode Farisi Tonda (Alm) alumni sekolah APDN di Makssar, dan mengabdikan separuh hidupnya sebagai pamong pemerintah. Menjadi Camat di beberapa kecamatan di Kabaputen Muna, dan terakhir dipercaya sebagai Kabag pemerintahan Umum di Kantor Bupati kabupaten Muna. Kakeknya, Laode Tonda (alm) pun demikian, 30 tahun melayani masyarakat dengan menjadi Kepala Desa di Lambelu, sebuah desa di pesisir pulau Buton wilayah adminsitrasi Kabupaten Muna.

ARF meyakini sifat kepemimpinan itu diwariskan dalam dirinya secara genetik. Modal secara alami yang menguatkan tekadnya untuk menghibahkan diri kepada rakyat dan kemanusiaan. Tapi ARF pun menyadari, bekal alamiah di dalam darahnya tidak cukup untuk menjawab kompleksitas tantangan zaman sekarang, dibutuhkan ruang-ruang penempaan dan proses dialektika yang mematangkan dirinya melalui simulasi dan pengalaman memimpin.

Kesadaran itu mendorongnya menceburkan diri sedari dini pada beragam organisasi serta kegiatan kepemudaan dan kemahasiswaan. Tak sampai di situ, selepas menamatkan jenjang pendidikannya, ARF menekuni dunia akademik dengan menjadi dosen pada Fakultas Ekonomi yang hingga saat ini meraih predikat kampus terbaik di Indonesia Timur, Universitas Hasanuddin. Di kampus itu, dia semakin menajamkan pengetahuan intelektualnya sekaligus melebarkan jejaring ke pentas nasional dengan menjadi anak didik Jusuf Kalla.

Pakar Ekonomi Nasional Dari Pesisir Sulawesi Tenggara

Hasrat intelektualnya yang besar mendorongnya untuk melanjutkan studi di Univeristas Indonesia, Kampus terbaik Indonesia. Di Jakarta, ARF menemukan titik balik dalam sejarah hidupnya. Dari seorang anak di pesisir sulawesi tenggara hingga menjadi pakar ekonomi di pentas nasional dan berkali-kali menjadi narasumber pada dialog-dialog yang disiarkan secara Live di layar televisi. Hal yang barangkali mustahil dan hanya menjadi sebatas imajinasi banyak orang. Tapi tekad kuat ARF meruntuhkan kekhawatiran-kekhawatiran laten banyak anak muda yang takut memanjangkan langkah merantau ke ibukota.
Pengetahuan mumpuni ARF sebagai pakar ekonomi mengantarkannya menjadi Tenaga Ahli Ketua Badan Anggaran DPR RI, hal yang mendorongnya untuk lebih dekat dan memahami fungsi legislasi serta budgeting serta mengintegrasikan alokasi anggaran ke dalam kebijakan pembangunan.

“Pengalaman ini memberi kesempatan kepada ARF untuk lebih dekat dengan proses pengambilan kebijakan negara khususnya proses legislasi dan budgeting. Posisi itu membuat ARF juga bisa berdialog dan berdiskusi dengan banyak Kepala Daerah, yang dari diskusi-diskusi itu, ARF memahami beberapa catatan serius bahwa pada umumnya kepala daerah memiliki konsep yang jelas dalam pembangunan daerahnya tapi mereka gagal mengintegrasikanya dengan Kebijakan prioritas kerja Pemerintah pusat, Hal inilah yang menyebabkan mereka kesulitan mendapatkan alokasi anggaran yang yang menunjang program pembangunan daerahnya. Selain itu, ada kepala daerah yang mampu mensinergikan kebijakan pembangunan daerahnya dengan Rencana Kerja Pemerintah Pusat tapi tidak memiliki akses dan jejaring politik yang cukup dengan para aktor penting di Pemerintah dan DPR, sehingga menyulitkan dalam mengoptimakan pembangunan daerah dari tambahan anggaran ataupun program. Pola pengambilan keputusan dalam alokasi anggaran di Indonesia tidak sepenuhnya berdasarkan suatu sistem perencanaan yang baik tapi juga ada peran aktor yang ditentukan melalui interaksi dinamis antara para aktor penting di daerah dan Jakarta. Dari pelajaran dan pengalaman Kepala-kepala daerah itu, saya paham bagaimana merumuskan solusi untuk menyelesaikan persoalan anggaran yang minim serta ketiadaan jejaring investor nasional untuk berkontribusi terhadap pembangunan Sulawesi tenggara ke depannya” ujar ARF.

Pun terkait ihwal pengelolaan anggaran daerah, ARF memiliki pengalaman mumpuni. Sejak akhir tahun 2014 hingga saat ini, ARF tercatat sebagai tenaga Ahli Ahli BPK RI. Di lembaga pemeriksa keuangan ini, dia berkesempatan menyaksikan dari dekat bagaimana manajemen pengelolaan anggaran pada instansi Pemerintah dan pemerintah daerah. Hal yang paling serius menurut ARF adalah peran Top Leader dalam memastikan anggaran dikelola dengan transparan, bertanggung jawab dan bermanfaat sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Dua sisi yang mesti bisa dilaksanakan sekaligus agar setiap sen rupiah uang negara bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat.

“Banyak Gubernur,Walikota atau Bupati yang lebih fokus pada aspek governance-nya untuk kemudian mendapatkan opini tertingggi tapi mengabaikan aspek kemanfaatan bagi kesejahteraan rakyat. Hal ini terjadi juga di Sulawesi Tenggara. Tetapi ide tentang tata kelola ekonomi daerah yang baik, indikator lokal kemiskinan teratasi, dan pengelolaan anggaran pemerintahan yang profesional sebuah daerah hanya bisa terwujud jika disertai dengan kepemimpinan yang inovatif. Sebab pemimpin yang inovatif bisa melahirkan solusi terbaik untuk mewujudkan kemakmuran rakyat meskipun sumber daya alam yang terbatas dan anggaran yang kecil. Sementara kepemimpinan yang inovatif hanya dimiliki oleh pemimpin yang punya tekad dan kemampuan besar, ditunjang integritas serta kualiatas yang mumpuni untuk menyusun kebijakan yang rasional. Hal itu yang saya tawarkan sehingga daerah kita bisa mengejar ketertinggalan dari daerah-daerah lain. Bukankah Kita sudah sering menyaksikan politisi yang telah lama melanglang buana di dunia politik akan tetapi miskin inovasi yang dapat dinikmati dan dikenang oleh rakyatnya? Tradisi politik seperti ini harus kita akhiri. SULTRA harus bergerak dua kali lebih baik”. Pungkas ARF.

Dua Kali Lebih Cepat Mengejar Ketertinggalan Dengan Cara Tidak Biasa

Dari rekam jejak pengalamannya berinteraksi dan mengelola banyak organisasi, serta menginternalisasi diri pada panggung ekonomi nasional, ARF hendak memastikan bahwa itikad serta ikhtiar pengabdiannya untuk rakyat Sulawesi Tenggara bukanlah sesuatu yang datang secara tiba-tiba, ARF memberi diferensiasi sekaligus mendobrak pola kepeminmpinan lokal yang primordial. ARF menunjukkan bahwa pemimpin bukanlah sesuatu instan, pemimpin yang baik mesti memiliki gagasan yang jelas, kongkrit, dan rasional, serta ditempa dan dibentuk oleh pengalaman panjang.

Inilah salah satu alasan mengapa ARF ikut turun tangan dalam kontestasi pemilihan gubernur Sulawesi Tenggara 2018. Karir ARF berangkat dari rute politik nonkonvensional yang tentu sangat membedakanya dengan rute politik kandidat lain. Ia mampu menciptakan modal politiknya sendiri. Ia konsisten menekuni kajian pembangunan daerah, kebijakan publik dan politik anggaran. Memperjuangkan ide-ide kesejahteraan rakyatnya di berbagai forum, organisasi social hingga lembaga pemerintah. Kiprah inilah yang mengantarkan ARF memiliki jejaring social politik luas. Dari organisasi masyarakat, aktivis, lembaga penelitian, universitas, pejabat pemerintah, pengusaha, elit partai politik dari daerah hingga pusat. Kekuatan jaringan politiknya bahkan bisa disamakan dengan politisi senior lainnya di Sultra. Kapasitas politik programatiknya dapat dilihat dari berbagai kebijakan inovasi pengentasan kemiskinan diberbagai daerah telah ia pelajari dan rumuskan.

Pendekatan politik ARF pun berbeda dari kebanyakan kandidat lainnya. ARF mendekatkan diri kepada pemilih dengan cara yang lebih rasional dan mendidik. Masyarakat Sultra harus didudukkan secara terhormat di atas panggung politik bukan hanya sebatas pemilik suara yang dimobilisasi saat momen eloktoral, tetapi sebagai elemen utama yang mesti dipenuhi kebutuhan serta diperjuangkan kesejahteraannya.
Karena itu, gagasan politik serta program ARF dirumuskan berdasarkan dialog secara langsung dengan rakyat, lewat diskusi-diskusi intens dari kampung ke kampung, yang dari sanalah solusi nyata perbaikan taraf hidup masyarakat disusun sebagai program-program prioritas. Pemimpin muda dan politik programatik berpengaruh pada makna pemerintah. Menggeser makna pemerintah dari kekuasaan memerintah menjadi kemampuan memerintah. Makna tradisional pemerintah adalah kekuasaan memerintah. Penekananya pada posisi pemegang kekuasaan. Bagaimana pemimpin terpilih memiliki kekuasaan besar mengatur orang, jabatan, dana dan kebijakan disuatu daerah. Berbeda dengan pemerintah sebagai kemampuan memerintah. Penekananya pada kapasitas kepemimpinan, kematangan visi, membangun consensus dengan rakyat dan menawarkan solusi yang nyata.

Dengan pendekatan dan cara yang tidak biasa seperti itu, ARF tidak sekedar sedang berusaha memenangkan kontestasi pemilihan gubernur. Tapi jauh lebih besar daripada itu, ARF sedang memperjuangan sebuah keadaban politik yang lebih baik.

Sebagai wajah baru dalam pentas politik regional, ARF mengispirasi masyarakat dari seluruh golongan bahwa perubahan lahir dan tumbuh dari semangat melawan kemapanan termasuk kemapanan politik.

Dan yang terpenting, perjuangan ARF adalah perjuangan mewujudkan kesetaraan politik. Sebuah harapan dan angin segar bagi kita semua, bahwa kelak anak-anak kita akan memiliki optimisme untuk berjuang mewujudkan mimpi-mimpinya.

Catatan Perjalanan Politik ARF
—Team Media Abdul Rahman Farizi—

Bakal Calon Gubernur Sulawesi Tenggara 2018

Eh, Sudah Baca Ini Belum?

Jubir Amirul Tamim : Insya Allah Bapak Maju Pilgub Sultra 2018 Navigasinews.com - Anggota DPR RI asal Sulawesi Tenggara (Sultra), Amirul Tamim menunjukkan keseriua...
Visi Kuat Bangun Sultra, Bendum BPP HIPMI Eka Sastra Perjuangkan ARF Melalui GOL... Navigasinews.com - Bendahara Umum (Bendum) Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (...