Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara

Pindahnya Petinggi Demokrat Ke Partai Nasdem

Ketua DPD Partai NasDem Palu Nasution Camang (kanan) menyerahkan berkas bacaleg NasDem periode 2019-2024 kepada mantan Ketua Dewan Pertimbangan DPD Partai Demokrat Sulteng Yos Sudarso (kedua kanan) di Palu, Jumat (24/2). [Foto MI/M Taufan]

Navigasinews.com – Fenomena munculnya politisi yang berpindah-pindah partai juga bukanlah hal yang baru. Ada yang menyebutkan bahwa fenomena pindah partai merupakan hal yang wajar. Sistem kepartaian di negeri ini memang belum kuat sehingga pola pengkaderan di internal partai tidak berjalan maksimal.

Seperti yang terjadi belakangan ini, menjelang pesta demokrasi terbesar di Indonesia tahun 2019, politisi yang pindah partai pun akan banyak terlihat. Bukan hanya perseorangan saja yang bisa pindah partai, gerbong, atau bahkan pejabat struktural yang memiliki kaitan terstruktur dalam partai bisa saja pindah bersamaan.

Di Palu Sulawesi tengah misalnya, sejumlah petinggi Partai Demokrat yang menjabat ketua di pimpinan kecamatan, kota, hingga provinsi menyatakan mundur dan bergabung bersama Partai NasDem Palu, Sulawesi Tengah (24/2/2017).

Tidak tanggung-tanggung, mereka yang pindah pun langsung mendaf¬tarkan diri sebagai bakal calon anggota legislatif (bacaleg) NasDem untuk periode 2019-2024.

Unsur pimpinan Demokrat yang telah menyatakan mengundurkan diri dan bergabung bersama NasDem di antaranya adalah mantan Ketua DPAC Demokrat Kecamatan Tatanga Irfan, Ke¬tua DPAC Ulujadi Ikhsan, Ketua DPAC Mantikulore Andi Kristianto, Ketua DPAC Palu Utara Suwitno Burase, dan Ketua DPAC Tawaeli Calis Labanu.

“Unsur pimpinan DPAC Demokrat berjumlah lima orang. Saya bersama Hardi D Yambas dari DPD Demokrat dan masih ada beberapa unsur pimpinan lainnya di DPD yang akan pindah ke NasDem,” terang Yos Sudarso, mantan Ketua Dewan Pertimbangan DPD Partai Demokrat Sulteng.

Pindahnya beberapa pimpinan partai democrat tersebut diakui bukanlah sebuah paksaan, keputusan itu merupakan panggilan hati.. Yos juga mengakui tidak menghasut sejumlah kader-kader terbaik Demokrat itu untuk pindah ke NasDem.

Kader Demokrat yang telah menyatakan mundur tinggal menunggu surat pengunduran diri dari pengurus DPD Demokrat Sulteng dan peng¬urus DPP Demokrat pusat. “Inilah pilihan politik kami,” imbuh Yos.

Ketua DPD Partai NasDem Nasution Camang pun menyambut baik kedatangan sejumlah kader terbaik Demokrat untuk bersama-sama membesarkan NasDem di Palu khususnya Sulteng. Ia pun menyebutkan seluruh mantan kader itu langsung diproses keanggotaan mereka di DPD, DPW, dan DPP NasDem.

“Dalam proses bacaleg nanti ada proses seleksi yang harus dilalui. Meski ada yang tidak terpilih, mereka tetap menjadi kader NasDem,” tandas Nasution.

Penjaringan bacaleg juga dilakukan Partai NasDem Sulawesi Selatan meski pemilihan legislatif masih tersisa dua tahun lagi. DPW NasDem Sulsel akan membuka pendaftaran pada 15 Maret-7 April 2017 mendatang.

“Para pendaftar tidak akan dipungut biaya sama sekali. Sejak terbentuknya, partai ini kan memang dikenal sebagai partai politik yang menerapkan komitmen pencalonan tanpa mahar,” seru Sekretaris DPW NasDem Sulsel Syaharuddin Alrif.

Selain memberikan pendidikan politik, hal tersebut menjadi bukti bahwa NasDem adalah partai berintegritas.

Secara formal, fenomena politikus menyeberang ke partai politik lain sah-sah saja karena keputusan itu adalah hak pribadi sang politisi. Tetapi sebenarnya tidak etis dari segi etika berpolitik karena pindah partai politik membuat kejujuran, loyalitas, integritas sang politisi dipertanyakan. Dengan pindah partai politik, sang politisi tidak secara total berjuang dan bertanggungjawab kepada orang-orang yang telah memilihnya. Artinya, sang politisi telah mengkianati janjinya kepada konstituennya. Seharusnya sang politisi setia dan konsisten dengan ideologi partainya.

Keterlibatan seorang politisi dalam satu partai politik tidak bisa dilepaskan dari pemahamannya terhadap ideologi partai tersebut. Ideologi politik sebenarnya tidak sekadar menjadi slogan kosong, melainkan benar-benar menjadi semacam keyakinan yang menyatu dengan tingkah laku politisi. Meloncat ke partai lain tanpa ada pertimbangan ideologis, berarti telah melanggar cita-cita ideologi sebuah partai politik.

Diharapkan partai politik tetap fokus pada pendidikan politik bagi para kadernya. Partai politk perlu mencari mekanisme yang membuat para kadernya tetap loyal. Sedang para politisi, perlu menyadari bahwa mereka merupakan figur yang segala gagasan, kebijakan, dan langkahnya menjadi sorotan. Sehingga setiap langkah yang diambil, yang tergolong pelanggaran etika berpolitik tidak terjadi.

Be the first to comment on "Pindahnya Petinggi Demokrat Ke Partai Nasdem"

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*