Kementan : Kenaikan Harga Cabai Di Daerah Anomali

NavigasiNews – Kementerian Pertanian menilai kenaikan harga cabai di berbagai daerah di Indonesia merupakan anomali. Karena pasokan cabai sebenarnya mencukupi. Namun harga cabai tetap sangat mahal.

Dari tiga pasar yang dipantau oleh Kementerian Pertanian yakni Kramat Jati, Tanah Tinggi, dan Cibitung, terjadi lonjakan harga yang tak biasa. Lonjakan mahalnya harga cabai terjadi pada 3 Januari 2017.

Di hari itu, harga cabai melonjak menjadi Rp 80.000 per kilogram (kg), dari harga Rp 29.000 di hari sebelumnya. Sementara pasokan sebanyak 5,6 ton, hampir sama dengan harga hari sebelumnya.

“Tanggal 4 (Januari) pasokan cabai 6,2 ton dan harganya Rp 95.000 per kg. Dan tanggal 5 pasokan cabai ditambah menjadi 6,5 ton tapi harga tetap Rp 95.000 per kg. Teori ekonomi supply and demand tidak bisa digunakan untuk menjelaskan masalah ini. Ini kan aneh,” ujar Spudnik Sujono, Direktorat Jenderal (Dirjen) Holtikultura Kementerian Pertanian, saat kunjungan kerja di Banyuwangi, Kamis (9/2/2017).

Bahkan pada akhir Januari dan awal Februari, pasokan cabai terus ditambah mencapai 8 hingga 10 ton, namun harga cabai justru kian mahal mencapai Rp 100.000 hingga Rp 107.000 per kg.

“Wajar mahal kalau barangnya (cabai) tidak ada. Nah ini cabainya ada dan normal, tapi mengapa harganya sangat mahal? Ini menjadi pertanyaan besar,” ujar

Selain itu, dari tiga pasar induk, Kramat Jati pasokannya terus ditekan dibanding dua pasar induk lainnya. Selama 9 hingga 27 Januari, pasokan cabai di Kramat Jati lebih rendah.

“Seperti pada 22 Januari, Kramat Jati hanya mendapat pasokan 9 ton sedangkan, Tanah Tinggi mencapai 33 ton dan Cibitung 25 ton. Kramat Jati itu pasar induk yang menjadi barometer. Lalu mengapa bisa ditekan seperti ini,” kata Sudjono.

Kondisi ini menjadi efek domino kenaikan harga cabai di daerah-daerah lain. Ditambah lagi pemberitaan media massa, yang terus memberitakan kenaikan harga cabai turut membuat harga cabai kian naik.

Kementerian Pertanian pun mengunjungi daerah-daerah yang menjadi sentra cabai, terutama di Jatim seperti Kediri, Blitar, Malang, Banyuwangi dan lainnya.

“Ketika saya tanya, mengapa naik? Kata pedagang, dari petani harganya naik. Sedangkan petani, pedagang yang menaikkan. Ini kan membingungkan,” kata Sudjono.

Padahal sebenarnya pasokan cabai di daerah cukup. Seperti di Banyuwangi yang menjadi pemasok cabai terbesar di Jawa Timur, mencapai 4.300 hektare dan tiap hektarenya mencapai 6 ton cabai. Sehingga pada akhir 2016, Banyuwangi menghasilkan sekitar 25.000 ton.

Be the first to comment on "Kementan : Kenaikan Harga Cabai Di Daerah Anomali"

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*