Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara

Sensitivitas Kenaikan Harga Pulsa terhadap Inflasi Semakin Besar

NavigasiNews – Pekan lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka data indeks harga konsumen (IHK) atau inflasi sepanjang Januari 2017 sebesar 0,97 persen. Angka itu terbilang tinggi sebab pada Desember 2016 lalu, tingkat inflasi hanya sebesar 0,42 persen.

Banyak faktor pendorong inflasi Januari 2017, salah satunya yaitu kenaikan harga pulsa yang menyumbang inflasi hingga 0,14 persen, sama dengan kontribusi pengeluaran untuk bahan makanan.

Menurut Direktur Eksekutif Indonesia Development of Economic and Finance (Indef) Enny Sri Hartati, semakin besar kenaikan harga barang atau jasa yang dibutuhkan masyarakat, maka kontribusi terhadap inflasi akan semakin besar.

“Ini (pulsa) dipergunakan oleh banyak masyarakat, dengan begitu maka semakin besar barang itu di butuhkan, maka sensitivitas terhadap kenaikkan harga itu relatif tinggi,” ujar Enny di Jakarta, Selasa (7/2/2017).

Bila dicermati tiga bulan ke belakang, kontribusi harga pulsa terhadap inflasi memang sudah terlihat. Pada Desember 2016 lalu, saat inflasi 0,42 persen, kontribusi harga pulsa mencapai 0,05 persen.

Sementara berdasarkan data yang dirilis BPS pada November 2016, saat tingkat inflasi mencapai 0,47 persen, harga pulsa menyumbang inflasi mencapai 0,02 persen.

Sedangkan pada Januari 2017, kontribusi harga pulsa terhadap inflasi kian membesar. Angkanya mencapai 0,14 persen, lebih besar dari kontribusi kenaikan harga BBM yang hanya 0,08 persen.

Kontribusi harga pulsa terhadap inflasi Januari 2017 hanya kalah dari biaya STNK sebesar 0,23 persen dan pencabutan subsidi listrik 900 VA sebesar 0,19 persen.

“Kenaikan pulsa pasti akan berpengaruh terhadap pengeluaran seseorang. Itu yang membuat sensitivitas terhadap inflasi semakin tinggi,” kata Enny.

Be the first to comment on "Sensitivitas Kenaikan Harga Pulsa terhadap Inflasi Semakin Besar"

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*