Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara

Luhut : Pembangunan Pariwisata Harus Perhatikan Lingkungan Hidup

NavigasiNews – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan mengingatkan pembangunan 10 destinasi pariwisata Indonesia harus diiringi dengan perhatian terhadap kebersihan lingkungan sekitar.

“Masalah kebersihan lingkungan ini sangat penting, kita harus memberikan perhatian lebih kepada persoalan ini, karena pembangunan kawasan wisata sebagus apapun, jika lingkungan sekitarnya kotor dan dipenuhi sampah, tidak akan didatangi wisatawan,” katanya melalui siaran pers di Jakarta, Sabtu.

Luhut menyampaikan hal tersebut dalam rapat koordinasi tingkat menteri yang membahas pembangunan kawasan wisata Borobudur, di kompleks Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Turut hadir dalam rapat tersebut Menteri Pariwisata Arief Yahya, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, dan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) Sofyan Djalil.

Luhut menuturkan, pesan menjaga kebersihan tidak hanya diperuntukkan untuk destinasi wisata berupa laut dan pantai. Menurut dia, sungai-sungai yang mengalir dari hulu pun harus bersih.

“Laut Indonesia masuk di urutan ke dua sebagai laut yang paling tercemar (sampah) di dunia. Ini menjadi pekerjaan kita untuk mengatasinya. Karena negara kita ini negara kepulauan, terkadang sampah-sampah tersebut datang dari negara dan kawasan lain yang dibawa air laut masuk ke Indonesia,” katanya.

Mantan Menko Polhukam itu juga meminta kepada pejabat terkait untuk menyelesaikan proses analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) pada setiap kawasan destinasi wisata tersebut.

“Ini penting. Jangan sampai saat pembangunan sudah terlaksana dan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, kita disalahkan karena kawasan tersebut tidak memiliki amdal,” ujarnya.

Borobudur yang menjadi salah satu dari 10 destinasi wisata Indonesia yang menjadi prioritas untuk dikembangkan saat ini.

Adapun sembilan destinasi wisata lainnya adalah kawasan Danau Toba (Sumatera Utara), Tanjung Kelayang (Belitung), Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), Tanjung Lesung (Banten), Bromo, Tengger, Semeru (Jawa Timur), Mandalika (Nusa Tenggara Barat), Wakatobi (Sulawesi Tenggara), Pulau Morotai (Maluku Utara), dan Labuan Bajo (Nusa Tenggara Timur).

Luhut mengaku, tiga dari 10 destinasi wisata itu sudah mencatatkan kemajuan signifikan, yakni Danau Toba, Borobudur, dan Mandalika.

“Hingga saat ini pembahasan tentang Danau Toba selesai, Borobudur juga hampir selesai, dan Mandalika kemarin sudah selesai. Kami harapkan bulan depan pembayaran untuk pembebasan tanah bisa tuntas. Hari ini (27/1) pembayaran pertama sebesar 51 persen telah dibayarkan dan sisanya diharapkan tuntas pada 2-3 minggu ke depan,” ungkapnya.

Luhut berharap pembangunan kawasan wisata Mandalika akan berjalan mulus seiring dengan telah dilakukannya beberapa penandatanganan perjanjian di kawasan ini.

Ditambah lagi, pada 20 Januari lalu, pengelola Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika dan Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC) telah menandatangani perjanjian dengan Roadgrip Motorsports UK Ltd untuk rencana membangun sirkuit jalan raya bertaraf internasional di kawasan Mandalika.

“Enam hotel berstandar internasional telah melakukan penandatangan komitmen pembangunan disana, ditambah lagi MoU dengan sebuah pengelola sirkuit motor untuk membangun sirkuit motor berstandar internasional,” jelasnya.

Be the first to comment on "Luhut : Pembangunan Pariwisata Harus Perhatikan Lingkungan Hidup"

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*