Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara

Petani Tebu Tolak Impor Gula

NavigasiNews – Para petani tebu menolak keras rencana pemerintah mengimpor raw sugar sebanyak 400.000 ton dalam waktu dekat ini. Mereka menilai langkah itu tak berpihak pada para petani. Alasannya, stok gula nasional masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Sekjen Dewan Pimpinan Nasional Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia M Nur Khabsyin menuturkan, rencana impor yang dilakukan pemerintah sangat bertolak belakang dengan nasib para petani tebu. Apalagi impor 400.000 ton raw sugar itu dipakai untuk gula konsumsi.

”Lihat saja stok gula dari produksi giling 2016 ada 800.000 ton. Jumlah itu belum ditambah sisa impor 2016 sebesar 1 juta ton. Kalau semuanya digabungkan maka stok itu masih sangat mencukupi,” ujar Khabsyin dalam keterangan tertulisnya, kemarin.

Ia melanjutkan, dengan stok yang ada dianggap masih mampu bertahan sampai musim giling tahun ini yang dimulai pada Mei mendatang. Artinya, secara perhitungan stok yang ada sangatlah cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional saat ini. ”Distribusi gula yang diolah perusahaan rafinasi berpotensi lebih dari jumlah yang diimpor karena bisa saja gula rafinasi ikut dipasarkan,” ungkapnya.

Ia membeberkan, produksi gula sepanjang 2016 sebesar 2,1 juta ton dan kebutuhan gula sebesar 3,2 juta ton yang dibuat atas dasar perhitungan impor tidaklah valid. Menurut perhitungannya, produksi gula sepanjang 2016 menembus 2,2 juta ton. Sementara untuk kebutuhan yang ada saat ini mencapai 2,7 juta ton. Jumlah itu dengan perhitungan konsumsi gula per orang per tahun 12 kg X 250 juta penduduk dikurangi 10%.

“Pengurangan 10% karena tidak semua orang minum gula dan adanya produk mamin impor,” sambungnya.

Sementara untuk data impor gula konsumsi versi Kemendag belum lengkap. Data impor yang ada sepanjang 2016 mencakup PT PPI 300.000 ton, Bulog 267.000 ton ditambah 100.000 ton white sugar, PTPN/RNI 114.000 ton, commissioning test untuk PG KTM, PG Dompu, PG Glenmore 270.000 ton.

Dilanjutkan untuk PG Gorontalo 25.000 ton, PG Adi Karya Gemilang 50.000 ton. Jumlah itu, katanya, masih ditambah gula untuk operasi pasar oleh inkopol inkopkar sebanyak 400.000 ton sehingga total impor untuk konsumsi 2016 menembus 1,426 juta ton.

“Kalau melihat perhitungan itu harusnya cukup, kenapa harus impor lagi?” katanya.

Adapun penetapan HET gula sebesar Rp12.500 /kg, petani beranggapan perhitungan pemerintah tidaklah realistis. Mestinya dasar menentukan HET adalah dari besaran HPP (harga pokok penjualan) ditambah margin distribusi. Sedangkan dasar penentuan HPP adalah dari BPP (biaya pokok produksi) ditambah margin untuk petani. Untuk BPP 2017 ini ada kenaikan pada komponen biaya tenaga kerja di kebun dan transportasi akibat kenaikan BBM dan kenaikan harga barang.

Menurut hitungan petani HET yang realistis ada pada angka 14.000/kg. Pasalnya, BPP saat ini sebesar Rp10.000 sedangkan HPP Rp11.500. Penetapan HPP gula dalam rangka menyangga harga petani bukan penentuan HET. Masyarakat tidaklah keberatan apabila harga gula di kisaran Rp14.000, mengingat gula termasuk kebutuhan pokok meski bukan paling utama. Sebelumnya, Bulog Jatim mampu menyerap 40% produksi gula pasir dari berbagai PG yang tersebar di berbagai daerah.

Penjualan gula dari PG milik BUMN dan swasta yang diserap Bulog Jatim masih relatif lebih murah. Pihaknya pun terbantu dengan harga yang masih bisa bersaing. Jika harga eceran tertinggi (HET) yang diminta Presiden Joko Widodo Rp12.500 per kilogram (kg) maka Bulog Jatim hanya menjual di kisaran harga Rp12.200-12.300 per kg.

Kepala Perum Bulog Divre Jatiom Witono menuturkan, pihaknya gembira harga komoditi gula pasir relatif stabil dalam beberapa bulan terakhir. Selama ini harga gula memang selalu rentan.

Belajar dari banyak pengalaman sebelumnya, Bulog tak ingin lagi ada kenaikan tiba-tiba yang menghantam komoditas gula. Pihaknya ingin melakukan upaya penstabilan harga dengan meningkatkan serapan gula pasir.

“Kalau dihitung sampai saat ini penjualan gula pasir sekitar 40% lewat Bulog. Jumlah itu cukup banyak untuk penjualan gula,” ujar Witono.

Be the first to comment on "Petani Tebu Tolak Impor Gula"

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*