Kritikus Wisata Laporkan Tarif Mahal Momen Liburan di DIY ke Ombudsman

Salah satu sudut pemandangan kota Yogyakarta di Malam Hari

Navigasinews – Momen pergantian tahun tak selalunya berkesan baik dan penuh kepuasan. Demikianlah yang dirasakan wisatawan yang berkunjung ke Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dalam rangka menikmati malam pergantian tahun, beberapa hari lalu.

Yogya yang selama ini dikenal unggul sektor pariwisata dan ramah pada kantong wisatawan, seminggu ini mendapat banyak kritikan yang cukup pedas di beberapa media soal.

Permasalahannya adalah tarif kendaraan wisata warna-warni atau mobil/kereta hias yang berada di kawasan Alun-alun Selatan dan Alun-alun Kidul yang sebelumnya terbilang murah untuk dijajal, tiba-tiba menjadi mahal.

Netizen seakan tidak terima perubahan tarif yang biasanya hanya Rp25 ribu pada hari biasa untuk satu kali keliling alun-alun, menjadi Rp150 ribu pada momen libur akhir tahun.

Yang cukup mencengangkan, Kepala Dinas Pariwisata DIY, Aris Riyanta, ikut kecewa dengan kenyataan itu. Ia mengatakan, kenaikan tarif tersebut tidak wajar dan sangat memanfaatkan keadaan.

“Harusnya para pegiat wisata dan pemilik mobil hias itu bisa berpikir panjang bagaimana caranya wisatawan pulang dengan cerita baik, jangan hanya pikir jangka pendeknya saja,” tegas Aris.

Menurutnya, pengelola bisnis pariwisata tersebut tidak memikirkan dampak sosial yang besar pada kenaikan tarif jasa mobil hias yang sudah sangat terkenal itu.

“Saya sempat ikut shock membaca perdebatan di media sosial. Banyak kritikan, banyak juga yang kapok pergi ke Yogya. Ini merusak citra pariwisata Yogya yang tengah kami bangun sebagai salah satu yang terbaik di Asia,” tuturnya.

Selain komentar pedas dan kritikan atas kenaikan tarif mobil hias tersebut, Netizen juga mempersoalkan tarif parkir yang meroket saat momen libur akhir tahun tadi.

Wisatawan asing yang memarkir mobil di kawasan wisata Yogya dipungut biaya hingga Rp100 ribu, sedangkan wisatawan lokal dipungut Rp50 ribu per mobil. Tak hanya roda empat, tarif kendaraan roda dua juga naik dari Rp2.000 menjadi Rp.5.000.

Beberapa titik lokasi parkir yang jadi sasaran empuk penyelenggara parkir ilegal tersebut berada di kawasan Malioboro, Alun-alun hingga Gembira Loka.

Kondisi ini mengakibatkan beberapa wisatawan asing enggan memilih Yogya sebagai tempat wisata dan beranjak ke daerah lain sebagai alternatif kunjungan.

Seorang kritikus wisata Yogya, Elanto Wijoyono mengatakan, ia dan beberapa elemen masyarakat sudah melaporkan beberapa temuan kenaikan tarif parkir tersebut ke Ombudsman RI. Padahal, menurut Elanto, tarif parkir sudah ada regulasinya.

“Tarif itu sudah diatur di Peraturan Daerah (Perda), masalahnya ada kesan pembiaran. Dinas Perhubungan (Dishub) dan Dinas Penertiban (Distib) juga aparat kepolisian tidak proaktif menindak pelanggaran parkir jika belum ada laporan masyarakat,” ungkap Elanto.

Permasalahan ini juga turut disayangkan Ketua Forum Pemantau Independen (Forpi) Yogyakarta, Baharuddin Kamba yang mengatakan fenomena tersebut berpotensi menggangu kenyamanan wisata di Yogya.

Ia mengungkapkan, tarif meroket itu sudah menjadi fenomena tahunan ketika momen-momen tertentu seperti libur Natal dan Tahun Baru serta liburan lainnya.

“Banyak oknum ilegal yang memanfaatkan momen tersebut. Kenaikan berkali lipat ini jelas tidak masuk akal,” ujar Kamba menyesalkan.

Be the first to comment on "Kritikus Wisata Laporkan Tarif Mahal Momen Liburan di DIY ke Ombudsman"

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*