Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara

Perjalanan Program Edukasi Pelestarian Spesies Khas Papua 2016 Oleh SPF Di Sawendui, Kepulauan Yapen, Papua

Peserta Program Edukasi Pelestarian Spesies Khas Papua 2016 Oleh SPF Di Sawendui, Kepulauan Yapen, Papua

Navigasinews – Kampung Sawendui merupakan kampung yang baru terbentuk pada tahun 2014, terletak di Distrik Raimbawi, Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua, Sawendui merupakan kampung yang masih terisolir dan jauh dari aktivitas pembangunan. Hal ini ditandai dengan tidak tersedianya fasilitas pendidikan dan kesehatan di kampung tersebut.

Akses menuju kampung Sawendui juga tidak kalah sulitnya, terletak di Pulau Yapen bagian timur sebelah utara, Sawendui secara langsung berhadapan langsung dengan ombak Samudera Pasifik. Mengingat tidak tersedianya jalur transportasi darat, ombak dan angin pasisik sudah menjadi jalan yang biasa dilalui oleh masyarakat.

Sekiranya faktor-faktor tersebut membuat masyarakat menjadi enggan untuk bermukim di kampung Sawendui, sebuah kampung yang dikelilingi hutan lebat, setiap hari ditemani deburan ombak pasifik, dan jauh dari hiruk pikuk aktivitas manusia.

Namun demikian, Sawendui merupakan rumah yang aman dan nyaman bagi beberapa spesies khas Papua. Ya, hutan Sawendui merupakan rumah dari 4 jenis Cendrawasih yang indah dan langka. Pantai Sawendui merupakan tempat bertelur yang penting bagi 4 jenis penyu yang dilindungi secara lokal dan global.

Hutan yang pohon-pohonnya merupakan tempat yang penting bagi Julang papua, Kakatua putih, Kakatua raja, dan spesies khas Papua lainnya. Sejak zaman dahulu kala, atau masyarakat lokal menyebut dengan istilah sejak zaman nenek moyang masih menggunakan cawat dan bertelanjang dada, telah tercipta keharmonisan antara hutan lebat dengan masyarakat yang bermukim disekitarnya.

Masyarakat menyadari bahwa ketika mereka menggantungkan hidupnya kepada alam, maka alam harus dikelola secara bijak dan bertanggung jawab.

Pengembangan wilayah terutama terbukanya akses darat di kampung – kampung sebelah utara Pulau Yapen, terbukanya keran investasi sektor kehutanan skala besar di Yapen perlahan-lahan mendistorsi hubungan harmonis antara manusia dengan alam.

Secara akumulatif, pada perkembangannya kehidupan para Cendrawasih, Penyu dan teman-temannya menjadi terganggu dan sudah tidak lagi aman dirumahnya. Perlahan-lahan, perubahan yang terjadi mulai masuk pengaruhnya ke berbagai kampung termasuk kampung Sawendui.

Masyarakat lokal yang dulu hanya berburu Cendrawasih menggunakan panah yang tumpul dan bertujuan untuk dijadikan mahkota bagi kepala suku, mulai berubah menggunakan senapan untuk tujuan komersial yang jumlahnya tak terbatas. Masyarakat lokal yang dulu hanya mengambil telur penyu ketika tidak berhasil mendapatkan ikan dilaut, mulai berubah mengumpulkan telur penyu untuk dijual ke pasar-pasar dikota. Praktek tersebut mengakibatkan Cendrawasih dan Penyu menjadi satwa yang langka.

Menyadari pentingnya keberadaan spesies khas Papua dalam keseimbangan ekosistem, dan sebagai jati diri kebudayaan masyarakat Papua itu sendiri, mengugah Saireri Paradise Foundation untuk melakukan program pelestarian di Sawendui.

Saireri Paradise Foundation, sebagai organisasi sosial dan lingkungan hidup mencanangkan visi “Masyarakat Sejahtera Hidup Berdampingan Dengan Alam Yang Lestari”. Visi tersebut diterjemahkan dalam program konservasi Cendrawasih dan Penyu berbasis masyarakat, Peduli kesehatan, Peduli pendidikan, dan Pengembangan potensi ekonomi masyarakat lokal melaui pengembangan sektor pertanian, perikanan, dan ekoturisme yang bertanggung jawab dan ramah terhadap lingkungan.

Pada tahun 2016, SPF bersama dengan Kelompok Masyarakat Pelestari Penyu berhasil mengamankan 196 individu induk penyu yang bertelur dipantai, mengamankan 13.347 butir telur penyu, dan melepasliarkan ke laut tukik sebanyak 12.401 individu tukik penyu.

Pada waktu yang sama, SPF bersama dengan Kelompok Masyarakat Pelestari Cendrawasih melakukan pemantauan dan mengamankan 7 pohon kawin Cendrawasih kecil, 4 tempat kawin Cendrawasih belah rotan, dan 1 pohon kawin Cendrawasih raja.

Untuk mengkampanyekan kegiatan pelestarian spesies khas Papua yang dilakukan di Sawendui, pada tahun 2016 SPF bekerja sama dengan PT Freeport Indonesia untuk menggalakkan program edukasi pelestarian spesies khas Papua 2016. Dibuka pada akhir Februari 2016 dengan seremonial pemberian beasiswa kepada 10 siswa/mahasiswa asal Sawendui, sepanjang 2016 program tersebut telah melakukan 11 kegiatan yaitu:

  1. Pemberian beasiswa kepada siswa asal Sawendui
  2. Pendidikan konservasi di SLTP Paparu, Distrik Raimbawi
  3. Pendidikan konservasi di PAM/PAR GKI Maranatha Paparu
  4. Perayaan hari Pentakosta ke-II se-Klasis Yapen Timur
  5. Kemah remaja konservasi se-Distrik Raimbawi
  6. Peringatan hari lingkungan hidup 2016 bersama GKI Maranatha Paparu
  7. Pendidikan koservasi di SMP Dawai, Distrik Yapen Timur
  8. Pendidikan konservasi di SMA Unggulan Dawai, Distrik Yapen Timur
  9. Berpartisipasi dalam kegiatan pelatihan guru sekolah minggu tingkat Klasis Yapen Timur di Korombobi
  10. Penyuluhan konservasi penyu bagi ibu rumah tangga di Sawendui
  11. Doa akhir tahun tahun dan penyerahan bingkisan natal

Secara simbolis, program edukasi pelestarian spesies khas Papua SPF-Freeport Indoneia 2016 telah ditutup bersamaan dengan diselenggarakannaya doa akhir tahun dan penyerahan bingkisan natal yang telah dilaksanakan pada tanggal 20 Desember yang lalu.

Akmal F. Patopang selaku kordinator program edukasi SPF menyampaikan terima kasih kepada semua pihak baik itu masyarakat, Kelompok konservasi binaan SPF, Pemerintah Daerah, Pengurus sekolah, Jemaat gereja yang telah membantu dan bekerja bersama SPF untuk meningkatkan pemahaman dan partisipasi masyarakat dalam melestarikan Cendrawasih dan Penyu.

Secara khusus SPF, menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada PT Freeport Indonesia yang telah bersedia mendukung SPF untuk mendanai program edukasi yang telah dilakukan, dalam mengakhiri sambutannya Akmal mengajak masyarakat mendoakan agar PT Freeport Indonesia bersedia untuk melanjutkan program ini pada tahun 2017.

Pada sambutan terpisah, Bapak Absalom Korano selaku kepala kampung Sawendui dan Bapak Yonash Ampasoi selaku ketua jemaat GKI Bethesda Sawendui menyampaikan penghargaan dan terima kasihnya kepada SPF dan Freeport Indonesia yang telah bersedia menjalankan program edukasi kepada masyarakat luas untuk melindungi kekayaan alam hayati Sawendui.

Semoga dengan program konservasi dan program eduksi yang telah dan akan dilakukan pada masa yang akan datang, berhasil mewujudkan kembali Sawendui sebagai rumah yang aman dan nyaman bagi spesies khas Papua khususnya Cendrawasih dan Penyu.
(ADV)

Be the first to comment on "Perjalanan Program Edukasi Pelestarian Spesies Khas Papua 2016 Oleh SPF Di Sawendui, Kepulauan Yapen, Papua"

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*