Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara

Budayawan Sebut Agama Disalahgunakan untuk Politik dan Ekonomi

Budayawan Radhar Panca Dahana

Navigasinews – Budayawan Radhar Panca Dahana menilai terjadi penyalahgunaan ajaran dan tradisi agama sehingga konflik atas nama agama seolah tak pernah berhenti menjamur. Setidaknya, kata dia, hal itu terlihat dalam 30 tahun terakhir.

“Kita dihijab (ditutup) oleh kegelapan, oleh selaput nafsu dan syahwat kita. Dan nafsu serta syahwat yang paling kuat dalam 30 tahun terakhir adalah syahwat politik dan nafsu ekonomi. Orang-orang mengejar kedua hal itu untuk mendapatkan kenikmatan duniawi,” kata Radhar sebagaimana dikutip dalam Program Primetime News Metro TV, Minggu (25/12/2016).

Menurut Radhar, dalam sejarah bangsa Indonesia sudah terbukti ribuan tahun bila setiap agama yang ada hidup berdampingan. Bahkan, publik dunia, ucap dia, memberikan apresiasi yang sangat tinggi terhadap kerukunan itu.

“(Kerajaan) Sriwijaya pada abad 7, abad 8 dan 9 menunjukkan bagaimana agama-agama itu hidup dengan cara yang sangat baik. Bahkan rajanya itu mengundang dai-dai datang dari Bani Umayyah di Turki untuk menyebarkan agama ke Indonesia. Waktu itu Islam belum masuk,” ungkap Radhar.

Namun, Radhar merasa kecewa dalam 30 tahun terakhir, kerukunan itu semakin memudar. Ekspresi keagamaan malah dipenuhi dengan sentimen bahkan angkara murka.

“Sudah bisa dipastikan itu tidak berasal dari agama itu sendiri. Tidak berasal dari tradisi itu,” ujar dia.

Radhar menegaskan semua ajaran dan tradisi agama itu mengajarkan kedamaian. Adalah tragis ketika kekerasan seperti aksi terorisme terjadi dengan mengatasnamakan agama dan lebih-lebih pada hari suci umat agama tertentu.

“Terorisme dan radikalisme itu bukan urusan agama. Dia tidak peduli dengan hari suci dan lain-lain. Itu bisa terjadi pada masa Idulfitri, Iduladha, Natal, dan Galungan. Dia sebenarnya tidak tahu agama, tidak peduli dengan agama sesuci apapun. Dia hanya memanfaatkan agama saja untuk tujuan pendek dalam arti ekonomis dan politis,” kata Radhar.

Salah satu yang perlu diwaspadai, jelas dia, adalah arus superderas bahkan seolah tsunami informasi yang sangat liar di media sosial. Tsunami ini meluluhlantakkan tatanan ajaran dan tradisi agama yang selama ini melekat dalam hati umat beragama.

Radhar mengimbau agar setiap umat beragama kembali menghayati ajaran dan tradisi agamanya masing-masing dari sebenar-benarnya sumber. Publik juga perlu kritis melihat beragam informasi di media sosial.

“Kita bersama-sama harus meyakini bahwa agama tetap seperti dahulu kala. Jangan sampai Anda percaya kepada embusan-embusan angin surga maupun angin neraka dari sosial media. Percayalah kepada agama dan tetap kepada kesuciannya. Percayalah kepada tradisi dan tetaplah kepada kemuliannya. Dengan dua itu kita bisa menangkal Tsunami yang luar biasa,” pungkas dia.

Be the first to comment on "Budayawan Sebut Agama Disalahgunakan untuk Politik dan Ekonomi"

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*