Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara

Miris, Makanan Tradisional Kebanggaan Indonesia Bahan Bakunya Impor

Kebutuhan kedelai nasional 70% dipenuhi dari impor

NavigasiNews – Meski jadi negara konsumen kedelai terbesar kedua di dunia setelah China, kebutuhan kedelai Indonesia bergantung dari impor. Setiap tahun, rata-rata angka impor kedelai di atas 2 juta ton, sebagian besar berasal dari Amerika Serikat (AS).

Ketua Umum Gabungan Asosiasi Koperasi Tahu-Tempe Indonesia (Gakoptindo), Aip Syarifuddin, mengungkapkan hampir sebanyak 70% dari total impor tersebut dipenuhi dari AS. Sisanya berasal dari Brasil, Uruguay, dan Kanada.

“Impor paling besar dari Amerika Serikat, itu porsinya 60% sampai 70%. Sisanya yang 30% dibagi antara Uruguay, Brasil, dan negara lain seperti Kanada,” kata Aip Rabu (21/12/2016).

Aip mengungkapkan, Indonesia sebenarnya pernah mengalami swasembada kedelai pada tahun 1992. Saat itu produksi kedelai dalam negeri mencapai 1,8 juta ton.

Sementara, saat ini produksi kedelai menyusut drastis tinggal sekitar 800.000 ton per tahun dengan kebutuhan nasional sebesar 2,5 juta ton, terbanyak untuk diserap industri tahu dan tempe.

“Dulu kedelai kalaupun masih impor itu dikendalikan Bulog. Sekarang sudah free trade, siapa pun boleh impor, akhirnya petani kedelai nggak diperhatikan,” jelas Aip.

Kebutuhan kedelai dalam negeri sendiri setiap tahun sebesar 2,7 juta ton dan terus mengalami kenaikan dari tahun ke tahun.

Di sisi lain produksi kedelai dalam negeri hanya berkisar sekitar 800.000 setahun dengan kekurangannya dipenuhi dari impor.

Be the first to comment on "Miris, Makanan Tradisional Kebanggaan Indonesia Bahan Bakunya Impor"

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*