Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara

Gerakan Belanja di Warung Jadi Gerakan Sosial

Warung tradisional urat nadi perekonomian masyarakat kecil

NavigasiNews – Akhir-akhir ini di media sosial ramai dibicarakan gerakan belanja di warung tetangga. Hal ini dipicu maraknya minimarket di beberapa daerah di Tanah Air, berdampak pada matinya pelaku usaha kecil. Realitas tersebut seperti gurita yang mencengkeram ekonomi masyarakat lemah. Karena itu, diperlukan payung hukum untuk pelaku sektor informal yang semakin melemah.

Salah satu poster yang beredar di media sosial seruan untuk warga Yogyakarta

Dikutip dari Republika, pengamat ekonomi Adi Wibowo mengatakan, keberadaan warung kecil milik tetangga dulu adalah urat nadi ekonomi rakyat. Para tetangga yang memiliki warung pada zaman dulu adalah para pemilik modal kecil, memberikan utang kebutuhan pokok para tetangganya yang dibayar saat gaji dibayar mingguan. Mereka adalah penggerak ekonomi rakyat.

“Mereka urat nadi ekonomi kerakyatan karena lahir dari modal kecil rakyat untuk bertahan hidup dari himpitan tuntutan kehidupan yang makin keras, sementara regulasi makin lama makin tidak berpihak pada pemilik modal kecil,” kata dia di Jakarta, Sabtu (17/12).

Agar keberadaan warung tetangga eksis, menurut Adi, harus dibarengi dengan kesadaran membantu dengan berbelanja ke warung mereka. Langkah itu, adalah sebuah gerakan membangun kesadaran. Membangun kesadaran ekonomi masyarakat.

“Gerakan belanja di warung tetangga ini memang mestinya kita dukung menjadi gerakan sosial. Persoalan tata kelola warung tetangga yang selama ini ada memang harus menjadi perhatian khusus,” tegasnya.

Be the first to comment on "Gerakan Belanja di Warung Jadi Gerakan Sosial"

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*