Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara

Bacakan Pembelaan, Ahok: Demokrasi Indonesia Adalah Memilih Kepala Pemerintahan Bukan Kepala Agama

Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok saat menghadiri persidangan kasus dugaan penistaan Agama

Navigasinews- Kasus dugaan Penistaan agama yang dilakukan Gubernur Non Aktif Jakarta Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok telah memasuki babak baru, yaitu persidangan. Persidangan diselenggarakan di gedung bekas Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, di Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat pada Selasa (13/12/2016).

Saat Persidangan, Ahok sempat membacakan Nota Keberatan terhadap Surat Dakwaan Perkara: PDM-147/JKT.UT/12.2016. Dalam Nota Keberatanya, Ahok menuturkan alasan mengutip ayat al-Quran saat kampanye di Kepulauan Seribu, Jakarta Utara. Menurutnya, pengutipan salah satu ayat dalam kitab suci agama Islam tersebut tidak sama sekali memiliki maksud menista atau menghina kitab suci agama terkait, namun bertujuan untuk menyinggung para oknum politik yang sengaja mengambil keuntungan dari ayat tersebut.

Ahok mengungkapkan bahwa ada bahkan banyak elit politik yang memanfaatkan ayat tersebut guna mendiskreditkan calon lain yang beragama berbeda. Hal itu terjadi karena oknum politikus yang ikut berkompetisi dinilai tidak mampu bersaing dengan visi-misi dan program saat pagelaran Pesta Demokrasi di daerah-daerah.

Selama eksis di panggung politik nasional, lanjut Ahok, sudah banyak oknum politik yang ditemukannya berlindung di balik ayat kitab suci untuk memuluskan tujuannya berkuasa. Ia juga mengaku sempat menuangkan pengalamannya dalam buku yang ditulisnya pada 2008.

“Selama karir politik saya dari mendaftarkan diri menjadi anggota partai baru, menjadi ketua cabang, melakukan verifikasi, sampai mengikuti Pemilu, kampanye pemilihan Bupati, bahkan sampai Gubernur, ada ayat yang sama yang saya begitu kenal digunakan untuk memecah belah rakyat, dengan tujuan memuluskan jalan meraih puncak kekuasaan oleh oknum yang kerasukan ‘roh kolonialisme’,” kutip Ahok dalam sub-judul bukunya “Berlindung di Balik Ayat Suci” yang juga dituliskannya dalam Eskepsi atau Nota Keberatan atas dugaan penistaan Agama.

Ahok yang juga Calon Gubernur Petahana dalam Pilkada DKI Jakarta menjelaskan, fenomena itu memang jelas dan nyata adanya. Menurutnya, tindakan seperti itu bukan merupakan bagian dari Demokrasi. Karena Demokrasi yang dianut Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ialah memilih kepala pemerintahan, bukan kepala agama. Ia juga tidak menampik adanya oknum beragama Nasrani yang juga mengutip ayat kitab sucinya dalam berpolitik, seperti ayat di surat Goliath 6:10 yang isinya, “selama kita masih ada kesempatan, marilah kita berbuat baik bagi semua orang, tapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” (GS)

Be the first to comment on "Bacakan Pembelaan, Ahok: Demokrasi Indonesia Adalah Memilih Kepala Pemerintahan Bukan Kepala Agama"

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*