Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara

Berikut Isi Lengkap Surat Terbuka “Terimakasih Jenderal Tito”

Kapolri, Jenderal Polisi Tito Karnavian

Navigasinews – Beberapa hari terakhir, masyarakat dihebohkan dengan berita aksi heroik kepolisian yang melakukan penggerebekan terorisme yang dikenal dengan gerebek bomb panci.

Hal tersebut bermula setelah Polisi menggrebek sebuah rumah di Bintara Jaya, Bekasi Sabtu (11/12/2016). Rumah tersebut telah diduga sebagai tempat persembunyian terduga teroris.

Selain mengamankan tiga orang terduga teroris, petugas juga menemukan benda bom yang diduga bom berbentuk panci.

(Baca Juga: GEGER!! Gerebek Tersangka Teroris di Bintara Jaya Bekasi, Polri Temukan “Bom Panci” )

Tindakan tersebut menuai respon dari berbagai kalangan masyarakat. Salah satunya berupa surat terbuka dari salah seorang masyarakat mengatas namakan sebagai Arief Luqman el Hakiem.

Surat terbuka tersebut beredar luas di masyarakat setelah berulang kali dibagikan di berbagai media sosial.

Dalam surat tersebut, Arief mengaku sebagai masyarakat pecinta polri, dan mengapresiasi sebesar-besarnya terhadap tindak kepolisian terkait pengungkapan bom panci di bekasi oleh Densus 88.

Berikut isi lengkap surat yang diberi judul “TERIMAKASIH JENDERAL TITO” tersebut:

JAKARTA- (11/12/2016) Beberapa bulan terakhir ini institusi Polri menjadi sorotan dan dijadikan bulan-bulanan bully baik di dunia maya maupun dunia nyata. Jenderal Polisi HM. Tito Karnavian, MA, Ph.D sebagai Kapolri adalah pihak yang selalu tertuduh dan dijadikan kambing hitam dalam setiap persoalan yang menimpa negeri ini.

Semua kesalahan dan sebab kekacauan selalu diarahkan kepada Kapolri, tanpa melihat situasi dan keadaan yang sesungguhnya. Publik benar-benar tertutup logika dan nalar sehatnya. Pihak pembenci sudah ter_setting_ pikirannya, bahwa pihak yang tidak menuruti keinginannya adalah musuh wajib diserang, termasuk institusi Polri.

Ibarat permainan sepak bola, saat ini memang bola ada di tangan Polri. Apapun yang dilakukan Kapolri, apakah mengoper, menggiring atau shooting langsung selalu membawa resiko dan konsekuensi, sementara penonton terus berteriak dan bersorak tidak karuan. Sekali-sekali mungkin para komentator dan provokator perlu berdiri pada posisi pengambil keputusan biar tahu rasanya bekerja dalam tekanan.

Terlepas dari itu semua, institusi Polri dibawah komando Jenderal Tito terbukti mampu membawa bangsa ini keluar dari kemelut dan ancaman perpecahan. Beliau memperlihatkan dirinya layak dan pantas menjadi pemimpin, meski sebelumnya banyak pihak yang mencibir, nyinyir dan meragukan pengalamannya.

Sukses dan damainya Aksi Bela Islam (ABI) jilid 1-3 adalah bukti empirik kesigapan dan kelincahan Jenderal Tito melakukan lobi dan pendekatan kepada setiap elemen bangsa yang terlibat. Disaat tokoh-tokoh nasional mengambil posisi saling berhadap-hadapan dan saling melempar umpan permusuhan, Jenderal Tito justru mengambil langkah berani dengan mengajak dialog ormas FPI (Front Pembela Islam) dan GNPF MUI (Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia) untuk mencari titik temu dan kompromi.

Khusyuk dan khidmatnya Aksi Gelar Sajadah pada ABI 3 yang memecahkan rekor sebagai gelaran Sholat Jumat terbesar dan terbanyak sepanjang sejarah, adalah atas peran penting Jenderal Tito yang berani dan lemah lembut. Kita bisa bayangkan seandainya masing-masing pihak ngotot dan berkeras dengan keputusannya, mau jadi apa bangsa ini.

Jenderal Tito dengan segala pengalaman dan kecerdasannya berhasil mengajak semua elemen yang tergabung GNPF MUI untuk menjadikan Acara Aksi 212 benar-benar Super Damai dan Super Khusyuk, bersih dari provokator, kelompok makar dan kepentingan politik praktis yang selama ini justru merusak perjuangan Umat Islam.

Diamankannya beberapa aktifis yang diduga makar pada dini hari Jumat, (2/12) justru untuk memastikan bahwa Aksi Gelar Sajadah 212 benar-benar murni doa dan ibadah, tidak terkotori oleh kepentingan kelompok yang tidak jelas agendanya. Silakan kelompok yang memiliki agenda lain menyelenggarakan aksi sendiri tapi jangan rusak niat dan keiklasan Umat Islam dalam beribadah, begitu kira-kira pertimbangan Polri.

Terakhir adalah keberhasilan institusi polri, dalan hal ini Densus (Detasemen Khusus) 88 menggerebek gudang bom di daerah Bintara, Bekasi, Jawa Barat. Apresiasi juga patut disematkan kepada Kapolri beserta jajarannya yang dengan sigap berhasil mengungkap rencana jahat sekelompok teroris untuk mengacaukan ibu kota dan negeri ini.

Jika rencana jahat teroris ini tidak digagalkan tentu akan menimbulkan konflik dan kekacauan yang lebih besar. Umat Islam akan kembali tercoreng dan tersudutkan dengan ulah pemeluknya yang jelas-jelas menyimpang.

Umat Islam semestinya berterimakasih kepada Jenderal Tito Karnavian yang berhasil membersihkan Islam dari benalu dan perusak ajaran yang agung dan damai ini. Tuduhan pengalihan isu dan cari panggung adalah komentar bodoh dan tidak bertanggung jawab.

Jika rencana jahat teroris ini dibiarkan hingga berhasil membuat ledakan, barulah publik sadar, dan kembali berkomentar “dimana intelejen polri, masa ada rencana seperti itu sampai tidak diketahui?”.

Memang tidak mudah menjadi polisi, selalu dituduh dan disangka buruk. Namun dibawah kepemimpinan Jenderal Tito Karnavian, institusi Polri berhasil membuktikan diri menjelma menjadi lembaga yang tegas, selalu siaga namun tetap ramah dan humanis. Terimakasih Jenderal Tito…!

Salam Promoter
(Arief Luqman el Hakiem

Bagaimana komentar anda?

Be the first to comment on "Berikut Isi Lengkap Surat Terbuka “Terimakasih Jenderal Tito”"

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*