bnpt 1 photo bnpt 2_zpsit6thrqt.png

TNI dan Polri Berperan Besar Menjaga Persatuan Bangsa

TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo bersama Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian

Oleh : Agra Baskara

Indonesia sedang tidak baik-baik saja jika kita ingin menggambarkannya dengan sederhana. Betapa tidak, gelombang amuk yang begitu besar nyaris menggoyahkan keutuhan bangsa. Hal paling sensitif bagi kalangan ulama dan umaro dikelitik oleh pernyataan kontroversial Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) ujung September silam.

Siapa yang tidak tersentak melihat jumlah massa yang turun ke jalan-jalan protokol Jakarta pada dua aksi bela islam (411 dan 212). Mereka meneriakkan kegundahannya atas perilaku penistaan agama. Wajar, sangat sensitif memang jika telah menyinggung keyakinan agama seseorang. Kebhinnekaan pun diuji dengan beratnya. Bukan hanya itu, Indonesia juga menjadi sorotan dunia, beberapa media asing menjadikan peristiwa tersebut menjadi topik utama.

Dari peristiwa tersebut, aparat keamanan negeri ini pun harus bekerja ekstra demi menjaga keutuhan NKRI. Dengan gigih mereka beroperasi dan berupaya menjaga stabilitas nasional lalu Indonesia pun tetap utuh dan menjadi negara yang bermartabat di mata dunia. TNI dan Polri memiliki peran yang sangat besar dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Selama TNI dan Polri memiliki satu tujuan yang sama, sulit bagi pihak-pihak tertentu melakukan tindakan yang merugikan bangsa.

TNI -Polri merupakan perekat kemajemukan bangsa dalam wadah menjaga keutuhan Bhinneka Tunggal Ika di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Mari kita sejenak mundur ke belakang betapa apiknya upaya yang dilakukan oleh TNI dan Polri dalam mengemban amanah tersebut. Apa yang dipertontonkan dua lembaga negara ini mengajarkan kita betapa indahnya jalinan silaturahmi antar elemen yang ada di dala bangsa ini.

Beberapa hari sebelum mengalirnya aksi 411, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo mengeluarkan berbagai pernyataan heroik yang dimuat di banyak media massa. Salah satunya adalah bahwa dirinya akan bertindak tegas kepada setiap gerakan yang dianggap berpotensi memecah belah persatuan bangsa. Hal tersebut ia tunjukkan dengan menyiapkan ribuan pasukan untuk turut berjaga dan mengamankan aksi 4 november 2016.

Setelah aksi bertajuk bela islam II tersebut, upaya yang sangat persuasif pun digalakkan oleh TNI. Dirinya membangun komunikasi bahkan menggelar do’a bersama dengan berbagai pemuka agama. Bukan hanya dengan tokoh muslim saja, tetapi pemuka agama lainnya pun ia rangkul untuk turut berpartisipasi dalam menjaga keutuhan bangsa.

Begitu juga dengan istitusi Polri. Di bawah kepimimpinan Jenderal (Polisi) Tito Karnavian, berbagai upaya serupa pun digalakkan. Berbagai elemen masyarakat pun disambangi sembari membawa pesan menjaga kebhinnekaan bangsa ini. Mulai dari mahasiswa hingga pemuka agama pun dirangkulnya. Dari dunia nyata hingga dunia maya pun menjadi perhatian Polri dalam menjaga keutuhan bangsa.

Safari dari ormas ke ormas juga dilakukan untuk menguatkan upaya ini. Bahkan dapat kita saksikan bersama, betapa tenangnya beliau mengajak GNPF-MUI untuk merubah konsep aksi 212. Kekuatan berbagai golongan muslim yang coba diwadahi dalam bentuk istigosah akbar pun membawa pesan damai di negeri ini. Namun tetap menunjukkan substansi tuntutan dari gelombang massa tersebut.

Hal yang paling mencemaskan bagi kedua institusi tersebut ialah munculnya penistaan simbol-simbol negara oleh oknum-oknum yang menumpang dalam aksi unjuk rasa umat muslim tersebut. Sebab, jika dibiarkan maka dapat menimbulkan potensi ancaman atas Kebhinnekaan bangsa. Issu Makar pun bergema ke berbagai penjuru negeri.

Tantangan semakin berat bagi keduanya. Baik TNI maupun Polri pun semakin kompak dalam menjaga keutuhan bangsa. Komunikasi yang baik dengan berbagi informasi mengenai potensi retaknya keutuhan bernegara pun sangat terasa oleh anak bangsa. Aksi 212 (bela islam jilid III) pun meriah dan damai bagai umat muslim yang sedang tawaf di Masjidil Haram.

Kendati demikian, TNI dan Polri harus selalu waspada terhadap berbagai upaya pihak yang tidak bertanggungjawab untuk memecah belah bangsa. Tantangan berat ke depan ialah menghalangi upaya tindak radikalisme yang mulai menyentuh hingga aktivitas masyarakat di dunia maya.

Benar bahwa ada perbedaan pokok pada tugas pokok TNI dan Polri. Namun intinya sama, menjaga negeri ini dari ancaman gangguan dari luar maupun dari dalam. Oleh karena soliditas kedua institusi ini, adalah harga mati. Seperti diketahui, ancaman terbesar saat ini adalah proxy war atau perang terselubung antar negara yang menggunakan ‘kaki tangan’ di dalam negeri yang menyusup di segala sendi kehidupan. Tujuannya, memecah persatuan bangsa. Ini yang patut kita waspadai bersama.

Terimakasih TNI dan Polri. Kami mencintai Negeri ini, Indonesia. Tempat lahir kami, tempat dimana merasakan bahagianya dibuai dan dibesarkan bunda, tempat yang damai untuk berlindung di hari tua.

MERDEKA!!!

Eh, Sudah Baca Ini Belum?

Satgas Baintelkam Polri, Berhasil Mengamankan Penyelundup Bibit Lobster Di NTB Navigasinews.com - Satgas Baintelkam Polri, berhasil mengamankan bibit lobster sebanyak 2 ribu 910 e...
Serah Terima Kapolda Sulawesi Barat Berlangsung Harmonis Navigasinews.com - Malam Pengantar Tugas dan Kenal Pamit Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Barat Dar...
Menunggu Respon Penyidik Terhadap Permohonan Penghentian Kasus Habib Rizieq  Navigasinews.com - Surat permohonan penghentian penyidikan perkara alias (SP3) kasus dugaan chat por...
Dua Insiden Di Tubuh TNI, Panglima TNI Meminta Maaf Ke POLRI Navigasinews.com - Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo meminta maaf kepada Polri atas insiden angg...
Polda Aceh : Zulkiram Malas Dinas Jadi Di Pecat Navigasinews.com - Muhammad Zulkiram mengaku resign dari Korps Bhayangkara setelah tujuh tahun berdi...